Perjuangan La Tanring Melawan Belanda di Mallusetasi | Attoriolong

Perjuangan La Tanring Melawan Belanda di Mallusetasi

Penulis: -
Perjuangan La Tanring Melawan Belanda di Mallusetasi
Pada abad ke-19 Kecamatan Mallusetasi masuk wilayah pemerintahan Afdelling Parepare, yang dinamakan Selfbestuur Mallusetasi, yang terdiri dari beberapa kerajaan-kerajaan kecil diantaranya, Kerajaan Nepo, Palanro, Bojo, Bacukiki (sekarang masuk wilayah Parepare).

Pada abad itu terjadi perkawinan seorang pria berdama La Samaili dari penduduk kerajaan Palanro dengan seorang perempuan bernama I Makkatutu penduduk kerajaan Nepo. Kedua orang ini berlatar belakang keluarga baik-baik.

Dari hasil perkawinan ini lahirlah dua orang keturunan, seorang perempuan bernama I Balobo dan seorang laki-laki bernama La Tanring. Semenjak lahir kedua anak tersebut selalu diasuh oleh pasangan hidup ini dengan penuh rasa cinta dan sayang dan tetap rukun dan dalam rumah tangga, sejahtera pada tahap kehidupan masyarakat pada ukuran pola hidup dan penghidupan masa dulu. Kedua orang ini masih memiliki sawah dan kebun luas warisan dari orang tuanya.

Pada masa itu, di kedua kerajaan ini (Palanro dan Nepo), sekolah belum didirikan. Gedung Sekolah Rakyat pertama didirikan hanya kelas 1 sampai kelas 3 pada tahun 1924 di Palanro, sedangkan tokoh tersebut di atas hidup dalam kurun waktu 1870-1905. Tokoh ini terdidik oleh lingkungan keluarga dan alam. Ditempah oleh alam dengan segala kodratnya.

Waktu itu rakyat kerajaan Nepo dan kerajaan Palanro hidup berdampingan secara damai. Segala permasalahan diselesaikan dengan hasil permufakatan. Tambah lagi setelah lahirnya I Balobo dan La Tanring yang ayahnya dari kerajaan Palanro dan ibunya dari kerajaan Nepo. Segala pekerjaan yang dirasa berat oleh satu pihak seperti mendirikan rumah, menanami sawah dan lain-lain dikerjakan secara gotong royong. Makin lama tambah rukunlah hubungan dari rakyat kerajaan Nepo dan Palanro. Segala pekerjaan mereka hadapi dengan gotong royong, semangat inilah yang masih melekat dan mendarah daging sampai sekarang.

Pada tahun 1865 lahirlah anak kedua dari pasangan La Samaili dan I Makkatutu. Ketika beranjak dewasa ia terjun ke masyarakat menghimpun kedua golongan masyarakat Palanro dan Nepo. Pribadinya yang menyenangkan membuat ia mudah diterima dan berteman dengan orang banyak. Dalam tindak tanduknya selalu dilandasi satunya kata dengan perbuatan. Ia tidak membeda-bedakan masyarakat, demikian juga ia tidak suka memaksakan kehendak pada orang lain.

Berbeda dengan Pemerintah kolonial pada waktu itu yang memberlakukan kerja paksa dengan membagi masyarakat dalam dua golongan. Golongan pertama, Anak bangsawan diberi gelar Andi dibebaskan dari kewajiban kerja paksa, sedangkan Golongan kedua, orang awam diwajibkan kerja paksa. Hal ini tidak disetujui oleh La Tanring dan dianggap sebagai politik Adu Domba.

Secara diam-diam La Tanring membentuk kelompok perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan dilakukan dengan perlawanan gerilya. Tidak jarang Pasukan La Tanring yang bersenjatakan Keris, Kelewang, Badik, Lembing, Sumpitan dan lain-lain senjata tajam menghadang dan melumpuhkan iring-iringan serdadu Belanda di wilayah antara Palanro dan Parepare. Opsir Belanda di Parepare sangat gusar, karena kejadian serupa juga terjadi di Bone. Bedanya jika di Bone perlawanan diketahui siapa pemimpinnya, sedangkan di Nepo dan Palanro belum diketahui siapa pemimpinnya.

Setelah perlawanan raja Bone berhasil ditumpas oleh Belanda dan Raja Bone selaku pemimpin perlawanan diasingkan ke Bandung, maka Belanda berusaha untuk mencari dan menangkap pemimpin perlawanan yang ada di kerajaan Nepo dan Palanro. Belanda mengumpulkan pemuka masyarakat beserta rakyat dan mengumumkan bahwa barang siapa yang berhasil menangkap hidup atau mati pemimpin dari kelompok perlawanan itu akan diberi jabatan seperti Mandor dan diberi hadiah Seratus Gulden.

Pengumuman Belanda tidak digubris oleh masyarakat. Belanda tidak kehabisan akal, diundangnya para pemberani dari kedua kerajaan itu untuk membantu melawan dan menangkap pimpinan pasukan perlawanan. Akal bulus Belanda kali pun tak mendapat sambutan sebagaimana yang mereka harapkan.

Lama-kelamaan Opsir Belanda di Parepare mendengar bahwa di Kerajaan Nepo ada seorang laki-laki yang jujur dan berani yang dapat dipercaya menangkap pemimpin pasukan perlawanan yang bernama La Tanring. Tentu saja hal ini tidak disambut baik oleh La Tanring, sebaliknya perlawanan/ atau penghadangan pasukan Belanda makin dipergiat. Lokasi yang sering digunakan sebagai tempat penghadangan adalah perbukitan di KM 20 sebelah selatan kota Parepare menuju Makassar (sekarang wilayah kelurahan Mallawa Kecamatan Mallusetasi kabupaten Barru). Pasukan La Tanring menyiapkan bebatuan di Puncak bukit. Setelah pasukan patroli Belanda tepat di kaki bukit, batuan yang terkumpul digelindingkan. Saat anggota patroli panik, serempak pasukan La Tanring menyerang dengan senjata tajam.

Setelah kejadian serupa terjadi berulang kali, Belanda menugaskan mata-mata untuk mencari tahu siapa pemimpin dari pasukan tersebut. Mengetahui bahwa yang menjadi pemimpin pasukan perlawanan di kerajaan Nepo dan Palanro adalah La Tanring, maka Belanda mengerahkan pasukan sebanyak 100 orang yang dipimpin oleh beberapa opsir bersenjata lengkap untuk melakukan penyerangan.

La Tanring pada saat itu sedang mengadakan persiapan untuk menyerang Belanda. Latihan diadakan di suatu tempat yang jauh dalam wilayah kerajaan Nepo. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Tebbaseng.

Dalam tiga hari penyerangannya Belanda tidak mendapat hasil. Komandan pasukan Belanda di Parepare sangat marah mendengar hasil tersebut. Maka ia memerintahkan untuk menangkap anggota keluarga dari La Tanring. Pada tanggal 15 Februari 1905, ayah kandung La Tanring ditangkap di suatu kampung yang bernama Kaili (Palla’e) dan sekarang masuk wilayah Desa Manuba Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Barru. Beliau dibawah ke kerajaan Palanro yang saat itu diperintah oleh seorang raja laki-laki yang bernama Dunnahi. Pada saat itu Raja Palanro sedang ke kerajaan Sidenreng. (pada masa itu Raja Palanro sering meninggalkan Palanro karena kurang setuju pada Belanda).
Ilustrasi
Raja Nepo juga kurang mengadakan kerja sama dengan Belanda. Hal ini telah diketahui Belanda Jauh sebelumnya, karenanya Belanda mengangkat seorang raja perempuan yang bernama Andi Simatana dengan gelar Petta Tellu Latte untuk memerintah dua kerajaan yaitu kerajaan Nepo dan kerajaan Palanro yang berkedudukan di Ujung (wilayah desa Cilellang sekarang). Ayah La Tanring yang disandera Belanda hendak di bawah ke Parepare. Karena hari sudah senja, pasukan Belanda memutuskan untuk menginap di Palanro yang kebetulan kosong waktu itu.

I Balobo sangat marah setelah mengetahui ayahnya ditangkap Belanda, ia seorang diri menyusul ayahnya ke Palanro. Karena kekuatan tidak seimbang, apalagi ia seorang perempuan ia pun memilih mundur sambil menyusun rencana baru. Dicarinya adiknya La Tanring. Setelah menempuh perjalanan jauh, ia pun bertemu dengan adiknya yang sedang latihan perang-perangan sementara yang lain sedang merawat senjata tajam (tompang/mengolesi dengan jeruk) agar tetap berbisa.

Begitu sampai di lokasi latihan perang, I Balobo berteriak bahwa Ayahnya dibawah Belanda ke Parepare. Mendengar teriakan kakaknya, La Tanring naik pitam. Tanpa pikir panjang ia dan pasukannya berangkat menyusul ayahnya. Ia menuju ke jalan poros Parepare-Palanro dimana ia dan pasukannya sering menghadang dan melumpuhkan pasukan Belanda. Setelah menunggu lama, pasukan Belanda tidak muncul, karena waktu itu pasukan Belanda menginap di Palanro.

Kemarahan La Tanring kian menjadi, hingga makan pun pantang baginya hari itu. Ia tidak merasa lega sebelum ayahnya dibebaskan dari tawanan pasukan Belanda. Jam 21.00, La Tanring meninggalkan tempat penghadangan tersebut dan menuju ke kampung Ujung (sebelah barat daya Palanro) untuk bertemu dengan raja Petta Tellu Latte yang memerintah kerajaan Nepo dan Palanro. Sementara I Balobo yang menunggu kedatangan ayah dan suadaranya bersama pasukan perangnya gusar.

Waktu menghadap raja ia minta izin pada raja untuk menyerang Belanda di penginapannya di Palanro. Raja Petta Tellu Latte tidak menyetujui rencana La Tanring itu, sambil berkata dalam bahasa Bugis, “engkana ure’ mupettu na muwarani mewai kompenie” dengan artian bebasnya “apakah engkau memiliki kelebihan sehingga engkau rencanakan hendak menyerang Kompeni (Belanda), baik ditinjau dari persenjataan maupun personil engkau tidak seimbang.”

La Tanring menjawab dengan Bahasa Bugis pula, katanya, “taddampengi atae puang, ataka ripuangnge masirikka narekko de’ uwonroi adakku, iya kenneng nabangsaku’mi na gau bawang balandae upo peddi, mabella ripuadani tau ripajajiakku nagiare, waji’ni upomate,” yang rtinya, “mohon kiranya hamba dimaafkan, saya adalah hamba dari tuhan, saya malu jika ada janji/kata yang saya tidak lakukan/tunaikan, sedangkan bangsaku sudah lama dijajah oleh Belanda, menjadi kebencian bagiku. Belum lagi ayah kandung saya sendiri yang diperlakukan semena-mena oleh Belanda, wajib aku bebaskan walau nyawaku taruhannya.”

Raja kembali berkata, “narekkuwa makkuwaitu de’na mu maelo mengkalinga ada,” artinya, “Jika demikian engkau sudah tak mau mendengar saran dariku lagi.“

La Tanring berkata, “ujujung, upari botto ulu adatta puang, naikiya narapi’ni wettunna ripake adanna toriolota, makkedae atae palengeng lopi, arungnge molai,” artinya, “segala tita baginda raja kami junjung tinggi, tetapi sudah saatnya kita memakai pepatah orang dulu bahwa, orang banyak mengapungkan perahu dan mengarahkan pemimpin untuk duduk sebagai kelasinya.” Ini menandakan bahwa La Tanring akan memperjuangkannya sampai menjadi kenyataan walaupun nyawa taruhannya.

La Tanring berangkat ke Palanro, ke istana Raja Palanro tempat pasukan Belanda menginap. Sebelum berangkat pasukan La Tanring sempat mempengaruhi La Beddu dan kawan-kawan yang merupakan penjaga istana Petta Tellu Latte untuk ikut ke Palanro. Senapan kesayangan Petta Tellu Latte yang dibeli oleh La Paggalung alias Petta Pajjawae di Johor Malaka dengan 25 ringgit ikut dibawa.

Senjata api milik Petta Tellu Latte ini diberi nama La Bolong Ringgi. Ia dinamakan La Bolong Ringgi karena warnanya Bolong (hitam) dan dibeli dengan uang Ringgit. Jadi La Tanring menyerbu Belanda dengan kekuatan kurang lebih 50 orang dengan satu pucuk senjata api dan yang lain membawa senjata tajam seperti bessi (lembing), badik, keris dan lain-lain.

Khusus senapan La Bolong Ringgi tetap dipegang La Beddu (anggota pengawal Petta Tellu Latte) dan diapit oleh La Dado (kemanakan La Tanring). Mereka berangkat ke medan perang mengadakan penyerangan malam. Mereka telah berjalan sehari semalam tanpa makan ataupun minum dari daerah terpencil di kerajaan Nepo ke Ujung untuk bertemu dengan raja Petta Tellu Latte guna memohon izin menyerang Belanda sebagaimana yang akan segera mereka lakukan.

Setelah berjalan sekitar 15 menit, mereka sampai di sekitar tempat penginapan pasukan Belanda (sekarang rumah salah satu warga di Patalellangnge Kelurahan Palanro Kecamatan mallusetasi kabupaten Barru). Waktu menunjukkan sekitar jam 24.00, mereka menyelinap di keremangan cahaya rembulan yang hampir terbenam. La Tanring menyusun formasi penyerangan dengan sangat hati-hati.

Pasukan membentuk formasi sesuai yang diperintahkan La Tanring. La Dado dan la Beddu jongkok di tembok sumur depan Istana sambil membidikkan senapannya dalam keadaan siap tembak. Anggota yang lain bergerak dengan hati-hati maju mengepung Istana tempat Belanda tidur. La Tanring dengan badik terhunus dikawal oleh La Sukku dengan tombak ditangannya.

Mereka bergerak hati-hati. Sasaran pertama mereka adalah penjaga tawanan. Dengan sigap mereka menyerang kedua penjaga tersebut hingga tewas. Ayah La Tanring yang diikat dilepaskan, setelah itu kini giliran penjaga yang ada di tangga yang mereka lumpuhkan. Sementara pasukan Belanda yang istirahat di dalam istana belum mengetahui penyerangan tersebut.

Setelah berhasil melumpuhkan penjaga yang ada di tangga istana, dengan cepat La Tanring naik dan masuk menyerang pasukan Belanda yang tertidur nyenyak karena kelelahan. Beberapa tentara Belanda yang terbangun langsung lari lewat tangga yang dijaga oleh La Sukku dengan beberapa orang lainnya.

Sementara La Dado dan La Beddu yang dari tadi bersiap di sumur menembak ke arah Bubungan Istana yang membuat pasukan Belanda kocar-kacir mendengar letusan bedil. Pasukan Belanda yang mencoba melarikan diri telah ditunggu oleh pasukan La Tanring yang bersenjatakan Keris, tombak, badik dan senjata tajam lainnya. La Dado sempat terkena peluru dari Belanda, namun hal tersebut tidak sedikitpun menurunkan semangat juangnya, ia terus maju berdampingan dengan pamannya.

Pertempuran malam itu yang berlangsung sekitar satu jam menewaskan seluruh tentara Belanda termasuk opsirnya yang menginap di Palanro. La Tanring pada saat melakukan penyerangan tersebut tak pernah makan atau minum sedikit pun sejak ia diberitahu oleh kakaknya I Balobo bahwa ayah mereka ditangkap oleh Belanda. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dengan hasil yang memuaskan dengan tewasnya seluruh tentara Belanda, malam itu Ia kehabisan energi.

Pada pagi buta, sekitar jam 04.00 subuh La Tanring di usung ke tanah kelahirannya di Pallae (kerajaan Nepo/wilayah Desa Manuba Kec. Mallusetasi sekarang), sesampai di rumahnya ia menghembuskan nafas terakhir. La Tanring gugur tanpa ada sedikit pun luka atau goresan di tubuhnya. Ia gugur semata-mata karena kehabisan energi.

Hari itu, bantuan Belanda datang dari Parepare. Mayat dari teman-teman mereka yang gugur tidak dikubur, mayat-mayat tersebut dilempar ke laut lepas, yang membuat masyarakat di seputar Palanro tidak bergairah makan ikan.

Jenazah La Tanring dimakamkan dengan adat agama Islam oleh kerabatnya di Jerra’e Kaili. Setelah cara pemakaman La Tanring usai, ayah, keluarga dan sisa pasukan La Tanring berangkat ke selatan bergabung dengan Arung Balusu untuk meneruskan perlawanan, sementara La Sukku tetap tinggal di Nepo melanjutkan perlawanan.

Dari tulisan Mahmud Naki.
Rujukan: http://ivanmuanist.blogspot.com/2010/12/asal-usul-dan-perjuangan-la-tanring.html