Inilah Ketujuh Tokoh Wali Pitue Dari Sulawesi Selatan

Entah siapa yang memulai dan mengkultuskan beberapa tokoh dari beberapa daerah di Sulawesi Selatan, dengan menggabungkan gambar dan foto ketujuh orang tersebut yang kemudian hari dikenal dengan nama Wali Pitue atau Tujuh Wali.
Atas, dari kiri ke kanan: Syekh Yusuf, Lasinrang, Arung Palakka.
Bawah, dari kiri ke kanan: KH. Harun, Petta Barang, Imam Lapeo, Datu Sangkala.
Foto: kabarinspirasi.com
Walaupun ketujuh tokoh tersebut hidup berbeda zaman, masyarakat menerima saja foto yang banyak tersebar dan bahkan ada yang sampai menjadikannya jimat dan penglaris. Inilah ketujuh tokoh dari Sulawesi Selatan yang dianggap sebagai Wali Pitue atau tujuh wali dari Sulawesi Selatan.

1. Syekh yusuf
Syekh Yusuf. Foto: biodatapedia.com
Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani, adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia juga digelari Tuanta Salamaka ri Gowa (tuan guru penyelamat kita dari Gowa) oleh pendukungnya di kalangan rakyat Sulawesi Selatan.

Syekh Yusuf lahir dari pasangan Abdullah dengan Aminah pada 3 Juli 1626 di Gowa, Sulawesi Selatan. Ketika lahir ia dinamakan Muhammad Yusuf, suatu nama yang diberikan oleh Raja Gowa Sultan Alauddin, yang juga adalah kerabat ibu Syekh Yusuf. Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Cikoang dari Daeng Ri Tassamang, guru kerajaan Gowa. Syekh Yusuf juga berguru pada Sayyid Ba-Alawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Sayyid Jalaludin Al-Aidid.

Kembali dari Cikoang, Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu pada usia 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten dan Aceh. Di Banten ia bersahabat dengan Sultan Ageng Tirtayasa, yang kelak menjadikannya mufti Kesultanan Banten. Di Aceh, Syekh Yusuf berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan mendalami tarekat Qadiriyah.

Pada tahun 1644, Syech Yusuf menunaikan ibadah haji dan tinggal di Mekkah untuk beberapa lama, dimana Ia belajar kepada ulama terkemuka di Mekkah dan Madina, Syekh Yusuf juga sempat mencari ilmu ke Yaman, berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi, dan ke Damaskus untuk berguru pada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi. Syech Yusuf mempelajari Islam sekitar 20 tahun di Timur Tengah.

Ketika Kesultanan Gowa mengalami kalah perang terhadap Belanda pada tahun 1667, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.

Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka pada bulan September 1684.

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi'an, juga pernah berguru pada Syekh Yusuf.

Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1693.

Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Syekh Yusuf meninggal di Cape Town, Afrika Selatan pada tanggal 23 Mei 1699 dan dimakamkan di sana, pada perkembangan selanjutnya, Jenazah Syekh Yusuf kemudian dipindahkan ke Gowa atas permintaan raja Gowa Sultan Abdul Jalil (1677-1709) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705.

2. Arung palakka
Arung Palakka
Arung Palakka bergelar  La Tenritatta To Unru To-ri SompaE Petta MalampeE Gemme'na Daeng Serang To' Appatunru Paduka Sultan Sa'adduddin. Arung Palakka La Tenri tatta lahir di Lamatta, Mario-ri Wawo, Soppeng, pada tanggal 15 September 1634 sebagai anak dari pasangan La Pottobune', Arung Tana Tengnga, dan istrinya, We Tenri Suwi, Datu Mario-ri Wawo, anak dari La Tenri Ruwa Paduka Sri Sultan Adam, Arumpone Bone.

Arung Palakka pertama kali menikah dengan Arung Kaju namun akhirnya mereka bercerai. Selanjutnya, ia menikah dengan Sira Daeng Talele Karaeng Ballajawa pada tanggal 16 Maret 1668, sebelumnya istri dari Karaeng Bontomaronu dan Karaeng Karunrung Abdul Hamid. Pernikahan ini pun tidak bertahan lama dan keduanya bercerai pada tanggal 26 Januari 1671. Untuk ketiga kalinya, ia menikahi We Tan-ri Pau Adda Sange Datu-ri Watu, Datu Soppeng, di Soppeng pada tanggal 20 Juli 1673. Istri ketiganya ini adalah putri dari La Tanri Bali Beowe, Datu Soppeng, dan sebelumnya menjadi istri La Suni, Adatuwang Sidenreng. Pernikahannya yang keempat dilaksanakan pada tanggal 14 September 1684 dengan Daeng Marannu, Karaeng Laikang, putri dari Pekampi Daeng Mangempa Karaeng Bontomaronu, Gowa, dan sebelumnya adalah istri dari Karaeng Bontomanompo Muhammad.

Takluknya Bone kepada Gowa membuat Arung Palakka dan keluarganya dijadikan tawanan. Sejak umur 11 tahun, ia sudah merasakan bagaimana pedihnya hidup tanpa kebebasan, meski demikian, perlakuan keluarga Kesultanan Gowa terhadapnya tidak terlalu buruk.

Arung Palakka dan keluarganya dijadikan pelayan di kediaman Perdana Menteri Gowa, Karaeng Pattinggaloang. Namun, Pattinggaloang tetap menaruh respek kepada keluarga Arung Palakka, dan Arung Palakka pun tumbuh menjadi seorang pemuda cerdas dan gagah di bawah bimbingannya.

Akhir 1660, dibantu beberapa mantan petinggi Kesultanan Bone yang masih setia, Arung Palakka melancarkan serangan terhadap Gowa dan berhasil membebaskan orang-orang Bone yang ditawan dan dipekerjakan paksan di Gowa.

Untuk meraih kemenangan melawan Gowa, ia belum sanggup lantaran armada militer Gowa masih terlalu kuat, bahkan membuatnya kian terdesak. Arung Palakka pun terpaksa melarikan diri karena menjadi target utama pasukan Gowa yang mencarinya sampai ke Buton.

Di saat yang sama, VOC datang menawarkan bantuan. Kondisi ini sebenarnya dilematis bagi Arung Palakka. Di satu sisi, ia muak dengan ambisi VOC. Namun di sisi lain, ia memerlukan dukungan kaum penjajah itu jika ingin menuntaskan dendamnya sekaligus menjadikan Bone sebagai pemerintahan yang berdaulat lagi.

Akhirnya, pada 1663, Arung Palakka dan para pengikutnya berlayar jauh ke Batavia, tepat di mana pusat kekuasaan VOC berada. Selain untuk menyelamatkan diri dari kejaran Gowa, Arung Palakka ternyata harus membuktikan terlebih dulu bahwa ia memang benar-benar butuh bantuan VOC.

Setelah 3 tahun membantu VOC, saatnya tiba bagi Arung Palakka untuk menuntaskan dendam sekaligus merebut kembali wilayah Bone yang dikuasai Gowa. Tanggal 24 November 1666, armada besar bertolak dari pesisir utara Bataviamenuju Celebes, terdiri dari 21 kapal perang yang mengangkut 1000 prajurit.

Pasukan Arung Palakka yang beranggotakan 400 orang semakin percaya diri berkat bantuan VOC yang menyumbangkan 600 orang tentaranya dari Eropa yang paling terlatih. Mereka berangkat dengan satu tujuan: mengalahkan Gowa yang saat itu dipimpin seorang raja perkasa berjuluk Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin.

Dan meletuslah Perang Makassar. Gowa pada akhirnya menyerah, dan tanggal 18 November 1667 Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya yang menandai kemenangan VOC dan Arung Palakka walaupun selama beberapa tahun berikutnya serpihan pasukan Gowa masih melakukan perlawanan.

Pada 1672, Arung Palakka dinobatkan sebagai Sultan Bone. Ia memang hanya menuntut haknya kembali sebagai pewaris tahta Bone, sekaligus membebaskan Bone dari penguasaan Gowa dan membalaskan dendamnya, meskipun dengan cara yang tidak bisa memuaskan semua pihak.

Arung Palakka memimpin Kesultanan Bone selama 24 tahun atau sampai akhir hayatnya. Ia meninggal dunia pada 6 April 1696 dan dimakamkan di katangka, gowa.

3. Lasinrang
Lasinrang. Foto: Twitter
Lasinrang merupakan salah satu pejuang Bugis asal Pinrang yang memimpin para pemuda di kerajaan Sawitto melawan Belanda. Lasinrang lahir di Desa Dolangan, Pinrang pada tahun 1856. Kemudian ia dikenal dengan nama Petta Lolo Lasinrang. La Sinrang merupakan Putra La Tamma Addatuang Sawitto dan ibunya bernama I Raima merupakan Keturunan rakyat biasa yang berasal dari Dolangeng. Sejak lahirnya La Sinrang memang memiliki keistimewaan dimana dadanya ditumbuhi buluh dengan arah berlawanan yaitu arah keatas.

Dalam perjalanan hidupnya, La Sinrang banyak mendapat bimbingan dan pendidikan dari pamannya, yaitu orang yang mempunyai pengaruh dan disegani serta dikenal sebagai ahli piker kerajaan. Sehingga, Lasinrang menjadi seorang pemuda yang cukup berwibawa dan jujur.

Diwaktu kecil Lasinrang gemar menyabung ayam. Dari kegemaran ini, Lasinrang selalu menggunakan Manu’ bakka (ayam yang bulunya berwarna putih berbintik-bintik merah pada bagian dada melingkar kebelakang), ayam jenis ini jarang dimiliki orang.

Kegemaran menyabung ayam dengan manu bakka tersiar keluar daerah, sehingga Lasinrang dikenal dengan julukan Bakka Lolona Sawitto juga dapat diartikan sebagai Pemuda berani dari Sawitto. Julukan ini semakin popular disaat La Sinrang mengadakan perlawanan terhadap belanda.

Semasa berada di Sawitto, La Sinrang gemar mencari gara-gara dengan kerajaan sekitarnya, ia mengajak kerajaan kecil disekitar Sawitto untuk berperang, dan apabila kerajaan tersebut tidak bersedia, maka ia menganggap kerajaan itu berada dibawah kekuasaan Sawitto. karena perilakunya itu, akhirnya diasingkan ke Bone, baru setahun di Bone, terpaksa menyingkir ke Wajo karena membunuh salah seorang pegawai istana di Bone yaitu Pakkalawing Epu’na Arungpone.

Selama di Wajo, ia mendapat didikan dari La Jalanti Putra Arung Matawo Wajo yaitu La Koro Arung Padali yang bergelar Batara Wajo. La Janlanti diangkat menjadi komandan Pasukan Wajo di Tempe dengan pangkat Jenderal.

Setelah pengaruh Belanda terhadap kerajaan sawitto semakin hebat, maka La Sinrang dipanggil pulang oleh ayahnya, dan diangkat menjadi panglima perang. Dalam kepemimpinannya sebagai panglima perang kerjaan Sawitto, senjata yang dipergunakan adalah tombak dan keris. Tombak bentuknya besar menyerupai dayung diberi nama La Salaga sedang kerisnya diberi nama Jalloe.

setelah beberapa lama La Sinrang melakukan perlawanan terhadap Belanda, Lasinrang kemudian menyerahkan diri karena ayah dan istrinya ditangkap dan diancam akan disiksa. Lasinrang menjalani masa pengasingan di Banyumas dan dipulangkan dalam keadaan sakit dan lanjut usia, Lasinrang akhirnya wafat pada tanggal 29 Oktober 1938 dan dimakamkan di Amassangeng.

4. KH. Harun
KH. Harun merupakan seorang ulama yang berasal dari Tallo, Tidak banyak yang diketahui mengenai sosok KH. Harun ini.

5. Petta Barang
Petta Barang juga biasa digelari Petta Po Risappae, ia merupakan keturunan raja Barru. Tidak banayk yang diketahui mengenai sosok ini, dalam beberapa ceritera, ia dikisahkan tiba-tiba menghilang dari atas kudanya bersama seorang penuggu kudanya, itu sebabnya Petta Barang diberi gelar Petta To Risappae yang memiliki makna dicari keberadaannya.

6. Imam Lapeo
Imam Lapeo. Foto: anakogii.blogspot.com
Imam Lapeo bernama lengkap Muhammad Thahir Imam Lapeo merupakan tokoh sufi yang dikenal akan kecerdasannya, keberaniannya dan sifatnya yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Muhammad Thahir lahir pada tahun 1838 di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ada perbedaan pendapat mengenai tahun kelahiran beliau. Ada yang berpendapat bahwa Muhammad Thahir dilahirkan pada tahun 1839 ketika Raja Balanipa ke-41 yang bernama Tomatindo di Marica menjalankan pemerintahannya di Mandar dan semasa dengan upaya Belanda untuk menjejakkan kakinya di Mandar. Pendapat lainnya, mengatakan bahwa Imam Lapeo lahir di Pambusuang tahun 1838. Sejak lahir beliau diberi nama orang tuanya Junaihil Namli, suatu nama unik yang artinya sayap semut.

Imam Lapeo berlatar belakang dari keluarga yang taat beragama. Hal inilah yang sangat mempengaruhi proses pembentukan jiwa Imam Lapeo dan mewarnai kehidupannya.

Ayahnya adalah seorang petani dan nelayan, disamping itu masyarakat mengenalnya sebagai seorang guru mengaji. Kemampuan mengaji Muhammad bin Haji Abdul Karim Abbatalahi, diwarisi dari ayahnya yang tidak lain adalah kakek Imam Lapeo sendiri yang dikenal dengan nama H. Abdul Karim Abtalahi yang popular dimasyarakat dengan nama Nugo. Kakeknya adalah penghafal al-Quran di Pambusuang. Melihat latar belakang keluarga Imam Lapeo yang ayah merupakan guru mengaji dan ibunya merupakan keturunan hadat, menunjukan bahwa beliau merupakan keturunan yang cukup dikenal dan dihormati dalam masyarakat. Hal lain, bahwa didikan dan arahan orang tuanya, menjadi dasar bagi beliau dalam kehidupan selanjutnya. Demikian halnya dengan kondisi yang berasal dari keluarga nelayan, mempunyai tantangan yang cukup besar dalam upaya memenuhi kehidupannya. Ia terbiasa dengan arus gelombang laut bersama ayahnya mencari ikan dilaut.

Imam Lapeo mendapat pendidikan al-Quran dari kakeknya bernama Abdul Karim. Di usia kanak-kanaknya Imam Lapeo telah khatam Al-Qur’an beberapa kali melampaui teman-teman sebayanya. Menjelang usia remaja, ia lebih memperdalam bahasa Arab seperti nahwu syaraf di Pambusuang. Lingkungan Pambusuang yang religius menjadikan Muhammad Thahir mendapat pendidikan agama yang baik.

Imam Lapeo melanjutkan memperdalam ilmu agamanya di Pulau Salemo. Beberapa tahun ia tinggal di Salemo. Tepatnya, sejak kehadiran Guru Ga'de yang melahirkan sejumlah Ulama besar tanah Mandar. Guru Ga'de adalah keturunan Maulana Malik Ibrahim dari Gresik Jawa Timur, pembawa Islam pertama di Nusantara. Ulama yang dilahirkan Guru Ga'de diantaranya As-Syekh Habib Sayyid Alwi Jamalullail bin Sahl, guru dari Muhammad Thahir, kemudian AGH. Muhammad Nuh yang mendirikan Pesantren Nuhiyah di Pambusuang dan AGH. Alwi, Imam Masjid Bala, Pambusuang.

Pada usianya yang baru 15 tahun Imam Lapeo berani mengikuti pamannya Haji Buhari Ke Padang, Sumatera Barat, dan tinggal selama 4 tahun menambah ilmu sambil berdagang sarung sutra.

Sekembalinya dari Padang ia melanjutkan perjalanan menuju Makkah di samping untuk menunaikan ibadah haji juga tinggal disana seama beberapa puluh tahun untuk memperdalam ilmunya, mendatangi Ulama besar memperdalam ilmu fikih, tafsir, hadits, dan teologi. Diantara gurunya di Makkah adalah Syekh Muhammad Ibna. Perjalanannya ke Makkah dilaksanakan pada tahun 1886. Selain itu, Muhammad Thahir juga melakukan rihlah ilmiah hingga ke Istanbul, Turki.

Dalam usia yang semakin dewasa, imam Lapeo semakin ditempah oleh pengalaman hidupnya baik sebagai seorang anak nelayan, maupun pengetahuan keagamaannya. Modal pengalaman itulah, sehingga pada usianya yang ke 27 tahun beliau dinikahkan oleh gurunya yang bernama Sayyid Alwi Jamaluddin Bin Sahil. Ia adalah seorang ulama besar dari Yaman. Imam Lapeo dinikahkan dengan Hagiyah yang kemudian berganti nama menjadi Rugayyah.

Dalam kehidupannya, Imama Lapeo melangsungkan perkawinan sebanyak enam kali. Versi lain menyebutkannya tujuh kali. Perkawinan ini didasarkan pada kesadarannya bahwa hal tersebut merupakan salah satu strategi dakwah yang paling efektif dalam pembaharuan Islam. Perlu digaris bawahi bahwa dari istri pertama sampai keempat merupakan keluarga atau keturunan tokoh-tokoh masyarakat, dari setiap daerah asalnya. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya untuk lebih mengembangkan Islam dikalangan Masyarakat, melalui orang-orang yang berpegaruh di daerahnya

Gerakan dakwah Imam Lapeo lebih menonjol pada aspek karamah dan kewaliannya, hal itu sangat kuat mengakar pada masyarakat Mandar. Saat dakwah ke daerah Mamuju, ia diangkat menjadi Qadhi Kerajaan Tappalang. Hubungan Imam Lapeo dengan Ulama-ulama di Jawa seperti Syekh Kholil Bangkalan dan Mbah Makshum Lasem terhubung oleh guru dan sahabat Imam Lapeo, yakni Habib Alwi bin Abdullah al-Sahl.

Masjid Nur Al-Taubah di Lapeo adalah masjid yang dibangun oleh Imam Lapeo, oleh masyarakat Mandar disebut Masjid Lapeo. Masjid itu dikenal dengan menaranya menyerupai arstitektur Istambul, Imam Lapeo adalah imam pertama di masjid di daerah Lapeo ini. Ada sekitar 17 masjid yang tersebar di pesisir Sulawesi Barat yang pembangunannya di prakarsai Imam Lapeo.

Imam Lapeo menebar keagungan Islam dengan jalan dakwah melalui lembaga-lembaga pendidikan. Proses pengentasan kebodohan masyarakat Mandar kala itu dilakukan dengan cara membuat pengajian-pengajian kecil. Tapi dari hari ke hari muridnya semakin bertambah, kemudian dengan dibantu oleh para muridnya, maka berdirilah sebuah lembaga pendidikan yang berlokasi di samping Masjid Nuruttaubah Lapeo.

Peran Imam Lapeo, tidak terlepas dengan karamah kesufian yang ada pada dirinya. Misalnya, tangannya kebal terhadap api. Diceritakan, selama belajar di hadapan Sayyid Alwi al-Maliki, Imam Lapeo juga bertindak sebagai penuntun unta terhadap gurunya dalam berbagai perjalanan. Saat sang guru Sayyid Alwi al-Maliki bersama muridnya Imam Lapeo melakukan perjalanan antara Makkah dan Madinah, karena keamanan di jalan kurang terjamin, mereka singgah istirahat dan berkemah di jalanan. Ketika itu, sang gurunya mengetahui Imam Lapeo mengisap rokok. Sang Guru langsung mengambil rokok tersebut dari tangannya, dan rokok yang terbakar itu ditekankan ke telapak tangan muridnya. Dalam keadaan demikian, Imam Lapeo tidak merintih dan tidak merasakan kesakitan, malah hal itu dibiarkannya sampai semuanya selesai.

Realitas keislaman masyarakat Mandar sarat dengan nuansa sufistik. Sementara Imam Lapeo memiliki kualifikasi sebagai Ulama sufi dengan beragam peran sosial keagamaan dan wawasan kebangsaanya yang tinggi. Hal ini terlihat dari pengakuan yang disampaikan masyarakat Mandar dan dari analisis kepustakaan setempat. Peranan dan pengaruh Imam Lapeo terhadap masyarakat Mandar tidak terlepas dari pengetahuan dan pengalamannya dari proses pengembaraan intelektual di tingkat domestik dan mancanegara yaitu Singapura, Turki dan Arab Saudi.

Selain mengembangkan tradisi tahfidz, Imam Lapeo juga berinisiasi kepada Tarekat Syadziliyah dan berdakwah dalam lisan saja. Tipologi tarekat yang dianut Imam Lapeo lebih cenderung pada wawasan tasawuf moderat, yang selalu mencari titik keseimbangan antara urusan duniawi dan urusan ukhrawi. Hal ini dibuktikan dengan peran aktif Imam Lapeo dalam taqarrub kepada Allah SWT dan keterlibatannya dalam politik kebangsaan dengan ikut melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dan Jepang. Modal sosial-keagamaan ini menjadi pijakan masyarakat Mandar.

Imam Lapeo bukan hanya ulama menjadi pejuang dalam usaha pembangunan Islam, tetapi juga seorang pejuang kemerdekaan, beliau banyak tampil dalam berjuang melawan tentara NICA, terutama sewaktu berada di Mandar. Pengaruhnya Imam Lapeo terhadap masyarakat islam di Mandar terlampau besar, maka pemerintah NICA Belanda menghentikan dakwahnya sebab timbul kekhawatiran akan muncul perlawanan, akibat pengaruh dakwah Imam Lapeo.

Menjelang kematiannya, Imam Lapeo berpesan supaya disediakan batang pisang sebelah menyebelah sebagai tempat bersandarnya bicara dengan mungkar nakir. Imam Lapeo wafat pada hari selasa, 17 Juni 1952 dalam usia 114 tahun.

7. Datu Sangkala
Tidak banayk yang diketahui mengenai tokoh ini.