Berapa Lama Perang Aceh Berlangsung? | Attoriolong

Berapa Lama Perang Aceh Berlangsung?

Penulis: -
Berapa Lama Perang Aceh Berlangsung?
Kesultanan Aceh merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar yang pernah Berdiri di ujung utara Sumatera. Kerajaan yang dijuluki sebagai Negeri Serambi Mekkah itu didirikan pada tahun 1496. Selama lebih dari 400 tahun berdiri, Kesultanan Aceh telah banyak melewati berbagai peperangan.

Salah satu peran terbesar yang pernah dilakukan Kesultanan Aceh yaitu peperangan melawan Belanda. Peperangan ini telah melahirkan beberapa tokoh pejuang dari Aceh di antaranya, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Tengku Cik Ditiro, dan Cut Nyak Mutia.

Sementara itu, bagi pihak Belanda, Perang Aceh merupakan perang terberat yang pernah dilakukannya untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Tidak seperti kerajaan yang lainnya di Nusantara, ketika istana dan raja sudah bisa ditaklukkan, maka rakyatnya juga telah berhenti melakukan perlawanan. Namun di Kesultanan Aceh, hal itu berbeda. Dengan ditaklukkannya istana dan raja, rakyat Aceh tidak berhenti melakukan perlawanan, ketika satu pemimpin perlawanan tertangkap, maka akan muncul perlawanan yang lainnya. Hal ini terjadi karena masyarakat Aceh mengobarkan perang jihat.

Begitu sulitnya Perang Aceh bagi Belanda, sampai-sampai Belanda harus mendatangkan ilmuan Snouck Hurgronje untuk mempelajari masyarakat Aceh dan Agama Islam yang merupakan pegangan utama masyarakat Aceh dalam menjalankan perang jihat. Melihat realita tersebut, Aceh merupakan wilayah terakhir yang sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda. Berapa lama sebenarnya perang Aceh ini berlangsung?
Van Heutsz sedang memperhatikan pasukannya dalam penyerangan ke Batee Iliek pada Perang Aceh. Foto: wikipedia.org
Perang Aceh melawan Belanda dimulai tanggal  Maret 1873, setelah Komisaris Hindia Belanda, Niewenhuyzen, mengumumkan perang terhadap Kerajaan Aceh dari geladak kapal Citadel Van Antwerpen yang berlabuh di Pantai Ulele.

Perbedaan pandangan mengenai berakhirnya Perang Aceh belum dapat dipecahkan. Van Swieten menganggap Aceh sudah takluk setelah keraton Aceh jatuh di awal tahun 1874, bahkan hal ini telah diumumkan ke seluruh dunia. Van Swieten beranggapan bahwa ketika kraton jatuh dan raja mangkat, maka rakyat akan takluk.

Van Swieten keliru, perjuangan rakyat Aceh tidak bergantung pada istana dan sultan. Istana boleh hancur, sultan boleh gugur, namun kemerdekaan, keadilan, dan keyakinan akan dipertahankan sampai titik darah terakhir.

Ahli sejarah Belanda ada yang berpendapat bahwa perang Aceh melawan Belanda berakhir pada tahun 1903, setelah sultan Aceh terakhir, Alaiddin Muhammad Daud Syah, turun tahta bersama Panglima Polem. Ada juga yang berpendapat bahwa Perang Aceh berakhir pada tahun 1912, 1913, 1916, dan 1917.

Namun, para ahli sejarah cenderung menyetujui pendapat Paul Van Veer, seorang penulis Belanda. Dalam buku De Atjeh Oorlog, Van Veer menulis bahwa perang tersebut baru berakhir pada waktu Belanda dikalahkan oleh Jepang pada tahun 1942.

“Dengan pandangan ini, maka perang Belanda di Aceh berlangsung dari tanggal 26 Maret 1873 sampai Maret 1942, suatu perlawanan yang cukup panjang (selama 69 tahun) dan melelahkan,” tulis Drs M. Thamrin Z, mantan Kepala Perpustakaan Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Aceh dalam makalahnya yang berjudul “Peranan Aceh Selatan dalam Perang Kemerdekaan Aceh.” Makalah ini disampaikan dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Aceh Selatan di Tapaktuan pada bulan Mei 1989.