Dari Berru Hingga ke Barru



Di mana pun di Indonesia ini, bahkan di dunia, pemberian nama negara, kota, daerah, tempat, atau jalan selalu memiliki alasan historisnya tersendiri, dan menarik jika itu ditelusuri untuk memperkaya khazanah budaya dan pengetahuan publik. Salah satu daerah di Indonesia yang menarik untuk ditelusuri asal-muasal penamaannya ialah Kabupaten Barru. Kabupaten Barru adalah salah satu daerah tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan.

Menurut lontara Attoriolong kerajaan Berru yang diceriterakan dalam buku Sejarah Singkat Kerajaan di Sulawesi Selatan yang ditulis oleh Rimba Alam Andi Pangerang, sebelum berdirinya Kerajaan Berru (Barru), wilayah tersebut bernama Ajjarengnge kemudian dirintis pertama kali oleh Puang Ri Bulu Puang Ri Cempa. Wilayah tersebut banyak ditumbuhi sejenis pohon kayu yang dinamai Aju Berru.

Aju Berru ini mempunyai banyak manfaat, antara lain sebagai bahan untuk membangun rumah tetapi tidak boleh dijadikan dapara (lantai rumah panggung), tidak boleh diinjak-injak karena Aju Berru juga berguna untuk pengobatan bagi orang sakit. Selain itu di Ajjarengnge terdapat pula sebuah pusaka dari Batara Guru berupa sumur bertuah yang bernama Bujung Waranie dan mengandung air Dewata, menurut kepercayaan masyarakat, air sumur itu dapat membawa keberuntungan seperti memiliki keberanian dan kecerdasan. Pada mulanya air tersebut berada di Kerajaan Luwu namun tiba-tiba menghilang dan berpindah ke sekitar Ajjarengnge. Beberapa waktu kemudian datanglah seorang bangsawan dari Kerajaan Luwu yang bernama Laware Malluajeng bersama rombongannya untuk mencari sumur yang airnya dianggap bertuah itu. Disitulah putra bangasawan Luwu itu menemukan sumur bertuah sekaligus memperistrikan seorang putri setempat dan tinggal di Ajjarengnge.

Pada mulanya masyarakat Ajjarengnge hanya memakan sagu dan rumpia sebagai makanan pokok hingga datang seorang putra dari Manurungnge ri Jangang-jangangnge yang bernama Lasarewo membuka hutan belantara yang penuh pohon rumbia untuk dijadikan lahan pemukiman dan perkebunan, wilayah tersebut kemudian dikenal sebagai La Rumpia yang menjadi sawah. Karena kemampuannya membuka lahan pertanian/perkebunan, Lasarewo kemudian dilantik menjadi raja di atas sebuah batu yang masyarakat menyebutnya Batu Allantireng, di sebelah batu tersebut terdapat pohon Aju Berru yang kemudian digunakan sebagai nama Kerajaan Berru dan Lasarewo sebagai raja pertamanya.

Selain keberadaan Kerajaan Berru, di sekitarnya terdapat pula kerajaan lain yang berdampingan seperti Kerajaan Tanete, Kerajaan Soppeng Riaja dan Kerajaan Nepo (Mallusetasi). Ketika pengaruh kolonial Blanda mulai masuk dan mendominasi seluruh kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, keempat kerajaan ini kemudian berstatus sebagai Zelfbestuur (hak otonom yang diberikan oleh Belanda kepada wilayah jajahannya) yang tergabung dalam Onderafdeling Barru (suatu wilayah administratif setingkat kawedanan/berada di atas Zelfbestuur pada masa kolonial). Sementara Onderafdeling Barru tergabung dalam Afdeling Parepare (wilayah administratif di atas Onderafdeling).

Pada awal kemerdekaan Indonesia, keempat kerajaan yang sebelumnya berstatus sebagai Selfbestuur pada masa kolonial Belanda berganti menjadi Swapraja. Kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi Selatan, pada tanggal 24 Februari 1960, dibentuklah Daerah Tingkat II Kabupaten Barru dengan ibukota Barru, yang wilayahnya meliputi seluruh bekas Onderafdeling Barru.

Oleh orang Belanda yang mendengar kata Berru kemudian mencoba menulisnya, maka yang tertulis adalah Barroe. Bagi masyarakat Barru sendiri masih menggunakan kata Berru dalam bahasa sehari-hari untuk menyebut Kabupaten Barru ataupun Kecamatan Barru, sama halnya ketika menyebut Kota Makassar masih menggunakan nama Ujung Pandang ataupun Juppandang.

0 Response to "Dari Berru Hingga ke Barru"

Post a Comment