Ulau (Fosil/Mustika)

Ulau merupakan jimat semacam mustika, pemilikan fosil (Ulau; bugis) dipercaya akan membawa khasiat tertentu. Ulau memiliki banyak macam, tergantung khasiat dan kegunaannya (contoh: Ulau Berre, Ulau Bessi, Ulau Wae, Ulau Attello, dan masih banyak lagi macamnya). Siapapun yang memiliki Ulau Berre (Beras; Bhs Indonesia), maka ia dipastikan tidak akan sulit memperoleh bahan makanan. Sebaliknya sipa yang menyimpan Ulau Bessi (Besi; Indonesia) maka ia kebal atau tidak mempan senjata tajam.

Meski mustika ini cukup mujarab bagi menurut para pemakainya, Ulau juga tetap memiliki pantangan yang tidak boleh dilanngar oleh pemegangnya. Di zaman revolusi fisik, tepatnya pertempuran di Yogyakarta, tersebutlah La Sangka, anggota pasukan Andi Mattalatta selalu lolos dari tembakan Belanda. Suatu ketika pada masa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Malioboro, ia melanggar pantangan, karena belum makan seharian, La Sangka terpaksa mengunyah roti berisi daging babi yang ditinggalkan serdadu Belanda. Akibatnya ia tertembus peluru nyasar dan merenggut nyawanya.

Demikian juga saat perang di Gombong, entah kebetulan atau tidak, La Senrang, seorang anggota pasukan Maulwi Saelan berdiri persis di tengah desingan peluru, padahal tidak sedikit rekan di sebelahnya tewas . dalam suatu pertempuran ia berhasil menembak mati komandan pasukan Belanda yang berpangkat Kapten. Ia sendiri masih hidup dan pulang ke Sulawesi serta pensiun sampai tua di Palopo.

Sumber: Koro Nasaruddin, Ayam Jantan Tanah Daeng, Ajuara, Jakarta, 2006

0 Response to "Ulau (Fosil/Mustika)"

Post a Comment