Riwayat Ratu Tanete We Tenriolle

Penulis: -
Riwayat Ratu Tanete We Tenriolle
We Tenriolle merupakan putri dari Colli Pujie Arung Pancana bersama To Appotase Arung Ujung. We Tenriolle memiliki beberapa saudara diantaranya La Makkawaru Arung Ujung dan I Gading Arung Atakka. We Tenriolle kemudian menikah dengan sepupunya La Sangaji Datu Bakke dan melahirkan beberapa orang anak diantaranya La Tenrisessu Datu Bakke, We Pancaitana Datu Tanete, We Patteketana Arung Lalolang, dan Sahari Banong Arung Pao-Pao.

We Tenriolle kemudian dipersiapkan oleh kakeknya La Rumpang Dulung Lamuru untuk menjadi raja di Tanete, ia selanjutnya diangkat menjadi Puang Lolo atau putri mahkota. Ketika La Rumpang Meninggal dunia, We Tenriolle selanjutnya dinobatkan menjadi raja di Tanete pada tahun 1855. Setelah We Tenriolle resmi menjadi raja, suaminya La Sangaji kemudian datang dari Mario untuk mengambil selempang kerajaan. Setelah itu We Tenriolle mengutus seseorang ke Makassar untuk menyampaikan berita kematian La Rumpang Pemerintah Belanda.

Tidak lama kemudian, Tuan Sekertaris P. C. Wijn Malen bersama dengan juru tulis Daeng Mattola datang ke Tanete menggunakan kapal. Mereka diutus oleh Gubernur Makassar untuk menjemput We Tenriolle yang akan dilantik. Disamping tujuan itu, ia juga membawa uang duka atas meninggalnya La Rumpang.

Seluru Ade’e ri Tanete atau Hadat Tanete kemudian dikumpulkan di Bola Balandae atau tempat peristirahatan orang Belanda di Tanete. Tuan Sekertaris kemudian mengumumkan beberapa hal, diantaranya penyerahan uang duka kematian La Rumpang, perintah penyerahan bendera kerajaan Tanete kepada Belanda, serta penyampaian pemanggilan kepada We Tenriolle untuk dilantik di Makassar.

Baca juga: Koleksi Foto Ratu Tanete We Tenriolle

We Tenriolle yang dalam keadaan hamil kemudian berangkat ke Makassar dengan menumpangi kapal Tuan Komisaris. La Sangaji juga datang membawa Sembangeng atau selempang kerajaan Tanete. Selain selempang kerajaan, ikut dibawa serta pula bendera kerajaan Tanete Bate Bolongnge yang kemudian nanti setelah berada di Makassar untuk smentara waktu tetap disimpan hingga ada persetujuan lebih lanjut dari Tuan Gubernur Jenderal di Batavia. Rombongan We Tenriolle kemudian berlayar ke Pancana selanjutnya melanjutkan pelayaran menuju Makassar.

Setelah mereka sampi di Makassar, Juru Basa Lompoe atau Juru Bahasa Utama datang menjemput rombongan We Tenriolle, lalu membawanya ke Bola Sombae atau Istana. Setelah cukup dua malam We Tenriolle berada di Makassar, ia kemudian melahirkan bayi perempuan, anaknya tersebut kemudian diberi nama We Pancaitana. Setelah hal tersebut diberitahukan kepada Karaengnge ri Gowa yang bernama Petta Aga Pancae, ia kemudian segerah memerintahkan utusannya yang bernama Igau untuk menyusui anak We Tenriolle tersebut.

Tuan Admiral P. C. Wijn Malen yang diutus oleh Gubernur Makassar kemudian datang memberi ucapan selamat kepada We Tenriolle atas kelahiran putrinya. Tuan Wijn Malen juga menyerahkan Kalakari atau segel sebanya dua buah, Kallasa Eja atau tinta merah satu botol, Golla Batu atau gula pasir sebanyak satu ton, beberapa uang dan sebuah cermin yang besar. Utusan Karaengnge ri Gowa yang bernama Ipoppo juga datang memberikan seekor kerbau dan gabah sebanyak 40 kwintal. Karena We Tenriolle baru saja melahirkan, maka upacara pelantikannya ditunda oleh Belanda.
We Tenriolle. Foto: Collectie Tropenmuseum.
Selang dua belas hari setelah We Tenriolle melahirkan, ia kemudian kembali ke Tanete untuk melaksanakan pesta hajatan akikah untuk anaknya We Pancaitana. Kapitang Malaju juga datang membawakan Genrang Pattimang-timang pada pesta hajatan akikahan tersebut. Ketika We Tenriolle sedang berada di Tanete, tersiar kabar bahwa Gubernur di Makassar yang bernama Pandarahammeng atau Van Der Ham dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Setelah itu Van Der Ham digantikan oleh Tuang Dibaro atau Van Den Boor.

Baca juga: Colliq Pujie: Sastrawan Bugis Berdarah Melayu

Setelah tujuh bulan berselang, Juru Tulis Daeng Mattola datang ke Tanete untuk memanggil kembali We Tenriolle untuk melanjutkan kembali pelantikan yang sebelumnya sempat tertunda, pada waktu itu We Tenrilolle telah hamil kembali, dan usia kandungannya juga telah mencapai tujuh bulan.

We Tenriolle kemudian kembali lagi ke Makassar ditemani oleh La Sangaji, serta beberapa orang rombongan kerajaan. Namun ketika tiba di Makassar, We Tenriolle tidak bisa mengikuti prosesi pelantikan tersebut, ia selanjutnya diwakili oleh Suaminya La Sangaji yang memakai selempang kerajaan dan pergi menemui Van Den Boor. Bendera Bate Bolongnge kemudian diserahkan kembali kepada We Tenriolle.

Selang beberapa lama kemudian, We Tenriolle kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama La Tenrisessu Datu Bakke. Pada masa pemerintahan We Tenriolle inilah banyak wilayah kerajaan Tanete yang sebelumnya diambil alih oleh Belanda kini dikembalikan, beberapa wialayah tersebut diambil alih oleh Belanda ketika La Patau masi memerintah, La Patau merupakan raja yang tidak mau tunduk dan patuh kepada orang Belanda, sehingga Belanda menyerangnya dan beberapa wilayah Tanete diambil alih Belanda.

Oleh karena itu We Tenriolle rela bersekutu dengan Belanda, mengabdikan dirinya kepada Gubernur Hindia Belanda secara bersungguh-sungguh agar semua palili atau kerajaan bawahan Tanete dikembalikan kepadanya.

We Tenriolle juga mempersatukan kembali semua nanak kerajaan Tanete yang dikenal dengan istiah Pitue Lompo atau tujuh negeri sehingga pendapatan kerajaan Tanete bertambah, di mana setiap Lompo atau kampung masing-masing memberikan upeti atau pajak.

Di Tanete juga pernah terjadi perang saudara dalam Kerajaan Tanete yang dinamakan dengan Rumpa’na Lipukasi. Peperangan terjadi antara We Tenriolle dengan Makkarumpa Daeng Parani yang merupakan arung Lipukasi. perang ini meletus gara-gara umbaran kata cinta Makkarumpa kepada We Tenriolle, namun di mata kerabat We Tenriolle dianggap sebagai penghinaan.

Baca juga: Petta Pallase-Lase'E dan Masuknya Agama Islam di Barru

Dalam perang ini, kedua belah pihak saling mengayunkan tombak dan menghujankan keris kawali. Pihak yang bertikai masing-masing dari sisi Sungai Bottoe berhadap-hadapan setelah kaum perempuan mendendangkan elong mosong sebagai pembakar semangat. Hebatnya seorang pasukan We Tenriolle yang bernama La Pasarai sambil menggigit tombak menceburkan diri ke dalam sungai, menyerang diikuti semua tau warani (pemberani) dari beberapa penjuru.

Dalam musu Lipukasi tersebut pasukan Tanete terbagi menjadi dua kelompok. Pasukan Tanete Rilau dipimpin oleh La Pasarai yang juga merupakan kerabat raja, sedangkan pasukan Lompo Riaja dikomandoi oleh La Manda Arung Kading. Perang akhirnya dimenangkan oleh We Tenriolle.

Pada 1856, Sekertaris Umum atas nama pemerintah Belanda mengirimkan kepada La Sangaji Datu Bakke sebuah akte (17 Februari 1856) yang menerangkan bahwa ia diberi kuasa untuk mendukung dan bekerja sama dengan istrinya We Tenri Olle dengan syarat bahwa jaminan ini berlaku apa bila ia telah menunjukkan sikap yang baik terhadap pemerintah.

Jaminan yang diberikan itu ternyata hanya berlangsung satu tahun saja karen pada Maret 1857, pemerintah memperoleh bukti bahwa La Sangaji Datu Bakke telah melakukan perdagangan budak ke Kalimantan, karena itu gubernur mengusulkan agar jaminan yang telah diberikan tidak berlaku lagi dan diberikan tempat di luar Tanete namun masih dalam wilayah pemerintahan Belanda.

Ususl dari gubernur tidak mendapat tanggapan dari pemerintah di Batavia, karena ketika itu sudah semakin keras tingkat permusuhan dengan Kerajaan Bone. Walaupun demikian sikap pemerintah di Makassar itu berpengaruh terhadap perilaku La Sangaji. Hal ini juga tentunya berkaitan dengan sikap istrinya We Tenriolle yang selalu berpihak kepada Gubernur Makassar.

Sejak saat itu, La Sangaji meninggalkan istrinya dan Tanete, serta kerap melakukan tindakan-tindakan yang dianggap melanggar aturan Belanda. Pada masa ini terjadilah peristiwa Pemberontakan La Sangaji, baik di Kerajaan Tanete, ataupun terhadap beberapa wilayah kekuasaan Belanda yang berlangsung mulai dari tahun 1856 hingga 1873.

Baca juaga: Makam We Tenri Olle (Raja Tanete Ke-18)

Dengan terjadinya rangkaian kekacauan di Kerajaan Tanete yang dilakukan oleh La Sangaji Datu Bakke menyebabkan kedudukan Ratu We Tenriolle senantiasa terancam. Pada sisi lain ancaman tersebut semakin mendekatkannya kepada pemerintah Belanda dengan memberikan bantuan bila diperlukan dan sebaliknya memohon bantuan bila We Tenriolle membutuhkannya.

Atas kerjasama itu, ia diberikan penghargaan dengan menganugerahkan Bintang Kehormatan Kerajaan Belanda (Commandeur Kruis der Orde van Orange-Nassau). Penganugerahan ini mebuktikan bahwa dia sangat berjasa dalam penyelenggaraan pemerintahan Hindia Belanda.

Hal ini mendorong We Tenriolle berhati-hati dalam memilih dan menentukan calon penggantinya bila kelak berhalangan tetap. Putra pertama yang dilahirkan ketika ia menduduki takhta kerajaan, La Tenrisessu Datu Bakke, memang telah lama dipersiapkannya. Putranya lalu dikirim dan menetap di Makassar dan mengikuti pendidikan yang didirikan oleh pemerintah kolonial.

Namun demikian tampak bahwa pemerintah tidak mendukungnya karena perbuatan ayahnya yang selalu berbuat onar di Tanete. Itu juga sebabnya sehingga ibunya tidak bersedia mencalonkannya menjadi putra mahkota kerajaan, tetapi menunjuk adik perempuannya, We Pancaitana Bungawalie Arung Pancana.
Makam We Tenriolle di Pancana. Foto: Erik Hariansah.
Walhasil, sepeninggal ibunya di tahun 1910, We Pancaitana Bungawalie yang dinobatkan menjadi Ratu Tanete. Sementara bagi para penguasa di dalam Kerajaan Tanete yang tidak sepaham dengan perilaku We Tenri Olle langsung meletakkan jabatannya.

We Tenri Olle sedang membangun negerinya yang kacau, tidak tentram dan jauh dari kata aman akibat pemberontakan yang dilakukan oleh bekas suaminya sendiri. We Tenriolle lebih banyak meminta bantuan kepada Pemerintah Belanda untuk memjaga keamanan di Kerajaan Tanete.

Pemerintah Belanda banyak membangun pos-pos penjagaan di daerah Kerajaan Tanete dan daerah-daerah di sekitarnya. Karena adanya hubungan yang baik antara ratu Tanete dengan Pemerintah Belanda, sehingga Ratu Tanete We Tenriolle dapat bersedia membantu tim pemetaan topografi dari pemerintah Belanda untuk bergiat menyelesaikan tugas mereka di Tanete dan Berru. Atas jasa itu, We Tenriolle dianugerahkan penghargaan berupa satu medali emas.

Karena kedekatan ratu Tanete dengan pemerintah Hindia Belanda ini membuat sang ratu tidak ragu lagi dengan pemerintah Belanda, bahkan pada perkembangan selanjutnya wilayah Kerajaan Tanete secara berangsur-angsur dimasukkan kedalam administrasi pemerintahan Hindia Belanda, seirama dengan perubahan politik Hindia Belanda di Nusantara.

We Tenriolle kemudian meninggal dunia pada tanggal 9 Oktober 1910 di Soreang sehingga diberi gelar anumerta Matinroe ri Soreang. Ia selanjutnya dimakamkan di Pancana, tepat di belakang masjid Mutaqaddiman Pancana. Pemerintahannya di Tanete kemudian digantikan oleh anaknya We Pancaitana.

Referensi:
       Asba, Rasyid. 2004. Tjollie Poejie Pendobrak Zaman, Bangsawan Bugis Berdarah Melayu. Bone: Makalah Seminar Nasional Tjollie Poejie Sebagai Pahlawan Nasional yang diadakan di Bone.
       __________. 2010. Gerakan Sosial Di Tanah Bugis, Raja Tanete Lapatau Menentang Belanda. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
       Gising, Basrah. 2002. Sejarah Kerajaan Tanete. Makassar: Sama Jaya.
       Koro, Nasaruddin. 2006. Ayam Jantan Tanah Daeng, Siri dan Pesse, Dari Konflik Lokal Hingga Pertarungan Lintas Batas. Jakarta: Ajuara.
       Munamirah, Sitti. 2014. We Tenriolle Datu Tanete XVIII Dalam Mengembangkan Islam di Kerajaan Tanete Barru (1855-1910). Skripsi. Makassar: Universitas Negeri Makassar.
       Nieman, G.K. 1883. Geschiedenis Van Tanette, Boeginesche Tekst Met Aantekeningen. S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.