Benteng Somba Opu, Pertahanan Terakhir Kesultanan Gowa

Jauh dari pusat Kota Makassar yang ramai, sebuah kompleks reruntuhan benteng bersembunyi dibalik rimbunnya pepohonan, suara desiran dedaunan dari tiupan angin memecah kesunyian di kompleks benteng itu, beberapa bagian benteng masih berdiri kokoh seolah-olah mempertegas bahwa dirinya telah melewati berbagai zaman, inilah sisa-sisa Benteng Somba Opu yang menjadi benteng utama Kesultanan Gowa di masa lalu, di mana Istana kesultanan Gowa berdiri dan raja-raja Gowa berdiam.
Lukisan suasana Kota Makassar pada abad ke-17, nampak Benteng Somba Opu yang diapit oleh muara Sungai Je'ne' Berang, serta pemandangan kapal-kapal niaga dari berbagai bangsa.
Setelah perang Makassar antara Kesultanan Gowa dan Belanda yang dibantu oleh pasukan Bone berakhir, ditandai dengan dicapainya suatu kesepakatan antara Raja Gowa Sultan Hasanuddin dengan Cornelis Janzon Speelman dari kubu VOC (Belanda), kesepakatan itu dikenal dengan nama Perjanjian Bungaya, isi perjanjian itu sangat merugikan kerajaan Gowa. Salah satu point dalam isi perjanjian tersebut ialah kesultanan Gowa harus membongkar seluruh benteng pertahanannya dan hanya boleh menyisahkan Benteng Somba Opu untuk Sultan Hasanuddin, sementara satu benteng lagi harus diserahkan kepada Belanda. Benteng yang diserahkan kepada Belanda itu adalah benteng Pannyua, setelah benteng ini diambil alih oleh Belanda, namanya diubah menjadi Benteng (Fort) Rotterdam, sesuai nama kota kelahiran dari Speelman.

Berakhirnya perang Makassar bukan berarti konflik antara Kesultanan Gowa dengan Belanda berakhir, beberapa kelompok pasukan Gowa yang menolak menyerah masih terus melakukan perlawanan terhadap Belanda di Makassar. Karea masih seringnya terjadi perlawanan terhadap Belanda, Speelman berencana untuk benar-benar memusnahkan seluru kekuatan pasukan Makassar. Hal yang direncanakan Speelman yaitu menyerang pertahanan terakhir Kesultanan Gowa di benteng Somba Opu, di mana Istana Kesultanan Gowa dan Sultan Hasanuddin berada.
Lukisa Perang Makassar (1666-1667). Nampak Potret Cornelis Janzon Speelman (sudut kiri atas) dan Arung Palakka (sudut kanan atas).
Speelman melakukan blokade di sepanjang perairan Makassar dengan tenaga-tenaga bantuan yang didatangkan dari Batavia. Kapal-kapal Belanda terus melakukan patroli. Sementara itu, pasukan Arug Palakka yang berdiam di luar benteng Rotterdam memusnahkan sawah-sawah dan ladang-ladang. Pasokan makanan ke dalam Benteng Somba Opu menjadi sangat berkurang.

Di kubu Belanda, bala bantuan dari Batavia terus bertambah. Speelman membangun parit-parit perlindungan untuk mengepung benteng Somba Opu, Speelman juga membuat meriam-meriam yang berukuran besar kemudian mengarahkannya ke Benteng Somba Opu. Tindakan itu menimbulkan kepanikan di kota dalam benteng Somba Opu.

Penggalian parit-parit terus berjalan sampai bulan Juni dan sudah mendekati Somba Opu. Pada tanggal 15 Juni 1669, Speelman mulai melancarkan serangan terhadap Somba Opu. Sementara pasukan pertahanan Somba Opu menyambut serangan itu dengan perlawanan yang sengit. Pertempuran hari pertama berlangsung 24 jam terus menerus. Serdadu-serdadu belnda menembakkan sekitar 30.000 peluru. Pasukan Belanda mengalami kerugian sebanyak 50 orang serdadu tewas dan 68 orang luka parah, meski demikian pasukan Belanda berhasil menduduki pertahanan pertama pasukan Gowa yang membuka jalan menuju benteng Somba Opu.

Hari berikutnya, pertempuran berjalan terus. Tiga hari kemudian, pasukan Belanda yang dibantu oleh Pasukan Ambon berhasil mencapai benteng dan menancapkan bendera perang Speelman di atas dinding benteng somba Opu yang tebalnya 12 kaki itu. Tetapi di dalam Benteng Somba Opu sendiri masih memiliki banyak terdapat kubu-kubu perlawanan dan rumah-rumah yang dipersenjatai. Pasukan belanda kemudian menyerbu masuk benteng dan terjadi pertempuran jarak dekat, perkelahian orang dengan orang berhadap-hadapan satu demi satu berlangsung dengan sengitnya.
Lukisan suasana di dalam Benteng Somba Opu.
Setapak demi setapak tanah dalam benteng Somba Opu dipertahanan oleh pasukan Makassar sampai pada tetes darah terakhir. Tetapi prajurit-prajurit Makassar yang bertahan bertarung habis-habisan satu per satu mulai berguguran karena kalah persenjataan dari pasukan penyerang.

Akhirnya setelah perang habis-habisan selama 10 hari siang dan malam, pada tanggal 24 Juni 1669 seluruh benteng Somba Opu dikuasai oleh Belanda dan merampas 270 pucuk meriam besar dan kecil, termasuk meriam keramat “Anak Makassar” yang merupakan meriam raksasa milik Gowa. Benteng dan istana Somba Opu kemudian diratakan dengan Tanah, beribu bahan peledak menghancurkan benteng dan istana, membuat udara menjadi merah dan tanah bergetar. Mayat-mayat bergelimpangan hangus bersama ledakan mesiu dan api yang menjilat kian kemari.

Pertahanan kerajaan Gowa yang satu-satunya masih tersisa ialah benteng Kale Gowa. Speelman tidak berani melanjutkan serangan ke Kale Gowa karena kekurangan kekuatan. Sementara itu, setelah benteng Somba Opu diratakan dengan tanah, Sultan Hasanuddin masih sempat mengundurkan diri ke benteng Kale Gowa. Sebagian alat-alat pertahanan yang dapat diselamatkan dari benteng Somba Opu dipusatkan penempatannya di Benteng Kale Gowa.