Andi Abdul Muis Tenridolong, Pemimpin Gerakan Pemuda Tanete



Setelah Andi Abdul Muis Tenridolong menyelesaikan pendidikannya pada sekolah OSVIA di Makassar pada tahun 1937, ia diangkat sebagai Aspirant Inspecteur Politie atau Menteri Polisi di Barru. Selama bertugas di Barru, Andi Abdul Muis selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan perintis kemerdekaan Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII), terutama pimpinan PSII Andi Abdul Kadir, yang merupakan saudara mertuanya. Hal ini menarik untuk disimak karena meskipun Andi Abdul Muis bekerja sebagai pegawai pada pemerintahan kolonial Belanda tetapi ia tidak patuh dan tunduk kepada atasannya dengan penuh kesetiaan dan tidak sampai hati menjadikan bangsanya sebagai objek dari kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda.

Pada masa pendudukan militer Jepang , Andi Abdul Muis berperanan penting bukan saja dalam pembentukan Seinendan dan Boei Taisintai di Kerajaan Citta tetapi juga berperanan aktif dalam mendidik dan menggembleng pemuda-pemuda di Soppeng pada umumnya dan di Citta pada khususnya dalam latihan-latihan di bidang kemiliteran. Meskipun pada mulanya organisasi tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan dukungan secara politis dan militer Jepang dari rakyat atau untuk membantu usaha pertahanan Jepang dalam rangka menghadapi tekanan-tekanan pasukan Sekutu. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa latihan latihan tersebut menjadi modal pengalaman yang sangat penting bagi pemuda-pemuda untuk memperkuat kesatuan-kesatuan kelasykaran dalam rangka perjuangan menegakkan, membela dan mempertahankan kemerdekaan kelak di kemudian hari. Di samping itu, para pemuda diberikan kesempatan pula untuk bergiat dalam organisasi massa dan mengikuti latihan- latihan militer. Sebagian pemuda dilibatkan dalam Heiho (Pasukan Bantuan Tentara Jepang) dan Seinendan (Korps Pemuda).

Untuk menggalang persatuan dan kesatuan dalam suatu wadah perjuangan yang lebih nyata guna menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan maka diadakanlah “Rapat Umum” di sekitar kompleks galangan Kapal Jepang di kampung Matene-PappaE-Padaelo pada tanggal 15 September 1945. Pada rapat umum yang dihadiri oleh semua lapisan sosial di masyarakat tersebut atas kerjasama Andi Abdul Muis dan Abdul Karim serta tokoh-tokoh masyarakat dan pemuda akhirnya berhasil dibentuk Gerakan Pemuda Tanete (GPT). Ketika Abdul Karim ditunjuk sebagai Komandan GPT dan sejak itu organisasi-organisasi perjuangan yang telah dibentuk sebelumnya seperti pasukan penggempur BKR/Barisan Pemuda Tanete dan kepanduan SIAP dari PSII dilebur ke dalam GPT. Untuk memperkuat persenjataan organisasi perjuangan GPT yang telah dibentuk maka dua hari kemudian yaitu pada tanggal 17 September 1945 dengan mempergunakan mobil truk yang dirampas dari Jepang, pemuda-pemuda di bawah pimpinan Abdul Karim melakukan penyerbuan ke tempat tentara Jepang di Pacciro, Takkalasi. Hal ini dilakukan karena mereka mendapat informasi bahwa tentara Jepang di tempat itu mempunyai banyak senjata, pedang samurai, pakaian tentara Jepang dan gula pasir.

Sementara tentara Jepang yang ada di tempat itu sudah mengetahui bahwa mereka kalah perang dan bersiap-siap hendak menyerahkan diri kepada pasukan Sekutu, tidak memberikan reaksi apa-apa dan bahkan membiarkan pemuda-pemuda menyita barang-barang tersebut. Upaya-upaya untuk memperkuat organisasi perjuangan GPT dilakukan tanpa mengenal lelah, baik melalui pengadaan senjata maupun melalui jalinan kerjasama dengan organisasi-organisasi perjuangan di Makassar dan Pare-Pare. Dalam perkembangan selanjutnya, Andi Abdul Muis mengeluarkan instruksi pada tanggal 13 Oktober 1945 agar pasukan GPT melakukan persiapan untuk mencegah aparat NICA dan serdadu KNIL yang membonceng pada pasukan Sekutu masuk ke pedalaman serta persiapan tempat latihan bagi pasukan GPT di Sikapa. Untuk itu, diundanglah pelatih-pelatih tertentu guna melatih pasukan GPT dalam bidang kemiliteran.

Pada pertengahan bulan Oktober 1945, hampir terjadi suatu peristiwa yang tidak diinginkan. Suasana perjuangan dalam menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah Tanete-Barru semakin diliputi mendung setelah terjadi pergantian pimpinan pasukan Sekutu dari Brigjen Iwan Dougherty kepada Brigjen F.O. Chilton pada tanggal 19 Oktober 1945 karena kebijaksanaannya semakin memperkuat posisi NICA. Pada tanggal 20 Oktober 1945 atas desakan para pejabat NICA, Brigjen F.O. Chilton menyetujui pengiriman beberapa batalyon pasukan sekutu untuk menduduki daerah-daerah pedalaman dan memerintahkan pada pasukannya agar membantu NICA dalam memulihkan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di daerah-daerah yang telah diduduki. Kenyataan itulah yang mendorong para pemuda-pemuda melancarkan serangan umum terhadap kota Makassar yang ditujukan kepada semua posisi NICA dan tempat-tempat strategis, seperti stasiun radio, Asrama Polisi NICA, Kantor CONICA, Hotel Empress dan sebagainya pada tanggal 28 dan 29 Oktober 1945. Atas serangan pemuda-pemuda tersebut maka pimpinan pasukan Sekutu Brigjen F.O. Chilton mengeluarkan suatu pengumuman yang sangat merugikan bagi perjuangan dalam menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan.

Setelah serangan umum yang dilancarkan oleh pemuda-pemuda terhadap semua posisi NICA di Makassar dan kemudian disusul dengan dikeluarkannya pengumuman dari pimpinan Sekutu tersebut maka perjuangan dalam menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan di daerah Sulawesi Selatan mulai beralih dari Kota Makassar ke daerah-daerah pedalaman karena pemuda-pemuda yang tidak tertangkap mulai meninggalkan Makassar dan pindah ke daerah-daerah untuk mengobarkan dan membangkitkan semangat rakyat dan pemuda-pemuda serta mengorganisir mereka dalam wadah kekuatan bersenjata untuk menentang dan membinasakan NICA. Salah satu daerah yang menjadi sasaran pemuda-pemuda tersebut adalahTanete-Barru. Kehadiran pemuda-pemuda dari Makassar tersebut mendapat sambutan baik dari Andi Abdul Muis dan para pemuda pejuang dari Tanete-Barru. Pengawasan pihak NICA terhadap Andi Abdul Muis semakin ketat setelah pemuda-pemuda yang terkoordinir dalam organisasi perjuangan Gerakan Pemuda Tanete (GPT) melakukan aksi-aksi penghadangan di perbatasan Butung dan Mandalle, pengrusakan Jembatan BottoE, pengrusakan kawat telepon, penebangan pohon di pinggir jalan dan pertempuran-pertempuran dengan pasukan NICA. Namun untuk menangkap Andi Abdul Muis tidaklah mudah.

Dari berbagai upaya yang dilakukan terhadap Andi Abdul Muis agar bersedia untuk bekerjasama dengan Belanda dan NICA selalu mengalami kegagalan sehingga pihak Belanda memutuskan untuk menangkapnya. Akhirnya pada bulan Maret 1947, Andi Abdul Muis ditangkap oleh serdadu Belanda, dibawa ke parepare untuk di pertontonkan kemudian dibunuh, sampai sekarang tidak diketahui keberadaan makamnya.

Sumber:
Nasaruddin Koro, Ayam Jantan Tanah Daeng, 2006, Jakarta, Ajuara
www.laboratoriumsejarah.com/success/