Revolusi Cina: Berakhirnya Era Dinasti dan Munculnya Negara Republik | Attoriolong

Revolusi Cina: Berakhirnya Era Dinasti dan Munculnya Negara Republik

Penulis: -
Revolusi Cina: Berakhirnya Era Dinasti dan Munculnya Negara Republik
Lebih dari 100 tahun yang lalu para pejuang di Cina mendeklarasikan berdirinya negara republik. Dengan demikian setelah 2.000 tahun diperintah para raja, Tiongkok bukan lagi berbentuk kerajaan, melainkan menjadi negara Republik Cina.

Menurut sejarawan Edwardj. M. Roads dalam bukunya “Manchus & Han: Etnic Relations and Pholitic Power in Lateqing and Early Republik China 1861-1928” peristiwa itu dikenal dengan peristiwa revolusi xinhay yang juga popular disebut revolusi 1191 atau revolusi Cina.

Para tokoh nasionalis seperti Sun Yat Sen, saat itu berhasil menggalang pemberontakan untuk menggulingkan kekaisaran Dinasti Qing yang telah berkuasa sejak tahun 1644 hasilnya, kaisar terakhir Dinasti Qing resmi diturunkan dari kekuasaan pada 12 Februari 1912.

Revolusi itu merupakan reaksi atas ketidakmampuan Dinasti Qing untuk mengangkat kembali kejayaan Cina, bahkan, kekaisaran Cina dalam tahun-tahun terakhir malah tunduk pada kekuatan-kekuatan saing, baik dari barat maupun dari jepang. Rakyat pun dibiarkan melarat sehingga membuat Sun Yat Sen  dan para pejuang lain melancarkan perlawanan untuk mengakhiri kekuasaan raja di Cina.

Sebelum Cina menjadi sebuah Republik, kekuasaan pemerintahan dipegang oleh Dinasti Qing yang merupakan sebuah pemerintahan feodal penganut sistem monarki yang di mana sumber pemerintahannya ditentukan oleh satu garis keturunan kerajaan.

Selama masa pemerintahan Dinasti Qing keadaan rakyat Cina sangat lemah dikarenakan penindasan oleh kaum penguasa, terlebih lagi ditambahnya dengan faktor korupsi oleh pemerintahan yang membuat nasib rakyat semakin sengsara dan jatuh miskin serta lemahnya pemerintahan dari intervensi asing yang memiliki kepentingan tertentu di Cina.

Akibat faktor-faktor tersebut timbul keinginan untuk mengubah tatanan pemerintahan baru yang lebih bersih dan lebih baik di daratan Cina yang membawa Cina pada sebuah revolusi seperti negara-negara lain yang telah melakukan revolusi demi sebuah demokrasi di negaranya, Dr. Sun Yat Sen merupakan seorang revolusioner yang mempunyai cita-cita idealis menasionalismekan demokrasi di Cina untuk masa depan Cina yang lebih baik lagi.
Jalan Nanjing setelah pemberontakan Shanghai. Foto: wikipedia.org
Pada awalnya gerakan revolusioner Cina lebih banyak mendapatkan dukungan dari luar negeri Cina, pergerakan Yat Sen sendiri pada awalnya adalah memberikan ceramah dan kuliah umum kepada orang-orang Cina khususnya yang peduli akan nasib bangsanya demi generasi selanjutnya, langkah tersebut untuk mengumpulkan masyarakat Cina yang sama-sama peduli akan masa depan bangsanya serta sebagai upaya meyakinkan masa pendukung revolusi dan membuat organisasi bawah tanah pemberontak Dinasti Qing yang bertujuan membuat pemerintahan baru di dataran Cina.

Revolusi ditandai dengan kudeta militer di Wuhan, Cina bagian tengah yang dilancarkan kelompok bawah tanah anti Dinasti Qing dengan dukungan kaum revolusioner di pengasingan, konflik senjata yang saat itu berlangsung berhasil diakhiri dengan melalui kompromi politik yang dilakukan oleh sikai, panglima militer Dinasti Qing dengan Sun Yat Sen yang merupakan pemimpin aliansi kaum revolusioner Cina.

Kompromi itu juga menghasilkan pengalihan kekuasaan dari Dinasti Qing ke republik yang baru, pemerintahan republik dijalankan oleh Yuan, yaitu bentukan dari partai politik dan hasil pemilu parlemen pertama pada 1913. Sun Yat Sen sendiri sempat menjadi presiden sementara Republik Cina (29 Desember 1911 - 10 Maret 1912).

Langkah Yat Sen sendiri pada awalnya tidak terbilang mudah, dikarenakan dia menjadi buronan Dinasti Qing di Cina dan adanya rasa ketidakpercayaan atau rasa pesimis dari rakyat Cina untuk menumbangkan Dinasti Qing.

Dengan jerih payah mengorbankan pikiran tenaga dan uang dari para anggota pendukung revolusi yang memiliki cita-cita sama untuk membentuk suatu pemerintahan baru terbentuklah organisasi revolusioner Cina di Amerika Serikat, Yat Sen dalam pergerakannya tidak bisa memunculkan dirinya secara langsung di Cina karena status buron yang disandangnya dapat membuat cita-cita organisasi gagal.

Maka dengan kondisi tersebut Yat Sen bergerak menggunakan utusan terpercaya dan pesan telegram yang ditunjukkan kepada orang kepercayaannya di daratan Cina serta terus memantau pemberitaan Cina melalui media masa terutama surat kabar.

Pada tanggal 27 April 1911 terjadi penyerangan pertama pemberontak ke rumah Gubernur Guangzhou, namun penyerangan tersebut gagal dikarenakan Guburnur Guangzhou yang menjadi sasaran utama dapat meloloskan diri dari serangan tersebut.

Namun revolusi terus berlanjut hingga pada malam 10 Oktober 1911 terjadi serangan kembali oleh para pemberontak dari pasukan The Hubey New Army Eighth Engineering Battalion yang memberontak di Wuchang setelah dibunyikannya lonceng kematian pengadilan Qing yang bertujuan menyerang dan mengambil alih kediaman Gubernur Huguang.

Penyerangan tersebut merupakan awal keberhasilan revolusi Cina, setelah penyerangan itu Yat Sen melakukan negosiasi politik di Eropa untuk membatalkan pemberian dana pinjaman yang diminta oleh Dinasti Qing yang beralasan sebagai proyek kereta api.

Negosiasi politik itu dilakukan untuk melemahkan kekuatan militer Dinasti Qing, dikarenakan dana tersebut selain untuk membangun jalur kereta api juga digunakan untuk mendanai pasukan militer Dinasti Qing yang melawan para pemberontak.
Mao Zedong. Foto: wikipedia.org
Pada 13 Oktober 1911 kekuatan militer pemberontak semakin kuat dengan keberadaan jendral Li Yuanhong dari The Hubey New Army Eighth Engineering Battalion yang menerima permintaan revolusioner sebagai Gubernur Militer sementara, kabar tersebut telah tersebar ke berbagai negara melalui telegram. Serangan besar terakhir kembali terjadi di awal November yang bertujuan menyerang Hankou pada saat Provinsi Hanyang dikuasai oleh militer Qing hingga 26 November 1911.

Yat Sen melakukan pergerakan revolusi langsung di Cina setelah para pemberontak berhasil menaklukan Wuchang, setelah merasa organisasi revolusioner cukup kuat adalah dengan melakukan pertempuran pemberontakan perlawanan untuk merebut satu per-satu provinsi yang berada dibawah Dinasti Qing hingga akhirnya mendapatkan 17 provinsi yang bergabung dan menyepakati revolusi untuk meninggalkan sistem pemerintahan feodal menuju pembangunan pemerintahan Republik Cina.

Berita kesuksesan pemberontakan untuk sebuah revolusi di negaranya ini tersebar ke berbagai negara melalu telegram dan media masa.

Pada 10 Oktober 1911 dibangun konstitusi sebagai jalan menuju pemerintahan Republik dan dilanjutkan dengan diadakannya pemilu pertama di Cina yang diikuti oleh perwakilan dari masing-masing provinsi yang menjadikannya Dr. Sun Yat Sen sebagai Presiden sementara Republik Cina pada 29 Desember 1911 sekaligus menandainya berdirinya Republik Cina, pada tanggal 12 Februari 1912 Kaisar Qing menyatakan untuk turun takhta dikarenakan kondisi Dinasti Qing yang tidak memungkinkan untuk bertahan lebih lama lagi dan menumbangkan hegemoni Dinasti Qing.

Sehari kemudian setelah Dinasti Qing tumbang atau pada tanggal 13 Februari 1912 Presiden Sun Yat Sen mengadakan pertemuan dengan perwakilan beberapa negara seperti Inggris, Jepang, dan Jerman untuk meminta pengakuan atas berdirinya Republik Cina kemudian mengundurkan diri sebagai Presiden sesuai dengan janjinya yang akan turun dari kursi kepresidenan setelah tumbangnya hegemoni kekaisaran.

Setelah kekaisaran berhasil digulingkan, situasi di Cina bukan langsung membaik. Negara itu tidak lama dilanda perang saudara selama bertahun-tahun, yang berujung pada pertikaian dua kubu, yaitu kekuatan nasionalis pimpinan Jenderal Ciang Kai Shek dan kubu komunis pimpinan Mao Zedong.

Pada 1949, kubu nasionalis akhirnya tersingkir dari Cina daratan, mereka pindah ke pulau Taiwan dengan tetap memakai nama Republik Cina. Kubu komunis pada 1 Oktober 1949 mendirikan negara baru bernama Republik Rakyat Cina (RRC).

Namun, pemerintah dan RRC termasuk Hongkong dan Macau tetap merayakan perjuangan 10 Oktober 1911 itu sebagai hari peringatan revolusi xinhai. Sedangkan Republik Cina di Taiwan menjadikan tanggal 10 Oktober sebagai hari jadi negara mereka.