Pasang Surut Perlawanan La Patau

La Patau adalah sosok raja Tanete yang tidak mengenal kompromi dengan penjajah. Baginya, tidak ada tempat bagi kolonialisme untuk bercokol di negerinya. Karena itu, La Patau termasuk raja yang paling diincar dan diwaspadai oleh pemerintah kolonial, terutama Belanda.
Pasukan Belanda.
Kedatangan Belanda di Sulawesi Selatan merupakan permulaan dari serangkaian peperangan antara La Patau dengan Penguasa koloniak. Sengketa pertama timbul ketika La Patau menolak panggilan penguasa Belanda yang baru agar berkunjung ke Makassar. Di antara raja-raja yang menolak Perjanjian Ujung Pandang adalah La Patau, di samping raja Bone dan raja Suppa. Belanda segera mengirimkan ekspedisinya untuk memerangi raja-raja yang menentang Belanda.

Untuk itu pada tanggal 5 Juli 1824 Gubernur Jenderal Belanda mengeluarkan perintah untuk mempersiapkan ekspedisi menaklukkan Tanete. Adapun yang diberi kepercayaan memimpin ekspedisi itu adalah Letnan Kolonel H. de Stuers. Ekspedisi terdiri dari pasukan angkatan darat dan angkatan laut ditambah dengan bantuan pasukan dari raja-raja yang sudah memihak kepada Belanda. Angkatan laut yang dipimpin oleh kapten Letnan Ter zee Buys, terdiri dari empat buah kapal kecil, sebuah korvet, dua buah kapal meriam, dan sebuah kapal berkas serta lima puluh buah perahu yang penuh pasukan bantuan Kerajaan Gowa dan Sidenreng.

Sebelum pertempuran dimulai, lebih dahulu Belanda menyampaikan ultimatum kepada raja Tanete La Patau agar menghindari pertempuran dengan syarat harus membayar denda di samping harus menyerahkan empat orang keluarga raja sebagai sandera. Apabila raja Tanete tidak memenuhi tuntutan itu, Tanete akan diserang dan ditaklukkan. Tetapi kalau raja Tanete menyetujui syarat yang diajukan oleh Belanda, maka sebagian pasukan Belanda akan ditempatkan di Tanete sebagai tentara pendudukan.

Raja Tanete La Patau tidak mau menerima syarat-syarat yang diajukan oleh Belanda itu. Oleh karena itu Belanda mendaratkan pasukannya dan menyerang benteng Kerajaan Tanete. Pasukan Belanda mendarat di sebuah tempat di dekat Kampung Ance, karena tempat ini merupakan tempat yang lemah pertahanannya. Pada tanggal 16 Juli 1824 Angkatan Laut Belanda mulai menembakkan peluruhnya terhadap benteng Kerajaan Tanete yang terletak di pinggir pantai. Pasukan Tanete membalas dengan meriam pula dari Benteng Pancana.

Keesokan harinya pendaratan pasukan Belanda didahului dengan tembakan meriam. Tanete mempertahankan diri dengan perlawanan yang seru. Kedua belah pihak menderita kerugian yang tidak sedikit, di pihak Belanda gugur Letnan Burger dan beberapa orang prajurit lainnya. Berkat persenjataan yang lebih unggul, Belanda dapat menaklukkan Tanete.

Serbuan Belanda ke Tanete menyebabkan La Patau mengundurkan diri ke gunung. Sebelumnya ia telah menyerahkan kekuasaan kepada saudaranya yang bernama Daeng Tennisanga. Pada tanggal 22 Juli 1824, pasukan Belanda menyerang Sigeri, Pangkajene dan Labakkang. Daerah tersebut pernah direbut oleh La Patau dari tangan Belanda. Letnan Kolonel H. de Stures dinaikkan pangkatnya menjadi Kolonel karena jasa-jasanya yang gilang gemilang dalam menaklukkan Tanete dan daerah sekitarnya.

Sesudah menaklukkan Tanete, Belanda mengirimkan ekspedisinya ke Suppa. Sebelum mengirim ekspedisi itu, Belanda terlebih dahulu mendirikan pos penjagaan dan benteng di daerah Pancana, Sigeri dan Mandalle. Ekspedisi Belanda yang menyerang Suppa membawa hasil. Kekalahan Belanda di Suppa menambah semangat pasukan Bone yang ada di Lamuru untuk menyerang pos Belanda di daerah Maros dan Pangkajene.

Raja La Patau kembali ke Tanete, kemudian memimpin pasukannya menyerang pos Belanda yang ada di Tanete yang dipimpin oleh Letnan Ulps. Daeng Tenisanga menyingkir ke Makassar. Beberapa tahun kemudian, atas permintaannya sendiri, La Patau diangkat kembali menjadi raja (arung matoa, raja yang dituakan) di Tanete, sedangkan Daeng Tenisanga diangkat sebagai raja muda (arung malolo).  Jabatan sebagai arung matoa dan arung malolo merupakan sesuatu yang baru pertama kali diadakan di Tanete.

Pada tahun 1826, La Patau bersama dengan raja–raja lainnya seperti raja Berru, Sawitto dan Alitta mulai lagi mengangkat senjata. Kolonel Bischoff bertindak menindas perlawanan tersebut dengan mengirimkan pasukan yang diperlengkapi dengan senjata berat di bawah pimpinan Mayor Coehoorn van Howerda. Pasukan itu dibantu pula dengan angkatan laut dan pasukan dari raja Sidenreng, Maros dan Pangkajene. Dari pihak sipil ikut serta Residen Maiyor dan Mesman sebagai komisaris pemerintah Hindia Belanda. Pertempuran kembali terjadi dengan hebatnya, namun pasukan Belanda akhirnya berhasil menaklukkan pasukan Tanete.

Sengketa baru dengan Belanda timbul lagi ketika La Patau dituduh melindungi sepupunya yang bernama Ambarala yang menentang Belanda. Untuk kedua kalinya La Patau turun takhta dan untuk kedua kalinya pula Daeng Tenisanga diserahkan kekuasaan pemerintahan di Tanete. Usaha untuk membujuk La Patau agar menghentikan perlawanan tidak berhasil. Oleh karena itu, ia meninggalkan Tanete, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dimana ia mempunyai keluarga.

Suasana kekosongan pemerintahan semacam itu dengan sendirinya menimbulkan kekacauan di kalangan rakyat Tanete. Mungkin inilah masa yang paling kacau dalam sejarah Tanete. Banyak rakyat Tanete yang meninggalkan Tanete, pindah ke negeri lain yang lebih aman.

Dalam tahun 1827, La Patau, sekali lagi meminta pada pemerintah Belanda agar diperkenangkan kembali sebagai raja di Tanete. Kali ini pun, permintaannya diterima tetapi dengan kedudukan yang berbeda. Ia hanya diangkat sebagai leenvorst (raja pinjaman) di Tanete. Kedudukan sebagai leenvorst menandai kedudukan para penguasa Tanete selanjutnya.

Pengangkatan La Patau sebagai leenvorst merupakan salah satu tonggak sejarah yang penting dalam sejarah hubungan Tanete-Belanda. Campur tangan Belanda secara lansung dalam proses pergantian penguasa di Tanete makin jauh. Sejak itulah para penguasa di Tanete diangkat dan diberhentikan dengan surat kepetusan Gubernur Celebes dan daerah takluknya dengan pengukuhan dari Gubernur Jenderal.

Bentrokan terakhir dengan Belanda terjadi beberapa tahun kemudian, ketika La Patau tidak bersedia ke Makassar untuk mempertanggung jawabkan tindakan putranya Daeng Pulagu yang merusak kantor pemerintah Hindia Belanda di Sigeri. Atas persetujuan Arungpone dan raja Gowa, pemerintah Hindia Belanda mengangkat La Rumpang Megga, raja Mario Riwawo dan dulung Lamuru untuk menjadi raja di Tanete sekaligus menghukum La Patau.