Asal Usul Nama serta Sejarah Kemunculan Kerajaan Sidenreng dan Rappang

Penulis: -
Asal Usul Nama serta Sejarah Kemunculan Kerajaan Sidenreng dan Rappang
Kerajaan Sidenreng dan Rappang adalah dua kerajaan kembar yang diperintah oleh dua orang raja kakak beradik, oleh karena itu tidak ada batasan yang tegas memisahkan kedua wilayah kerajaan tersebut. Kini, kedua kerajaan tersebut telah menjadi Kabupaten Sidenreng Rappang, atau bagi masyarakat Sulawesi Selatan lebih mengenalnya dengan singkatan Kabupaten Sidrap.

Dalam manuskrip Lontara Sidenreng-Rappang hanya menggambarkan bahwa penduduk Sidenreng dan Rappang hanya dapat dibedakan saat panen padi, yang memanen padinya ke arah utara itulah rakyat Rappang, sementara yang memanen padinya ke arah selatan itulah rakyat Sidenreng.

Selain itu, kedua rajanya juga pernah berikrar. “Mate ele’i Rappang, mate aruwengngi Sidenreng. Mate aruwengngi Rappang, mate ele’i Sidenreng.” Artinya, apabila rakyat Rappang meninggal ketika pagi hari, maka rakyat Sidenreng meninggal di sore hari. Sebaliknya, apabila rakyat Rappang meninggal ketika sore hari, maka rakyat Sidenreng meninggal di pagi hari.

Baca juga: Sejarah Asal Mula Kemunculan Nama dan Kota Makassar

Nama Sidenreng untuk pertama kalinya diberikan oleh sekelompok orang yang dipimpin oleh delapan orang bersaudara dari Sangalla Tana Toraja yang hijrah meninggalkan daerahnya akibat kezaliman rajanya La Maddaremmeng yang tidak lain adalah saudaranya juga.

Adapun nama-nama delapan orang bersaudara tersebut diantaranya, La Wewangriu, La Togelipu, La Pasampoi, La Pakolongi, La Pababbari, La Panaungi, La Mappasessu, dan La Mappatunru.

Menilik nama-namanya yang tidak berciri Toraja, maka diduga mereka bukanlah penduduk Sangalla asli (etnis Toraja), melainkan mungkin berasal dari kerajaan Luwu. Ini diperkuat oleh sebuah sumber yang mengatakan bahwa Sangalla dahulu pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Luwu.

Pemberian nama Sidenreng adalah untuk memperingati peristiwa mula pertama kedatangan mereka di tempat itu dengan cara saling bergandengan tangan (sidenreng atau sirenreng dalam bahasa Bugis) masuk ke danau untuk mandi dan mengambil air (danau itu kini dikenal dengan nama Danau Sidenreng).
Arung La Taritoe, pabicara dari Rappang, 1905-1906. Foto: sultansinindonesieblog.wordpress.com
Dari peristiwa itu maka wilayah tersebut diberi nama Sidenreng. Namun orang Bone, Soppeng, dan Wajo menyebut tempat itu dengan nama Tanae Aja Tappareng. Artinya, daerah yang berada di sebelah barat Danau Sidenreng (dalam bahasa Bugis, danau disebut tappareng, sementara barat disebut aja atau riaja).

Di daerah Ajatappareng ini kemudian terbentuk lima kerajaan-kerajaan lokal, yaitu, Sidenreng, Rappang, Sawitto, Suppa, dan Alitta. Kerajaan-kerajaan inilah yang sesungguhnya disebut Lima Ajatappareng.

Sekarang Lima Ajatappareng ini nampaknya diperluas wilayahnya yang meliputi bekas Afdeling Parepare, yakni Kabupaten Barru, Kota Parepare, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidenreng Rappang, dan Kabupaten Enrekang.

Baca juga: Sejarah Asal Muasal Penamaan Air Terjun Bantimurung di Maros

Selanjutnya mengenai Rappang. Kota Rappang berasal dari kata rappeng. Dahulu sungai yang mengalir di Rappang sangat lebar dan bagian hulunya tumbuh hutan belukar yang lebat. Apabila turun hujan maka dahan-dahan itu hanyut dan membentuk daratan, itulah yang disebut Rappang, artinya rappeng-rappeng (dahan atau ranting yang hanyut) kemudian membentuk tempat pemukiman.

Sidenreng dan Rappang kemudian menjadi dua kerajaan kembar. Menurut Lontara Sidenreng dan Rappang, raja-raja yang memerintah di dua kerajaan ini berasal dari Sangalla, Toraja. Meskipun ada pula versi yang mengatakan berasal dari To Manurung (sosok manusia yang turun dari langit/tidak diketahui asal-usulnya) seperti halnya cerita-cerita kemunculan berbagai kerajaan lokal di Sulawesi Selatan.

Diceritakan bahwa setelah La Maddaremmeng serta kedelapan saudaranya telah meninggal, maka salah seorang anaknya yang bernama Balopattina bersama istrinya Datupattila menyusul ke Sidenreng, tetapi setelah mengetahui bahwa orang tuanya sudah tidak ada lagi, maka ia memutuskan untuk tinggal di Rappang, di sanalah ia melahirkan tiga orang anak yaitu, La Mallimbureng, We Tipu Uleng, dan seorang lagi tidak diketahui namanya.

La Mallimbureng lah kemudian yang diangkat menjadi raja pertama Sidenreng dengan gelar Addatuang Sidenreng. Sedangkan We Tipu Uleng dinobatkan menjadi raja pertamadi Rappang dengan gelar Arung Rappang. Sementara versi To Manurung mengatakan bahwa addatuang pertama Sidenreng ialah Manurungnge ri Bululoa, dan arung pertama di Rappang adalah We Tipu Uleng. [Alam A. Pangerang, Rimba. 2009. Sejarah Singkat Kerajaan di Sulawesi Selatan. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan].