Membuka Kembali Sejarah Perang Padri

Perlawanan kaum Padri di tanah Minangkabau Sumatra Barat merupakan salah satu peperangan yang cukup merepotkan Belanda, peperangan ini kemudian dikenal dengan nama Perang Padri. Perang yang berlangsung dari tahun 1821 hingga tahun 1837 ini dipelopori oleh kaum Ulama.
Lukisan Perang Padri. Foto: id.wikipedia.org
Dalam buku yang berjudul Nusantara yang ditulis oleh Bernard H.M. Vlekke dijelaskan bahwa kata Padri merupakan sebutan bagi para ulama yang pernah belajar agama Islam di Pedir, sebuah tempat di Aceh yang kini bernama Pidie. Perang Padri ini bermula dari pertentangan antara kaum adat dan kaum ulama di Sumatra Barat.

Perlu dietahui, meski masyarakat Minangkabau sebagian besar telah memeluk agama Islam, namun masih kuat memegang teguh adat istiadat. Carool Kersten dalam bukunya Mengislamkan Indonesi: Sejarah Peradaban Islam di Nusantara menjelaskan bahwa beberapa ulama yang baru saja pulang dari Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji kembali dengan membawa pemahaman Wahabi atau reformis agama Islam yang ingin memurnikan ajaran Islam. Hal ini tentu bertentangan dengan dengan kaum adat masyarakat Minangkabau yang masih kuat memegang teguh adat istiadat.

Pada tahun 1828, Belanda mengangkat James du Puy sebagai residen di Minangkabau. Belanda yang melihat keadaan masyarakat Minangkabau yang mulai terpecah menjadikan ini sebagai kesempatan untuk menguasai wilayah Sumatra Barat. Belanda kemudian menjalin perjanjian kerja sama dengan tokoh kaum adat, Tuanku Suruaso dan beberapa penghulu adat Minangkabau. Dengan demikian Belanda dapat menduduki beberapa wilayah di Sumatra Barat, salah satunya di wilayah Simawang.

Tindakan beanda menduduki beberapa tempat di Sumatra Barat ini ditentang oleh kaum Padri sehingga pecahlah Perang Padri. Para kaum Padri di bawah pimpinan Tuanku Pasaman mulai menyerang beberapa pos pertahanan Belanda. Bulan September tahun 1821, kaum Padri menyerang Simawang, Soli Air, dan Sipinang. Pada pertempuran melawan Belanda yang diantu oleh kaum adat, putra Tuanku Pasaman gugur, sehingga Tuanku Pasaman terpaksa mengundurkan diri ke Lintau, sementara itu Belanda berhasil menguasai seluruh wilayah Tanah Datar dan mendirikan benteng Van Der Capellen di Batusangkar.
Benteng Van Der Capellen. Foto: Collectie Tropenmuseum
Sementara itu di wilayah Baso muncul juga perlawanan kaum Padri di bawah pimpinan Tuanku Nan Receh, pasukan Tuanku Nan Receh harus menghadapi pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Goffinet.

Menyusul kemudian di wilayah Bonjol, kaum Padri di bawah pimpinan Peto Syarif atau yang lebih dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol harus menghadapi pasukan Belanda di bawah pimpinan PH. Marinus. Pada tahun 1823, pasukan Padri berhasil mengalahkan Belanda di Kapau.

Belanda yang merasa kewalahan menghadapi perlawanan kaum Padri kemudian mengambil strategi damai. Oleh karena itu, pada tanggal 26 Januari 1824 tercapailah perundingan damai antara Belanda dan kaum Padri di wilayah Alahan Panjang, perundingan ini dienal dengan Perjanjian Masang.

Belanda juga memaksa Tuanku Mensiangan dari Kota Lawas untuk berunding namun ditolak, Tuanku Mensiangan bahkan melakukan perlawan, Belanda kemudian membalasnya dengan membakar pusat pertahan Kota Lawas dan menangkap Tuanku Mensiangan. Tindakan Belanda menyerak Kota Lawas membuat kaum Padri marah dan membatalkan kesepakatan Perjanjian Masang.

Pada tahun 1825, meletuslah Perang Diponegoro di Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Kesulitan menghadapi perlawanan pasukan Diponegoro di Jawa, Belanda kemudian berusaha kembali mengadakan perundingan dengan kaum Padri. Belanda selanjutnya meminta bantuan kepada seorang saudagar keturunan Arab yang bernama Sulaiman Aljufri untuk membujuk Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Receh, dan Tuanku Lintau untuk melakukan perjanjian damai, namun hanya Tuanku Lintau dan Tuanku Nan Receh yang bersedia. Diadakanlah Perjanjian Padang pada tanggal 15 November 1825.

Adanya Perjanjian Padang dimanfaatkan Belanda untuk mengendorkan serangannya di Minangkabau dan mengalihkan sebagian pasukanya ke Jawa untuk fokus menghadapi perlawanan pasukan Diponegoro.
Gambar Tuanku Imam Bonjol oleh Hubert de Stuers (sekitar 1820). Foto: id.wikipedia.org
Pada tahun 1830, perlawanan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa berakhir, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Menado. Semua kekuatan Belanda dikonsentrasikan ke Sumatra Barat untuk menghadapi kaum Padri. Sementara itu, kaum Padri yang sudah mulai mendapat simpati dari kaum adat berhasil memutuskan sarana komuniasi antara pos pertahanan Belanda di Tanjung Alam dan Bukittinggi.

Tindakan kaum Padri tersebut dijadikan alasan oleh Belanda untuk menyerang Koto Tuo di bawah pimpinan Gillavary. Belanda kemudian mendirikan kubu pertahanan di Ampang Gadang hingga ke Biaro. Selain itu juga Belanda menduduki wilayah Batang Gadis.

Pada tahun 1831, pemimpin Belanda Gillavary digantikan oleh Jacob Elout. Elout segera menggerakkan pasukan untuk menguasai berbagai wilayah seperti Manggung, Naras, dan Batipuh. Setelah menguasai Batipuh, Belanda kemudian menyerang benteng Marapalam dan berhasil dikuasai pada bulan Agustus 1831.

Datangnya bantuan pasukan Belanda dari Jawa membuat serangn Belanda semakin ofensif. Bahkan salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro yang bernama Sentot Prawirodirdjo atau yang lebih dikenal dengan nama Sentot Ali Basha diutus Belanda menghadapi kaum Padri. Sentot Ali Basha pada awalnya memang merupakan panglima perang Pangeran Diponegoro, namun setelah Paerang Jawa berakhir, ia dibujuk untuk meletakkan senjata dan bergabung pada Belanda, selanjutnya ditugaskan ke Sumatra Barat. Namun itu semua tidak lain merupakan strategi dari Sentot dalam upaya mendapatkan persenjataan dari Belanda untuk digunakan dalam membantu perjuangan kaum Padri.

Beberapa wilayah di Agam mulai di kuasai Belanda, bahkan salah seorang pemimpin perlawanan kaum padri yang bernama Tuanku Nan Cerdik tertangkap. Setelah menguasai sebagian besar wilayah di Sumatra Barat, kini satu-satunya pertahanan terakhir kaum Padri berada di wilayah Bonjol yang dipimpin langsung oleh Tuanku Imam Bonjol. Belanda kemudian baru fokus memusatkan kekuatannya untuk menyerang Bonjol pada tahun 1834.

Di bawah pimpian Residen Padang Emanuel Francis, Belanda sempat beberapa kali menyerang dan mengepung Bonjol. Barulah pada tanggal 16 Agustus 1837, kota Bonjol berhasil dikuasai Belanda, sementara Tuanku Imam Bonjol masih berhasil meloloskan diri.

Residen Padang Emanuel Francis kemudian menawarkan perundingan kepada Tuanku Imam Bonjol. Barulah pada tanggal 28 Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol bersedia menerima tawaran damai dari Residen Francis. Namun Tuanku Imam Bonjol tiba-tiba ditangkap pada saat datang ke tempat perundingan.

Tuanku Imam Bonjol kemudian dibawa ke Batavia selanjutnya diasingkan ke Cianjur. Pada tanggal 19 Januari 1839, ia dipindahkan ke Ambon dan pada tahun 1841 dipindahkan lagi ke Menado hingga wafat pada tanggal 6 November 1864.