Sederet Gelar Arung Palakka



Nama aslinya La Tenritatta yang memiliki arti sebagai orang yang tidak dapat dibatasi/dilampaui kemampuannya, ada juga yang memaknainya sebagai orang yang tidak dapat ditebas (kebal senjata tajam), tetapi menurut La Side Daeng Tapala berpendapat bahwa La Tenritatta berarti orang yang tidak bisa diatur/ditata (bertindak atas kehendak sendiri).

Gelar To Appatunru atau To Unru yang berarti sang penakluk, sejak kecil selalu mampu menaklukkan dan menundukkan orang lain. Gelar lain yang dimilikinya yaitu Daeng Serang sebagai gelar bangsawan tinggi yang telah menginjak masa dewasa, diberikan oleh Karaeng Pattingalloang, Mangkubumi kerajaan Gowa yang mendidik dan mengangkatnya sebagai anak asuh sejak berusia 11 tahun.

Lalu gelar Arung Palakka yang berarti Raja Palakka warisan dari kakeknya, gelar ini dianugerahkan ketika ia berhasil memimpin orang-orang Bone dan Soppeng melarikan diri dari Gowa menuju Batavia.

Kemudian gelar Petta Malampe'e Gemme'na yang memiliki makna Tuan yang berambut panjang, adalah gelar ketia ia mewujudkan sumpahnya, tidak akan memangkas rambutnya sebelum membebaskan negeri leluhurnya Soppeng dan Bone dari kekuasaan Gowa. Beberapa tahun kemudian setelah menang ia memotong rambutnya, sumpah dan nazar ini ia ucapkan ketika berlayar meninggalkan Bone menuju Buton.

Gelar Petta To Risompae yang artinya raja yang disembah dan dituruti titahnya, gelar ini sebagai wujud dari kekaguman terhadap karisma yang dimilikinya dan kemampuan yang serba istimewa. Berikutnya gelar Datu Tungkena Tana Sempugi yang berarti raja tunggal Tanah Bugis sebagai tanda keberhasilannya menyatukan seluruh Dinasti Bugis bahkan seluruh kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

Selebihnya Andi Mattalatta memandang Arung Palakka bergelar Datu'na Madurae yang berarti Raja orang Madura. Warga Madura yang telah beranak pinak dan telah setengah abad bermukim di Makassar mengaggap Arung Palakka adalah tokoh yang sangat mereka hormati, pernyataan ini merujuk pada hubungan Karaeng Galesong dan Trunojoyo (Trunajaya).

Arung Palakka diangap sebagai salah satu tokoh yang sangat berperang dalam episode Perang Makassar (1666-1667), sebagaimana dikisahkan dalam buku The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeen Century (Leiden 1982) oleh Leonard Y Andaya.

Arung Palakka membebaskan negerinya dari dominasi Gowa dengan segala ramifikasinya. Karena terdesak ia mau bekerjasama dengan Belanda untuk mencapai tujuannya. Cita-citanya tercapai dan berhasil mengintegrasikan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Namun sebenarnya dalam diri Arung Palakka terbetik bahwa berkongsi dengan Belanda tidak diperlukan.

Tetapi masyarakat umum terlanjur memvonis Arung Palakka sebagai seorang penghianat terutama yang melihat Indonesia sebagai negara kesatuan, tanpa menimbang Indonesia sebagai sebuah bangsa yang baru lahir belakangan.

0 Response to "Sederet Gelar Arung Palakka"

Post a Comment