Ketika Arung Palakka Bersembunyi di Tanete

Tidak tahan melihat rakyatnya yang ditahan dan dipekerja paksakan di Gowa membuat Arung Palakka bertekat untuk membebaskan orang-orang Bone dan Soppeng untuk lepas dari kekuasaan Gowa. Langkah pertama yang dilakukannya yaitu membebaskan seluruh orang-orang Bone dan Soppeng yang ditahan. Perbuatannya ini membuat kerajaan Gowa sangat marah dan memburu Arung Palakka.
Cornelis Janzon Speelman (sudut kiri atas) dan Arung Palakka (sudut kanan atas) pada lukisan perang Makassar (1666-1667).
Bersama dengan tujuh orang pengawalnya, Arung Palakka melarikan diri ke Tanete, perahu yang mereka tumpangi diikuti terus oleh Karaeng Gowa (dalam buku Sejarah Kerajaan Tanete yang dialih bahasakan oleh Basrah Gising, tidak dijelaskan secara pasti apakah Karaeng Gowa yang dimaksud adalah Sultan Hasanuddin). Ia cepat-cepat menghadap kepada raja Tanete yang saat itu diperintah oleh Matinroe ri Bulianna, Arung Palakka kemudian menceriakan perbuatannya sehingga Karaeng Gowa marah dan ingin membunuhnya. Setelah itu raja Tanete kemudian menyuruh orangnya untuk membawa rombongan Arung Palakka untuk bersembunyi di sebuah celah-celah batu karang.

Belum lama setelah Arung Palakka dibawa bersembunyi, datang pula rombongan Karaeng Gowa ke Pancana, Tanete. Karaeng Gowa kemudian bertanya kepada Raja Tanete perihal keberadaan Arung Palakka, Raja Tanete kemudian menjelaskan bawahwa Arung Palakka hanya singgah sebentar kemudian langsung berangkat lagi karena sedang dalam keadaan tetgesa-gesa. Karaeng Gowa kemudian menceritakan perbuatan Arung Palakka kepada Raja Tanete.

Karaeng Gowa kemudian menginap di Lisu, sementara Arung Palakka terus dicari keberadaannya. Banyak pasukan Gowa yang dikerahkan untuk mencarinya namun tidak kunjung ditemukan karena Arung Palakka disembunyikan di Maruala. Kemudian salah seorang yang bergelar Pabbicara Topassere melaporkan kepada raja Tanete bahwa kemungkinan Arung Palakka bersembunyi di Maruala, raja Tanete kemudian melaporkannya kepada Karaeng Gowa, selanjutnya Karaeng Gowa memerintahkan untuk menjaga tempat itu dan baru akan dikepung esok harinya karena telah larut malam.

Pada saat tengah malam, sebelum digempur keesokan harinya, tiba-tiba terjadi badai, angin kencang dan hujan turun dengan derasnya, akhirnya Arung Palakka bisa keluar dan melarikan diri dari pengepungan itu tanpa disadari oleh pasukan yang mengepungnya, hanya telapak kakinya saja yang didapati oleh pasukan pengepung.

Salah seorang anggota kerajaan Tanete, Arung Botto, yang juga ikut mengepung merasa sangat bersalah karena telah membiarkan Arung Palakka meloloskan diri. Arung Botto kemudian melapor kepada Karaeng Gowa bahwa Arung Palakka telah meloloskan diri, Arung Botto juga siap menerima hukuman dari Karaeng Gowa karena ia merasa telah gagal mencegah Arung Palakka meloloskan diri, namun Karaeng Gowa mengampuninya. (Basrah Gising, Sejarah Kerajaan Tanete).

Sementara itu, Arung Palakka yang berhasil lolos dari pengepungan di Maruala akhirnya tiba di Uwaempelleng. Di tempat ini paman Arung Palakka, Babae, mendesak kemanakannya untuk segera ke Umpungeng sementara dia dan keenam orang lainnya akan memperlambat pengejaran pasukan Gowa. Ketujuh orang itu, termasuk ayah angkat Arung Palakka, Patarana, sepakat mengorbankan hidup agar Arung Palakka cukup punya waktu mencapai tempat yang aman di Umpungeng.

Pengorbanan semacam itu merupakan bentuk tertinggi dari pesse terhadap seorang kawan atau kerabat. Dalam sebuah penghormatan perpisahan untuk menunjukkan kesetiaan mereka kepada Arung Palakka, salah seorang melakukan upacara aru/mangngaru atau sumpah kesetiaan.

Setelah berkelit dengan pengejarannya hingga ke Umpungeng, Arung Palakka melanjutkan perjalanannya dan mendatangi Datu Soppeng La Tenribali untuk mengabari keputusannya meninggalkan Sulawesi. La Tenribali kemudian memberikan bekal perjalanan berupa emas kepada Arung Palakka, lalu berangkat menuju Palakka, berikutnya menyeberang ke Buton, selanjutnya berlayar ke Batavia bertemu dengan VOC atau Belanda. (Leonard Y Andaya, Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17).

Di Batavia, Arung Palakka meminta bantuan kepada VOC untuk menyerang Kerajaan Gowa. Permintaan tersebut disetujui, Arung Palakk bersama VOC berangkat ke Sulawesi untuk menyerang Kerajaan Gowa, terjadilah Perang Makassar (1666-1667), pada perang tersebut, Kerajaan Gowa di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin kalah dan harus menandatangani Perjanjian Bungaya yang sanagat merugikan Kerajaan Gowa.