Membandingkan Dua Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Perang Jawa atau yang lebih populer dengan Perang Diponegoro merupakan peperangan antara Belanda dengan pasukan Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, perang ini berlangsung dari tahun 1825 hingga tahun 1830.

Pemimpin Perang Jawa, Pangeran Diponegoro merupakan seorang keturunan Sultan-Sultan Yogyakarta. Pada 1825, setelah menyatakan dirinya sendiri sebagau Ratu Adil dan perlawanan para musuhnya terhadap praktek Islam, ia memulai sebuah perang melawan sultan yang memerintah dan pemerintah kolonial Belanda. Dalam perjuangan lima tahun berikutnya, yang menyebar ke sebagian besar Jawa Tengah, lebih dari 200,000 pasukan Jawa dan 15,000 pasukan Belanda tewas.

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan takti Benteng Stelsel atau sistem benteng, sehingga Pasukan Diponegoro terjepit dan beberapa pimpinan pasukannya tertangkap. Pada tahun 1829, Kyai Mojo, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kockberhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang.

dengan sebagian besar pemimpin gerilya yang tertangkap, Diponegoro diundang untuk mendatangi rumah Letjen De Kock di Magelang untuk menegosiasikan akhir pertikaian dan mewujudkan kesepakatan bersama. Disana, setelah tiga jam, Diponegoro ditangkap. Ia diasingkan ke Menado kemudian dipindah ke Makassar, dimana ia menjalani sisa hidupnya disana sampai kematiannya.

Begitu pentingnya peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro itu menginspirasi beberapa seniman membuat lukisan yang menggambarkan peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro, diantaranya adalah seniman dari Belanda yang bernama Nicolaas Pieneman, dan seoranh lagi seniman keturuan Arab-Jawa bernama Raden Saleh yang bernama lengkap Raden Saleh Sjarif Boestaman.

Nicolaas Pieneman lahir pada tanggal 1 Januari 1809 di Amersfoort, Belanda. Ia merupakan pelukis dan litografer asal Belanda Utara. Pieneman memiliki keahlian khusus dalam melukis peristiwa terkini dan lukisan potret. Pieneman merupakan sahabat William II dari Belanda. Ia meninggal pada tanggal 30 Desember 1860 di Amsterdam, Belanda.

Sementara Raden Saleh lahir pada tahun 1807, sumber lain mengatakan lahir pada tahun 1811. Raden Saleh merupakan pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang mempionirkan seni modern Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda. Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang sedang populer di Eropa saat itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar belakang Jawa sang pelukis. Ia pernah menetap di Eropa selama 20 tahun.

Diduga Raden Saleh pernah melihat lukisan Penyerahan Pangeran Diponegoro karya Pieneman saat tinggal di Eropa. Seakan tidak setuju dengan gambaran Pieneman, Raden Saleh membuat lukisan Penangkapan Pangeran Dionegoro dan memberikan sejumlah perubahan signifikan pada lukisan versinya.

Pieneman menggambarkan peristiwa tersebut dari sebelah kanan, sedangkan Raden Saleh dari kiri. Pieneman menggambarkan Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, sedangkan Raden Saleh menggambarkan Diponegoro dengan raut tegas dan menahan amarah. Pieneman memberi judul lukisannya Penyerahan Diri Diponegoro, sedangkan Raden Saleh memberi judul Penangkapan Diponegoro.

Diketahui bahwa Raden Saleh sengaja menggambar tokoh Belanda di lukisannya dengan kepala yang sedikit terlalu besar agar tampak lebih mengerikan. Raden Saleh meninggal pada tanggal 23 April 1880. Berikut ini merupakan dua lukisan yang masing-masing dibuat oleh Nicolaas Pieneman dan Raden Saleh:

1. Lukisan Nicolaas Pieneman
Lukisan Penyerahan Pangeran Diponegoro Kepada Jenderal De Kock karya Nicolaas Pieneman. Foto: id.wikipedia.org
Lukisan ini diberi judul Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock, atau dalam bahasa Belanda De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal baron De Kock. Merupakan lukisan minyak yang dibuat di atas kanvas, lukisan ini diselesaikan pada tahun 1835, selanjutnya dihadiahkan kepada raja William II dari Belanda.

Pada lukisan tersebut digambarkan Pangeran Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, memakai sorban hijau, jubah, dan mengalungkan syal. Di depannya terdapat sosok perempuan yang sedang bersujud merupakan istri Pangeran Diponegoro, Ayu Retnaningsih. Sementara pemuda yang sedang berlutut di depannya merupakan putra Pangeran Dipomegoro. Di belakang Pangeran Diponegoro ada jenderal De Kock sedang menunjuk dan mengenakan topi tinggi yang dihiasi bulu berwarna putih.

Di bagian kiri lukisan terlihat para penduduk Jawa yang meratapi penangkapan Pangeran Diponegoro, sementara dibelakang orang-orang itu puluhan serdadu Belanda berbaris untuk mengawal kereta kuda yang akan membawa Pangeran Diponegoro.

2. Lukisan Raden saleh
Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh. Foto: winnetnews.com
Lukisan ini diberi judul Penangkapan Pangeran Diponegoro, atau dalam bahasa Belanda Gefangennahme von Prinz Diponegoro. Saat lukisan ini rampung pada tahun 1857, lukisan tersebut dihadiahkan kepada Raja William III dari Belanda sebagai tanda terima kasih karena pemerintah Belanda telah membayar pendidikannya di Eropa. Setelah beberapa tahun disimpan di Istana Den Haag, lukisan ini dipindahkan ke Bronbeek. Pada tahun 1978, Yayasan Oranje Nassau memutuskan agar karya tersebut dikirim ke pemerintah Indonesia dan disimpan di museum pusat. Pada tahun 2005, lukisan tersebut disimpan di museum Istana Negara. Terakhir pada tahun 2012 disimpan dalam Galeri Nasional Indonesia

Pada lukisan tersebut digambarkan Pangeran Diponegoro berdiri di depan Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock di depan bangunan milik pimpinan kolonial. Ia mengenakan sebuah serban hijau, jubah putih, celana, dan sebuah jaket, mengikatkan pinggangnya dengan ikat pinggang emas, memegang tasbih, dan mengalungkan punggungnya dengan syal. Ia tampak sedang menahan kemarahannya, sementara orang-orang Eropa digambarkan bermata tajam dan tidak saling bertatap muka.

De Kock, sang penangkap, berdiri di kiri Pangeran Diponegoro. Bagian paling kiri adalah para perwira Belanda, yang diidentifikasikan oleh sejarawan dan biografer Diponegoro Peter Carey diantaranya Kolonel Louis du Perr, Letkol W.A. Roest, dan Mayor Ajudan Francois Victor Henri Antoine Ridder de Stuer. Di kanan pangeran, berdiri seorang pria Jawa yang diidentifikasikan oleh Carey sebagai putra Diponegoro, bersebelahan dengan Residen Kedu Franciscus Gerardus Valck, Mayor Johan Jacob Perie, dan Kapten Johan Jacob Roeps. Di kaki Diponegoro, seorang wanita yang diyakini istri Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih yang berusaha untuk memegangnya.

Pemandangan dari timur laut menampilkan sebuah pemandangan yang masih pagi hari, dengan tanpa angin. Kepala-kepala orang Belanda digambarkan tampak lebih besar ketimbang badan mereka, sementara para prajurit Jawa digambarkan dalam keadaan wajar. Raden Saleh sendiri menggambar dirinya dalam lukisan tersebut sebanyak dua kali. Pertama Raden Saleh menggambar dirinya sebagai seorang prajurit Jawa yang mengenakan baju merah sambil menunduk di depan Pangeran Diponegoro, dan yang kedua sebagai seorang prajurit yang menghadap ke arah penonton.