Arti Penting Payung Sebagai Simbol Kerajaan di Barru



Ketika melewati pusat Kota Barru, maka akan terlihat di tengah jalan sebuah bangunan berwarna putih yang berdiri menjulang ditengah perempatan jalan, bagi masyarakat yang sering melintas di Kota Barru pasti sudah tidak asing lagi dengan bagunan kokoh ini, inilah Tugu Payung Kabupaten Barru, tugu ini seolah-olah mengawasi dan memperhatikan segala aktivitas di sekitarnya, di atasnya terdapat simbol empat payung yang sedang tertutup berwarna keemasan. Ya, tugu ini memang sudah berdiri sejak lama, tugu ini sudah menjadi saks bisu perjalanan panjang Kabupaten Barru.

Di kalangan beberapa masyarakat, sering timbul pertanyaan, mengapa mesti payung? Mengapa jumlahnya empat? Mengapa payungnya tertutup? Sekilas itulah beberapa pertanyaan yang sering dipikirkan atau diucapkan orang dari luar Barru kepada masyarakat Barru itu sendiri.

Dalam budaya kerajaan Jawa, payung dikenal sebagai 'songsong'. Lingkungan priayi menobatkan payung sebagai penanda seberapa tinggi jabatan mereka dalam struktur pemerintahan sehingga penggunaannya pun diatur.

Sementara di Sulawesi pada masa feodal, payung juga memiliki makna yang hampir sama di kerajaan Jawa. Beberapa kerajaan di Sulawesi menjadikan payung sebagai simbol kerajaan, salah satunya adalah Kerajaan Luwu, simbol kerajaan luwu sendiri berupa payung berwarna putih, bahkan beberapa penguasa atau raja Luwu digelari 'Pajung' yang secara harfiah memiliki makna payung dalam bahasa Bugis.

Beberapa kerajaan lain yang pernah menjadikan payung sebagai simbol kerajaan adalah beberapa deretan kerajaan yang kini sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Barru, kerajaan tersebut antara lain Kerajaan Tanete, Berru, Soppeng Riaja, dan Mallusetasi.

Selain menggunakan payung sebagai simbol, kerajaan-kerajaan ini juga memiliki beberapa benda yang dijadikan pusaka atau simbol kerajaan seperti Sembangeng (selempang kerajaan), Beberapa benda pusaka (arajang; Bugis, kalompoang; Makassar), dan ada pula bendera kerajaan. Bendera kerajaan Tanete disebut Bate Bolongnge, dan bendera kerajaan Berru disebut Bate Lasarewo.

Penggunaan payung sebagai atribut kerajaan di Barru memang sangat penting, hanya raja atau bangsawan lah yang berhak dipayungi, payung ini menjadi pembeda antara Ata (masyarakat biasa) dengan Arung (raja atau bangsawan). Di setiap singgasana raja selalu terdapat payung, ketika raja berkunjung ke suatu tempat juga selalu diiringi oleh si pembawa payung. Pada beberapa foto pembesar kerajaan-kerajaan di Barru berikut ini selalu membawa payung sebagai simbol kerajaan.

Ratu We Tenriolle bersama para abdi kerajaan. Foto: Collectie Tropenmuseum
Ratu We Tenriolle bersama para anggota kerajaan. Foto: Collectie Tropenmuseum
Ratu We Tenriolle bersama anggota keluarga. Foto: flickr.com
Ratu We Tenriolle ketika bertemu Gubernur Celebes di Makassar. Foto: flickr.com
Para anggota Kerajaan Berru

Pada zaman revolusi, payung tidak lagi dianggap sebagai lambang kebangsawanan. Kaum bangsawan harus disamakan stratanya dengan rakyat. Hingga pada tahun 1960 akhirnya kerajaan-kerajaan yang ada di Barru dihapuskan kemudian dibentuklah Kabupaten Barru yang wilayahnya meliputi seluruh bekas wilayah empat kerajaan sebelumnnya.

Sebuah tugu dengan lambang empat payung tertutup dibangun di pusat kota Barru, empat payung yang tertutup itu memiliki makna empat kerajaan yang pernah berdiri di Kabupaten Barru. Selain di tugu pusat kota, lambang empat payung juga terdapat pada logo Kabupaten Barru.

2 Responses to "Arti Penting Payung Sebagai Simbol Kerajaan di Barru"

  1. Wow, baru tau saya..
    Informasinya sangat bermanfaat..

    ReplyDelete