Panggung Sejarah Penguasa Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa | Attoriolong

Panggung Sejarah Penguasa Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa

Penulis: -
Panggung Sejarah Penguasa Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa
Panggung sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa diwarnai dengan berbagai konflik antara penguasa-penguasanya yang saling bersaing, dari perebutan tahta hingga perebutan wilaya, melawan pemberontakan hingga bangsa asing, persekutuan hingga perjanjian.

Diawali dengan kemunculan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Demak merupakan wilayah vasal Kerajaan Majapahit, masyarakat Demak ini telah memeluk agama Islam meski kerajaan Majapahit masih menganut agama Hindu. Pada perkembagan selanjutnya, pengaruh Majapahit semakin merosot karena terjadinya perang Paregreg atau perang saudara untuk memperebutkan kekuasaan hingga membawa Majapahit menuju kehancuran.

Kerajaan Demak kemudian muncul menjadi kerajaan independen dan mendominasi kekuasaan di pulau jawa dengan Raden Patah sebagai raja pertamanya. Masa pemerintahan Raden Patah kemudian digantikan oleh Pati Unus pada tahun 1518. Pada masa pemerintahan Pati Unus ini Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaan. Demak melakukan perluasan kekuasaan, selain itu Pati Unus melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka pada tahun 1521, namun ia gugur dalam serangan tersebut.

Karena Pati Unus tidak memiliki keturunan sebagai penerus maka terjadi persaingan antara kedua adiknya yaitu Sultan Trenggana dengan Pangeran Surowiyoto untuk menjadi penguasa di Kerajaan Demak. Pada persaingan itu, Pangeran Surowiyoto meninggal karena dibunuh oleh Sunan Prawoto yang merupakan putra dari Sultan Trenggana. Dengan demikian Sultan Trenggana yang berhasil menduduki tahta Kerajaan Demak.
Raden Patah
Hal yang dilakukan Sultan Trenggana setelah menjadi raja Demak yaitu memperluas wilayah kekuasaan Demak dan menghalau pasukan Portugis yang akan menyerag Demak. Sultan Trenggana kemudian meninggal pada tahun 1546 saat menyerang Kerajaan Blambangan, ia digantkan oleh putranya Sunan Prawoto menjadi raja Demak. Saat menjadi raja Demak, Sunan Prawoto mengirim Maulana Hasanuddin dan Fatahilla untuk menyerang Kerajaan Pajajaran dan Portugis di kota Sunda Kelapa.

Sunan Prawoto kemudian meninggal pada tahun 1549 karena dibunuh oleh Arya Penangsang yang merupakan putra dari Pangeran Surowiyoto sebagai aksi balas dendam terhadap Sunan Prawoto yang telah membunuh ayahnya. Arya Penangsang kemudian menjadi raja di Kerajaan Demak. Pada masa pemerintahan Arya Penagsang ini, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Jaka Tingkir. Jaka Tingkir kemudian mengutus Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi untuk membunuh Arya Penangsang, namu akhirnya Arya Penangsang terbunuh pada tahun 1554 oleh Sutawijaya yang merupakan putra dari Ki Ageng Pemanahan.

Dengan meninggalnya Arya Penagsang, Kerajaan Demak dikuasai oleh Jaka Tingkir dan nama Kerajaan Demak diubah menjadi Kerajaan Pajang. Sebagai hadiah dari Jaka Tingkir, Ki Penjawi kemudian diangkat menjadi penguasa di Pati, sementara Ki Ageng Pemanahan diangkat sebagai penguasa di Mataram. Pada perkembangan selanjutnya, pemerintahan Ki Ageng Pemanahan di Mataram digantikan oleh putranya Sutawijaya.

Di masa pemerintahan Sutawijaya, wilayah Mataram memisahkan diri dari Kerajaan Pajang. Sementara itu, Jaka Tingkir kemudian meninggal pada tahun 1582. Semenjak meninggalnya Jaka Tingkir, terjadi persaingan untuk memperebutkan kekuasaan Kerajaan Pajang antara Pengeran Benawa yang merupakan putra dari Jaka Tingkir denagn Arya Pangiri yang merupakan menantu dari Jaka Tingkir. Dari persaingan ini, Paneran Benawa tersingkir, sementara Arya Pangiri berhasil menjadi penguasa Kerajaan Pajang pada tahun 1583.

Pangeran Benawa selanjutnya melakukan persekutuan dengan Sutawijaya yang merupakan penguasa mataram untuk merebut tahta Kerajaan Pajang dari tangan Arya Pangiri. Dengan demikian, Kesultanan Mataram menyerang Kerajaan Pajang yang menyebabkan kekalahan Kerajaan Pajang dan tersingkirnya Arya Pangiri. Akhirnya Pangeran Benawa berhasil menjadi penguasa Pajang pada tahun 1586 hingga meninggal pada tahun 1587, namun karena tidak memiliki penerus di Kerajaan Pajang, maka wilayah Pajang dimasukkan ke dalam wilayah Kesultanan Mataram.

Pada tahun 1601, Sutawijaya meninggal, pemerintahan di Kesultanan Mataram kemudian dipegang oleh Mas Jolang. Mas Jolang meninggal karena kecelakaan saat berburu pada tahun 1613, sehingga Mataram dipimpin oleh Adipati Martopuro. Namu Adipati Martopuro mengidap penyakit syaraf sehingga pemerintahan di Kesultanan Mataram diserahkan kepada Mas Rangsang.

Pada masa pemerintahan Mas Rangsang atau yang lebih dikenal dengan gelar Sultan Agung, Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaan, di saat yang bersamaan pula pengaruh VOC semakin menguat di Jawa. Anatara Kesultanan Mataram dan VOC saling bersaing untuk menguasai perdagangan. Akibat terjadi gesekan dalam penguasaan perdagangan, Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon, serta terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah Sultan Agung wafat, ia dimakamkan di Imogiri kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I).

Pada masa pemerintahan Amangkurat I, Kesultanan Mataram mengalami kekacauan dan kurang stabil karena banyak ketidakpuasan serta pemberontakan. Pada masa ini, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya. Untuk memadamkan pemberontakan ini, Amangkurat I terpaksa menjalin persekutuan dengan VOC yang awalnya merupakan pesaingnya. Dengan terjalinnya persekutuan ini, VOC bisa dengan bebas mencampuri urusan pemerintahan di Kesultanan Mataram.

Amangkurat I kemudian wafat pada tahun 1677 di Tegalarum. Penggantinya, Amangkurat II sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Pengganti Amangkurat II ialah Amangkurat III, namun VOC tidak menyukai Amangkurat III karena menentang VOC, sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi king in exile hingga tertangkap di Batavia ialalu dibuang ke Ceylon. Amangkurat III kemudian digantikan oleh Amangkurat IV, sementara Pakubuwana I digantikan oleh Pakubuwana II.

Untuk mengakhiri kekacauan politik yang terjadi di Kiesultanan Mataram, maka pada masa pemerintahan Pakubuwana III diadakanlah Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Isi perjanjian itu adalah membagi wilayah Kesultanan Mataram menjadi dua, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta (selanjutnya berubah menjadi Kesultanan Yogyakarta) dan Kasunanan Surakarta. Kesultanan Ngayogyakarta dipimpin oleh Hamangkubuwana I yang merupakan putra Amangkurat IV, sementara Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Pakubuwana III. Berakhirlah era Kesultanan Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah.