5 Perkara Penyebab Runtuhnya Sebuah Negara Menurut Karaeng Pattingalloang | Attoriolong

5 Perkara Penyebab Runtuhnya Sebuah Negara Menurut Karaeng Pattingalloang

Penulis: -
5 Perkara Penyebab Runtuhnya Sebuah Negara Menurut Karaeng Pattingalloang
Karaeng Pattingalloang adalah tokoh intelektual dan seorang perdana menteri dari Kerajaan Gowa-Tallo yang memerintah dari tahun 1641 sampai dengan 15 September 1654. Karaeng Pattingalloang tersohor karena ketertarikannya yang tinggi pada ilmu pengetahuan barat pada masa itu.

Menurut Denys Lombard, peneliti ternama kebudayaan Asia Tenggara, Karaeng Pattingalloang adalah Perdana Menteri dan penasihat utama raja Gowa, Sultan Muhammad Said (1639-1653) yang masa pemerintahannya kurang lebih bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Gowa. Karaeng Pattingalloang menguasai setidaknya 3 bahasa populer pada masanya yaitu bahasa Spanyol, Latin dan Portugis.

Untuk memenuhi ketertarikannya yang tinggi di bidang ilmu pengetahuan, Karaeng Pattingalloang membangun perpustakaan pribadi, dengan koleksi berbagai buku, atlas Eropa dan bola dunia. Ia juga tercatat pernah memesan teleskop ciptaan Galileo Galilei yang mana teleskop tersebut baru datang tujuh tahun setelah pemesanan.

Selain ilmu-ilmu yang bersifat fisis, Karaeng Pattingalloang juga memiliki ketertarikan terhadap berbagai jenis satwa. Ia memiliki banyak koleksi satwa seperti, badak, kuda nil, jerapah, unta, kuda, berbagai jenis antilop, zebra, dan anoa.
Karaeng Pattingalloang
Namun, ada hal yang sangat menarik untuk dibahas dari Karaeng Pattingalloang ini yang kaitannya mengenai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menurutnya ada lima hal menyebabkan keruntuhan sebuah negara. Adapun lima perkara tersebut di antaranya:

1. Apabila kepala negara yang memerintah tidak lagi mau dinasihati (punna tenamo naero nipakainga Karaeng Manggauka).
Ketika seorang pemimpin merasa dirinya tidak butuh nasehat, teguran, serta kritikan orang lain atas kesalahan yang mungkin diperbuatnya, maka pemimpin yang demikian adalah pemimpin yang tidak baik. Sikap ini bukan hanya tidak baik tetapi juga sangat berbahaya, pemimpin yang tidak tahan kritik semacam ini akan menimbulkan sistem pemerintahan yang dianggap diktator. Sejarah mencatat beberapa pemimpin dunia yang sangat kejam dan keji memerintah secara diktator.

2. Apabila tidak ada lagi cendekiawan yang tulus mengabdi di dalam negeri (punna tenamo tumangngaseng ri lalang pa’rasangnga).
Peran seorang cendekiawan ataupun seorang intelektual dalam membangun sebuah peradaban sangat penting. Kita bisa lihat bagaimana zaman keemasan dari sebuah negara ditandai dengan banyaknya cendekiawan-cendekiawan yang lahir. Pada zaman dahulu bagaimana kawasan Yunani begitu maju dikarenakan banyaknya cendekiawan yang membangun peradaban Yunani. Siapa yang tidak mengenal Socrates, Plato, maupun Aristoteles.

Dunia Arab dan Islam pun pernah mengalami masa kejayaan bukan dikarenakan banyaknya daerah jajahan atau banyaknya pedagang-pedagang yang kaya, melainkan peradaban Arab dan Islam dikenal karena mempunyai cendekiawan-cendekiawan yang hebat. Kita pasti mengenal Al Khawarizmi, Ibnu Sina, hingga Ibnu Rusyd. Apa bila sebuah peradaban tidak lagi memiliki cendekiawan, maka peradaban tersebut tidak akan berkembang lagi, bahkan akan musnah.

3. Jika terlalu banyak kasus hukum yang besar di dalam negeri, hingga menyusupkan muak di hati (punna tenamo gau lampo ri lalang pa’rasangnga).
Dalam konteks nasional, realitas yang terjadi memang sudah banyak sekali kasus-kasus besar yang terjadi. Di sinilah dituntut bagaimana peran serta cendekiawan sebagai orang yang berilmu memberikan pemahaman kepada masyarakat banyak, guna menghindari tingkah laku yang bisa membuatnya jatuh dalam perbuatan yang salah.

Sebenarnya hal ini juga sungguh ironis dikarenakan yang banyak melakukan perbuatan salah tersebut adalah orang-orang besar. Bagaimana di negeri ini para penegak hukum, para wakil rakyat, maupun para pemimpin yang justru melakukan perbuatan salah. Mulai dari korupsi, menerima suap, hingga menyebarkan kebencian yang tidak berdasar.

4. Jika banyak hakim dan pejabat suka makan suap (punna angngallengasemmi’ soso’ pabbicaraya).
Manusia cenderung berambisi hidup dengan kemewahan, kehormatan dan jenuh dengan kemiskinan dan penderitaan. Sebagian orang walau sudah bekerja bermandikan keringat namun hasil yang didapat hanya sedikit saja. Bergerak dari keadaan yang demikian sebagian ingin mencoba memperbaiki kedudukan dan ekonominya secepat mungkin dengan usaha dan pengorbanan yang seminim mungkin juga.

Secara logika hal itu tentu tidak mungkin. Namun karena sudah terpatri di dalam pikirannya maka manusia yang tergolong dalam tipe di atas jadi terjerumus dengan melakukan apa pun yang dapat dia lakukan tanpa mempertimbangkan apakah tindakan itu menyalahi prinsip-prinsip moralitas, etika, dan merugikan orang lain.

Berbagai cara haram pun mulai menjamur di dalam pikiran mereka dan salah satu di antaranya adalah dengan memberikan suap. Memberi suap sepertinya tidak menjadi rahasia lagi, begitu memasyarakatnya aksi tersebut sehingga orang yang memberikan dan menerima suap itu tidak merasa bersalah lagi bahkan dikatakan saling tolong-menolong.

5. Jika penguasa yang memerintah tidak lagi menyayangi rakyatnya (punna tenamo nakamaseyangi atanna Manggauka).
Menyayangi di sini tentulah banyak parameter untuk menyebutkannya. Menyayangi bisa berarti menghargai kebebasan masyarakatnya sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Di mana kebebasan beragama, berkeyakinan, dan berpendapat haruslah dilindungi sehingga tidak ada lagi diskriminasi berdasarkan entitas tertentu. Menyayangi juga dapat dimaksudkan dengan perwujudan dari keadilan ekonomi dan sosial. Mulai dari tidak adanya lagi diskriminasi maupun pembangunan yang harusnya melingkupi seluruh negeri.