Mengorbankan Jiwa Raga Pada Perang Jagaraga

Perang Jagaraga merupakan perang yang terjadi antara pasukan Belanda dan pasukan kerajaan Buleleng di Bali pada tahun 1849. Perang ini juga biasa disebut sebagai Perang Bali III. Sementara tradisi setempat menyebut Perang Jagaraga sebagai Perang Puputan yang memiliki makna sebagai perang habis-habisan. Salah satu sebab yang melatar belakangi timbulnya Perang Jagaraga yaitu adanya hak istimewa yang dimiliki oleh raja-raja Bali yang disebut sebagai hak Tawan Karang. Hak Tawan Karang ini dinilai sangat merugikan Belanda.
Raja Buleleng Gusti Ngurah Karangasem bersama seluruh pengikutnya melakukan puputan atau bunuh diri massal. Foto: id.wikipedia.org
Belanda kemudian berupaya untuk menghapuskan hukum Tawan Karang di Bali dengan cara mengadakan perjanjian dengan beberapa raja-raja di Bali, diantaranya diadakan perjanjian dengan kerajaan Badung pada 28 November 1842, Karangasem pada 1 Mei 1843, Buleleng pada 8 Mei 1843, Klungkung pada 4 Mei 1843, dan Tabanan pada 22 Juni 1843.

Hukum Tawan Karang merupakan hak istimewa yang dimiliki oleh raja-raja Bali, di mana raja boleh mengambil atau memiliki kapal-kapal beserta isi muatannya termasuk para awaknya yang terdampar di wilayah Bali. Namun ada dua kerajaan yang belum melaksanankan isi perjanjian tersebut, yaitu kerajaan Buleleng dan Karangasem. Terbukti pada tahun 1844, penduduk Buleleng merampas isi dua kapal Belanda yang terdampar di pantai Sangsit dan Jembaran.

Karena peristiwa tersebut, Belanda melakukan protes keras dan meminta kerajaan Buleleng untuk mematuhi perjanjian yang telah dibuat dan meminta ganti rugi kepada raja Buleleng, Gusti Ngurah Made Karangasem.

Gusti Ngurah Made Karangasem yang mendapat dukungan besar dari patihnya, I Gusti Ketut Jelantik, menolak keras tuntutan Belanda itu. Bahkan I Gusti Ketut Jelantik telah mempersiapkan pasukan dan membentuk pos-pos pertahanan untuk mengantisipasi apabila mendapat serangan dari Belanda.
I Gusti Ketut Jelantik. Foto: merdeka.com
Untuk menundukkan kerajaan Buleleng yang dianggap telah melanggar perjanjian, Belanda mendatangkan banyak pasukan ke Bali pada tanggal 27 Juni 1846 dan langsung menyerang pos-pos pertahanan Buleleng di sekitar pantai. Sementara itu, beberapa pasukan dari kerajaan Klungkung dan Karangasem datang membantu pasukan kerajaan Buleleng.

Pertempuran terus berlangsung selama dua hari hingga Belanda berhasil menguasai kota Singaraja yang merupakan ibu kota kerajaan Buleleng. Raja Buleleng Gusti Ngurah Karangasem bersama patihnya I Gusti Ketut Jelantik terpaksa mundur ke Desa Jagaraga yang berjarak 7 km sebelah timur kota Singaraja.

Belanda kembali menawarkan perjanjian kepada raja Buleleng pada tanggal 6 Juli 1846. Isi perjanjian itu antara lain, Raja harus menghancurkan seluruh bentengnya, Mengizinkan pasukan Belanda untuk berada di Buleleng, Membayar ganti rugi kepada Belanda dan penyerahan patih Buleleng. Gusti Ngurah Karangasem kemudian menerima perjanjian tersebut, namun secara diam-diam memperkuat pasukan dan membangun benteng di Jagaraga.

Nampaknya masyarakat Bali tetap tidak bisa menghilangkan kebiasaannya merampas kapal-kapal yang terdampar di Bali. Pada tahun 1847, kapal-kapal asing yang terdampar di pantai Kusumba Klungkung tetap dirampas oleh kerajaan. Hal ini lagi-lagi menimbulkan kemarahan bagi pihak Belanda dan mememinta kepada kerajaan Buleleng, Klungkung, dan Karangasem untuk tetap mematuhi perjanjian yang telah disepakati. Namun, raja-raja Bali tidak menghiraukan tutntutan Belanda tersebut.

Pada tanggal 7 Juni 1848, Belanda mendaratkan bala bantuan pasukan di pantai Sangsit. 8 Juni, di bawah pimpinan J. Van Swieten dan Letkol Sutherland, serangan Belanda terhadap benteng Jagaraga dimulai.

I Gusti Ketut Jelantik memimpin pertahanan Jagaraga dengan menggunakan taktik gelar supit urang. Taktik ini dijalankan dengan cara membuka cela barisan pertahanan, ketika pasukan Belanda menerobos masuk melewati cela barisan pertahanan yang sengaja dibuka, dengan segera pasukan Bali bergerak menutup cela dan menjepit pasukan Belanda yang telah terkepung. Taktik gelar supit urang ini berhasil menjebak pasukan Belanda. Lima orang opsir dan 74 serdadu Belanda ditewaskan, ditambah lagi tujuh opsir dan 98 serdadu Belanda luka-luka. Pasukan Belanda terpaksa ditarik mundur.

Kekalahan Belanda di Jagaraga telah mempermalukan perasaan pimpinan Belanda di Batavia. Oleh karena itu Belanda mempersiakan serangan kedua. Awal bulan April 1849, Belanda mendatangkan pasukan dalam jumlah besar ke Jagaraga. Pada tanggal 15 April 1849, semua kekuatan Belanda dikerahkan untuk menggempur pertahanan Jagaraga. Selama dua hari Belanda menggempur Jagaraga, akhirnya pada sore hari tanggal 16 April, Belanda dapat menguasai pertahanan Jagaraga.

Raja Buleleng, Gusti Ngurah Karangasem lebih memilih mati dari pada menyerah kepada Belanda, Gusti Ngurah Karangasem bersama seluruh anggota kerajaan Buleleng kemudian melakukan ritual puputan, yaitu melakukan bunuh diri massal secara bersama-sama. Sementara itu, I Gusti Ketut Jelantik masih sempat melarikan diri ke Karangasem, namun ia tertangkap dan gugur saat mempertahankan diri pada akhir bulan April.