Melihat Sulawesi Selatan di Masa Lalu Lewat Litografi

Litografi adalah sebuah metode percetakan di atas permukaan yang licin. Secara etimologi, Litografi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata lithos yang berarti batu dan graphein yang berarti gambar, meskipun memiliki makna etimologi gambar yang dibuat di atas permukaan batu, namun bahannya tidak terbatas pada batu saja, biasanya digambarkan di atas plat logam.

Pada abad ke-19, litografi sangat populer untuk menggambarkan sebuah obyek nyata sebagai pengganti kamera yang belum ada pada masa itu. Sementara orang yang ahli dalam membuat litografi disebut perupa, beberapa orang yang ahli membuat litografi cukup banyak, salah satunya yang paling terkenal yaitu Josias Cornelis Rappard dari Belanda.

Josias Cornelis Rappard lahir di Nijmegen, Belanda, pada tanggal 24 April 1824 dan meninggal di Leiden, Belanda tanggal 17 Mei 1898 pada umur 74 tahun. Ia adalah seorang kolonel infanteri KNIL (tentara kerajaan Hindia Belanda).

Antara tahun 1882 dan 1889, selama tugasnya di Hindia Belanda, Rappard sempat membuat puluhan lukisan yang menggambarkan orang, kehidupan dan alam Indonesia di akhir abad ke-19. Sementara di Sulawesi Selatan, Josias Cornelis Rappard sempat membuat beberapa lukisan litografi dari tempat-tempat terkenal dalam rentang tahun 1883-1889.

Beberapa foto ini merupakan koleksi dari Tropen Museum atau Museum Antropologi Belanda. Berikut beberapa litografi yang dikumpulkan dari laman commons.wikimedia.org (Wikimedia Commons).

1. Pemakaman Bontoala
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_begraafplaats_in_Bontowala_TMnr_3728-859.jpg
Litografi dari suatu makam di Bontoala (sekarang Bontoala merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kota Makassar). Pada abad ke-17, Bontoala masih didominasi oleh hutan, bahkan nama Bontoala sendiri berasal dari kata ala dalam Bahasa Makassar yang berarti hutan. Di tempat ini pula istana Raja Bone yang bernama Arung Palakka pernah berdiri.

2. Benteng Rotterdam
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_fort_Rotterdam_in_Makassar_TMnr_3728-858.jpg
Benteng ini dibangun oleh Kesultanan Gowa, pada awalnya benteng ini bernama Benteng Ujung Pandang, ada pula yang menyebutnya Benteng Pannyua (penyu) karena bentuknya mirip seekor penyu yang sedang merangkak menuju laut. Ketika terjadi Perang Makassar (1666-1667) antara Kesultanan Gowa melawan VOC (Belanda), benteng ini kemudian diambil alih oleh Belanda dan diubah namanya menjadi Fort Rotterdam.

3. Pelabuhan di Makassar
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_kade_van_Makassar_TMnr_3728-862.jpg
Pada awal abad ke-17, Kota Makassar berkembang pesat menjadi salah satu kota perdagangan terkemuka di wilayah Timur Nusantara. Letaknya yang strategis menjadikan kota Makassar sebagai pusat transit dan pintu gerbang menuju ke kepulauan Rempah-Rempah (Maluku), kapal-kapal niaga dari berbagai bangsa banyak yang berlabuh di perairan Mkassar.

4. Air Terjun Bantimurung
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_waterval_bij_Maros_TMnr_3728-860.jpg
Pegunungan kars di daerah Maros meruakan gugusan kars terluas kedua di dunia setelah pegunungan kars di China. Panorama alam di tempat ini merupakan salah satu tempat terindah di dunia, keberadaan Air Terjun Bantimurung juga menambah keindahan tempat ini. Selain memiliki formasi pegunungan yang indah, pegunungan kars ini juga penuh dengan keanekaragaman flora dan faunanya, bahkan salah seorang naturalis, penjelajah, geografer, ahli antropologi dan ahli biologiyang cukup terkenal yaitu Alfred Russel Wallace pernah tinggal di tempat ini untuk melakukan penelitian. Karena keanekaragaman flora dan faunanya serta keindahan alamnya tempat ini sekarang dijadikan sebaga Taman Nasional yang dikenal sebagai Taman Nasional Bantimurung-Bulu Saraung.

5. Istana Kesultanan Gowa
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_woning_van_de_koning_van_Gowa_TMnr_3728-861.jpg
Pada awalnya Istana Kesultanan Gowa berada di dalam Benteng Somba Opu, namun ketika Kesultanan Gowa mengalami kekalahan pada Perang Makassar, istana dan Benteng Somba Opu dihancurkan oleh Belanda, pada saat itu wilayah Somba Opu mulai ditinggalkan oleh para penduduk yang berdiam di sekitar Benteng Somba Opu dan menyebabkan tempat itu menjadi sepih. Istana Kesultanan Gowa kemudian dibagun di tempat yang baru. Kini replika Istana Kesultanan Gowa telah dibangun di Kota Sungguminasa Kabupaten Gowa dengan nama Istana Balla Lompoa.