Sejarah Perdagangan Biji Pala, Rempah-Rempah yang Mengubah Dunia | Attoriolong

Sejarah Perdagangan Biji Pala, Rempah-Rempah yang Mengubah Dunia

Penulis: -
Sejarah Perdagangan Biji Pala, Rempah-Rempah yang Mengubah Dunia
Bagi para ibu-ibu, mungkin tidak asing lagi dengan biji pala, salah satu rempah-rempah yang digunakan untuk menambah cita rasa pada beberapa jenis masakan yang biasa dihidangkan. Pala berfungsi sebagai pemberi aroma harum dan penguat rasa dalam masakan yang cenderung pedas atau menghangatkan. Beberapa makanan yang menggunakan pala dalam masakan seperti gulai, kari, semur daging, Coto Makassar, Sop Konro, serata berbagai masakan Nusantara lainnya.

Melihat begitu pentingnya pala dalam masakan Nusantara, kapan sebenarnya rempah-rempah ini pertama kali digunakan? Bagaimana rempah yang hanya tumbuh di kepulauan Nusantara ini bisa populer hingga ke seluruh dunia?

Faktanya, para peneliti telah menemukan bahwa manusia telah menggunakan pala sebagai bumbu makanan selama 2.000 tahun lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Para arkeolog telah menemukan residu atau sisa-sisa pala pada pecahan keramik yang diperkirakan berusia 3.500 tahun di Pulau Ay, salah satu pulau kecil di Kepulauan Banda, Maluku.

Baca juga: Sejarah Pedas Kayu Manis

Menelusuri sejarah pala dapat membantu mengungkap bagaimana perdagangan rempah-rempah berkembang di seluruh dunia di kemudian hari. Ribuan tahun setelah orang-orang di Pulau Ay menggunakan pala untuk keperluan sehari-hari mereka, buah pala ini serta rempah-rempah lainnya menjadi komoditas yang sangat berharga, digunakan oleh orang di seluruh dunia sebagai bumbu masakan dan bahan pembuatan obat-obatan.

Menjelang tahun 1300-an, dan mungkin jauh sebelumnya, para pedagang telah melakukan perjalanan ke Kepulauan Banda yang dikenal dengan nama "Kepulauan Rempah-Rempah” karena di pulau itulah satu-satunya tempat pala diketahui tumbuh.

Masyarakat Nusantara menjual rempah-rempah kepada para pedagang yang datang, kemudian para pedagang ini menjual rempah-rempah ke Timur Tengah dan Afrika Utara. Dari sana, diperdagangkan lagi hingga ke Eropa yang kekurangan rempah-rempah. Sistem perdagangan secara berantai ini menyebabkan harga rempah-rempah yang sampai di Eropa menjadi sangat mahal.
Peta kuno Pulau Banda, dibuat oleh Cornelis van Baarsel (1761-1826). Foto: bartelegallery.com
“Pada suatu masa dalam tahun 1300-an (abad ke-14), ketika harga pala berada di level tertinggi, satu pon (16 ons) pala di Eropa harganya sama dengan tujuh ekor lembu besar. Melihat harganya, pala ini merupakan komoditas yang lebih berharga daripada emas,” tulis John Munro, seorang profesor bidang ekonomi di Universitas Toronto, Kanada.

Permintaan yang tinggi akan rempah-rempah dan harga selangit ini merupakan salah satu faktor pendorong munculnya penjelajahan samudera yang dilakukan oleh Bangsa-bangsa Eropa untuk mencari Kepulauan Rempah-rempah. Bangsa Portugis lah yang lebih dahulu berhasi mencapai Kepulauan Rempah-rempah, disusul kemudian oleh Bangsa Spanyol, Belanda, dan Inggris.

Baca juga: Masuknya Bangsa Portugis di Sulawesi

Di antara bangsa-bangsa Eropa itu, Belanda lah yang sangat haus akan pala sehingga pada akhir tahun 1600-an, Belanda menukar koloninya "New Amsterdam" ke Inggris dengan imbalan Pulau Run di Kepulauan Banda yang merupakan penghasil pala di mana Inggris mengklaim kontrol.

Inggris mengganti nama koloni pemberian Belanda itu dengan nama "New York," nama yang sekarang disebut sebagai bagian dari Amerika Serikat. Sementara Pulau Run tetap menjadi bagian dari koloni Belanda hingga pertengahan abad ke-20, ketika pulau itu menjadi bagian dari Indonesia setelah memproklamasikan kemerdekaan.

"Sangat menarik untuk melihat penggunaan pala yang begitu awal, bumbu yang mengubah dunia beberapa ribu tahun kemudian," kata Peter Lape, seorang profesor antropologi di Universitas Washington, Amerika, yang turut memimpin penggalian arkeologis baru-baru ini di Pulau Ay, Kepulauan Banda, Maluku.

Rujukan: www.history.com/news/pumpkin-spice-trade-nutmeg-archaeology