Animisme dan Dinamisme: Bentuk Kepercayaan Asli Masyarakat Nusantara | Attoriolong

Animisme dan Dinamisme: Bentuk Kepercayaan Asli Masyarakat Nusantara

Penulis: -
Animisme dan Dinamisme: Bentuk Kepercayaan Asli Masyarakat Nusantara
Indonesia adalah negara yang memiliki banyak kekayaan. Tak hanya kaya akan sumber daya alam dan budayanya, Indonesia juga memiliki keberagaman agama yang dianut oleh masyarakatnya. Meski agama di Indonesia cukup beragam, tak membuat masyarakat menjadi terpecah belah. Keberagaman umat beragama di Indonesia dibingkai dalam sila pertama Pancasila yang berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa." Selain beberapa agama, di Indonesia juga terdapat beberapa kepercayaan.

Kepercayaan merupakan satu keyakinan pada sesuatu hingga mengakibatkan penyembahan, baik kepada Tuhan, roh atau lainnya. Di Indonesia sendiri ada banyak bentuk kepercayaan yang berkembang, kebanyakan kepercayaan tersebut digolongkan ke dalam bentuk kepercayaan animisme dan dinamisme. Bentuk kepercayaan ini bahkan sudah ada jauh sebelum agama Hindu, Buddha, Islam dan Nasrani datang ke Nusantara, beberapa bahkan masih bertahan hingga sekarang.

Kepercayaan animisme adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animisme mempercayai bahwa setiap tempat di Bumi ini seperti kawasan tertentu, gua, pohon atau batu besar, mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar roh tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari roh jahat dalam kehidupan seharian mereka.

Masyarakat biasanya akan membawa sesajian ke tempat-tempat seperti pohon besar, batu, ataupun gua yang diyakini dihuni oleh roh-roh tersebut. Tujuannya yaitu agar tidak mengganggu mausia, bahkan roh tersebut dianggap bisa memperlancar segala urusan yang akan dikerjakan masyarakat.
Sesajen di bawah pohon. Foto: nahwatravel.co.id
Diperkirakan bahwa di provinsi Kalimantan Barat masih terdapat 7,5 juta orang Dayak yang tergolong pemeluk animisme, angka ini tergolong banyak untuk pemeluk animisme di Indonesia.

Selain dari pada jiwa dan roh yang mendiami di tempat-tempat yang dinyatakan di atas, kepercayaan animisme juga mempercayai bahwa roh orang yang telah mati bisa masuk ke dalam tubuh hewan. Roh-roh orang yang telah mati juga bisa memasuki tubuh babi atau harimau dan dipercayai akan membalas dendam orang yang menjadi musuh bebuyutan pada masa hidupnya. Bahkan hal tersebut dipercayai sampai turun temurun.

Kepercayaan ini berbeda dengan kepercayaan reinkarnasi seperti yang terdapat pada agama Hindu dan Buddha, di mana dalam reinkarnasi, jiwa tidak pindah langsung ke tubuh hewan lain yang hidup, melainkan melalui proses kelahiran kembali kedunia dalam bentuk kehidupan baru. Pada agama Hindu dan Buddha juga terdapat konsep karma yang berbeda dengan kepercayaan animisme ini.

Sementara itu, kepecayaan dinamisme adalah pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal menetap di tempat-tempat tertentu, seperti pohon-pohon besar. Arwah nenek moyang itu sering dimintai tolong untuk urusan mereka.
Mulai dari cincin permata, keris, hingga bambu ketemu ruas merupakan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan atau khasiat tersendiri. Foto: umum-pengertian.blogspot.com
Caranya adalah dengan memasukkan arwah-arwah mereka ke dalam benda-benda pusaka seperti keris, tombak, batu hitam atau batu merah delima. Ada juga yang menyebutkan bahwa dinamisme adalah kepercayaan yang mempercayai terhadap kekuatan yang abstrak yang berdiam pada suatu benda. istilah tersebut disebut dengan mana.

Sebagai contoh, masyarakat meyakini benda-benda yang berbentuk tidak lazim pada umumnya memiliki kekuatan atau khasiat tersendiri, seperti bambu ketemu ruas, cicak dengan ekor yang bercabang, atau bahkan batu yang memiliki ukiran tertentu.

Pada perkembangan selanjutnya, banyak terjadi percampuran dari kedua bentuk kepercayaan ini dengan agama yang baru masuk di kemudian hari.

Salah satu hal yang terpenting dalam kepercayaan animisme dan dinamisme ini adalah sarana yang digunakan dalam melekukan pemujaan. Ada beberapa benda atau bangunan yang dipergunakan, umumnya bangunan itu disebut dengan kebudayaan megalitikum karena biasanya dibuat menggunakan batu-batu besar, di antaranya dolmen dan punden berundak.

Dolmen merupakan meja batu yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesajian. Sementara punden berundak merupakan tempat pemujaan yang dibuat berundak-undak atau bertingkat-tingkat, konsep dasar yang dipegang sehingga membuat punden berundak atau bertingkat adalah para leluhur atau pihak yang dipuja berada pada tempat-tempat tinggi, biasanya puncak gunung.