Lanting Kotamara: Benteng Terapung dalam Strategi Perang Kesultanan Banjar

Perang Banjar adalah perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda yang berlangsung antara tahun 1859-1906 yang terjadi di Kesultanan Banjar yang meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Perang Banjar berlangsung antara 1859-1905, sementara menurut sumber Belanda, Perang Banjar berlangsung antara 1859-1863.
Kapal uap Celebes milik Belanda berperang melawan Lanting Kotamara atau benteng terapung yang dikemudikan oleh orang Dayak pada tanggal 6 Agustus 1859 di pulau Kanamit, sungai Barito. Foto: id.wikipedia.org
Bermula ketika putra mahkota Sultan Adam Alwasikh yang bernama Abdul Rakhman meninggal pada tahun 1852, sehingga terjadi konflik di dalam Kesultanan Banjar, di mana Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Tamjidillah berebut untuk mendudki tahta Kesultanan Banjar. Pangeran Hidayatullah didukung oleh kalangan istana, sementara Pangeran Tamjidillah mendapat dukungan dari Belanda.

Pada tahun 1857, Sultan Adam Alwasikh akhirnya wafat, dengan segera Belanda melantik Pangeran Tamjidillah menjadi sebagai Sultan Banjar, sementara Pangeran Hidayatullah diangkat sebagai Mangkubumi.

Rakyat Banjar ternyata tidak menyukai adanya turut campur tangan Belanda dalam urusan pemerintahan di Kerajaan Banjar sehingga timbul berbagai gerakan untuk menentang pemerintahan Tamjidillah. Salah satu gerakan itu dipelopori oleh seorang tokoh yang bernama Panembahan Aling. Pangeran Antasari yang juga merupakan sepupu dari Pangeran Hidayatullah ikut bergabung dalam gerakan yang dilakukan oleh Panembahan Aling.

pasukan Panembahan Aling menyerang tambang batubara Belanda di Pengaron, dan perkebunan Belanda di berbagai tempat pada 28 april 1859. Karena keadaan yang semakin kacau dan tidak bisa dikendalikan, Sultan Tamjidillah mengundurkan diri dan menyerahkan kerajaan banjar kepada Belanda pada tanggal 25 juni 1859, ia kemudian diasingkan oleh Belanda ke Bogor.

Sementara itu, Pasukan Pangeran Antasari bergerak menyerbu pos-pos Belanda di Martapura. Pada bulan Agustus 1859, pasukan Pangera Antasari bersama Haji Buyasin, Kyai langlang, Demang Lehman berhasil menyerang benteng Belanda di Tabanio. Masyarakat Banjar juga berhasil menenggelamkan kapal Belanda yang bernama Onrust di Sungai Barito.

Sebuah strategi perang yang menakjubkan dilakukan oleh masyarakat Banjar dan Dayak untuk menghalau serangan kapal-kapal Belanda di perairan Sungai Barito. Masyarakat Dayak membangun sebuah benteng terapung di atas sungai, beteng terapung ini dikenal dengan nama Lanting Kotamara.

Masyarakat Dayak memanfaatkan kayu hutan Kalimantan sebagai sumber kekuatan perang. Dinding benteng terapung ini dibuat berlapis-lapis sehingga sukar ditembus peluru senapan, ataupun peluru meriam Belanda. Pada buku Perang Banjar Barito karya Ahmad Barjie, disebutkan bahwa Lanting Kotamara dirancang oleh seseorang yang bernama Raden Jaya Anum dari Kapuas Tengah.

Bentuk Lanting Kotamara ini sangat unik karena dibuat dari susunan bambu yang membentuk sebuah benteng terapung, di dalamnya dikemudikan oleh beberapa orang Dayak. Lanting Kotamara dilengkapi dengan beberapa pucuk meriam dan lila atau meriam ukurannya agak kecil. Selain kapal perang Onrust yang berhasil ditenggelamkan pada 26 Desember 1859, sebelumnya yaitu pada bulan Juli 1859 juga ditenggelamkan kapal perang Cipanas dan terlibat pertempuran jarak dekat denga kapal perang Celebes dalam pertempuran di sepanjang Sungai Barito di sekitar Pulau Kanamit.
Bagan Lanting Kotamara. Foto: budaya-indonesia.org
Bagan Lanting Kotamara. Foto: budaya-indonesia.org
Pada bulan September 1859, terjadi pertempuran di tiga lokasi, Pertempuran di Banua Lima dipimpin oleh Tumenggung Jalil, Pertempuran di Martapura diimpin oleh Demang Lehman, dan Pertempuran di Sungai Barito dipimpin oleh Pangeran Antasari.

Belanda kemudian menyerang benteng Kesultanan Banjar di Tabanio yang dipertahankan oleh Demang Lehman, Benteng Tabanio berhasil dikuasai Belanda, Demang Lehman meloloskan diri ke Gunung Lawak. Belanda keudian menyerang Gunung Lawak, namun Demang Lehman kembali dapat meloloskan diri. Demang Lehman kemudian berusaha menyerang benteng Amawang milik Belanda di Kandangan, namun serangannya itu gagal sehingga ia mengundurkan diri ke Barabai.

Mangkubumi Hidayatullah kemudian diangkat menjadi raja oleh rakyat Banjar, sesaat setelah pengangkatan dirinya menjadi sultan, Sultan Hidayatullah kemudian bergabung dengan pasukan Demang Lehman di Barabai.

Belanda di bawah pimpinan G. M. Verspyck kemudian menyerang Barabai, Sultan Hidayatullah dan Demang Lehman mengundurkan diri ke Gunung Madang. Gunung Madang kembali diserang oleh Belanda, namun sultan hidayatullah masih bisa meloloskan diri. Baru pada tanggal 28 februari 1862, Sultan Hidayatullah tertangkap dan kemudian diasingkan ke Cianjur. Sementara itu Demang Lehman tertangkap di Gunung Pangkal, Batulicin, selanjutnya dibawah ke Martapura kemudian dihukum gantung pada tanggal 27 Februari 1864.

Setelah Sultan Hidayatullah tertangkap, Pangeran Antasari kemudian diangkat menjadi Sultan Banjar dan terus melakukan perlawanan melawan Belanda di Sungai Barito. Pangeran Antasari kemudian terserang penyakit paru-paru dan cacar, ia kemudian meninggal pada tanggal 11 oktober 1862. Perjuangannya kemudian dilanjutkan oleh putranya Gusti Mat Seman, Gusti Acul, dan Gustu Muhammad Arsyad.