14 Film Lawas yang Bertema Perang Kemerdekaan Indonesia | Attoriolong

14 Film Lawas yang Bertema Perang Kemerdekaan Indonesia

Penulis: -
14 Film Lawas yang Bertema Perang Kemerdekaan Indonesia
Perang Kemerdekaan Indonesia adalah sebuah konflik bersenjata dan pertentangan diplomasi antara Republik Indonesia yang baru lahir melawan Kerajaan Belanda yang dibantu oleh pihak Sekutu, diwakili oleh Inggris.

Rangkaian peristiwa ini terjadi mulai dari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada 29 Desember 1949.

Karena begitu pentingnya rentetan peristiwa yang terjadi antara tahun-tahun tersebut bagi bangsa Indonesia, sehingga untuk mengenang kembali peristiwa-peristiwa tersebut, maka dibuatlah beberapa film yang menghambarkan perjuangan banhsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Berikut ini beberapa film-film lawas yang mengangkat tema Perang Kemerdekaan Indonesia:

1. Mereka Kembali (1972)
Film ini diproduksi oleh PT. Dewi Film dan rilis tahun 1972, dibintangi oleh Sandy Suwardy, A. Hamid arif, Rinna hassim, Rahayu Effendi, Ismar Lubis, dan Hasan sanusi.

Film ini menceritakan tentang peristiwa pindahnya Tentara Nasional Indonesia dari Jawa Tengah dan Yogyakarta ke Jawa Barat pada 4 Februari 1949 sebagai konsekuensi dari perjanjian Renville yang merugikan Indonesia dan diikuti pelanggaran oleh Belanda dengan melakukan Agresi Militer Belanda II dengan menguasai Yogyakarta.

Jenderal Sudirman segera megeluarkan Instruksi Panglima Besar No. 1 sesuai perintah (Perintah Siasat No. 1) agar pasukan pindah ke Jawa Barat setelah bertempur dengan PKI Muso.

2. Pasukan Berani Mati (1982)
Pasukan Berani Mati adalah film Indonesia tahun 1982 dengan disutradarai oleh Imam Tantowi dan banyak artis dan aktor tenar terlibat dalam film ini, seperti Roy Marten dan Barry Prima.

Sebuah romantika perang revolusi kemerdekaan. Ada penduduk gagah berani, ada maling yang jadi nekat, ada dendam, ada tentara kecut tetapi lalu nekat, ada penghianat, ada pedagang yang hanya mementingkan diri. Sebuah gambaran klise. Batalion pimpinan Kapten Bondan (Dicky Zulkarnaen) yang menyatu dengan rakyat bergerilya hingga merepotkan Belanda.

Dengan berbagai upaya termasuk kelicikan, Belanda akhirnya bisa tahu tempat persembunyian batalion itu. Maka porak-porandalah batalion itu diserbu. Kapten Bondan meninggal. Enam sisa pasukannya dan seorang penduduk yang selalu mendukung perjuangan tentara secara spontan membentuk pasukan berani mati. Mereka menyerbu markas Belanda dan ganti memorak-porandakan markas itu dengan imbalan kematian nekat mereka.

3. Janur Kuning (1979)
Janur Kuning adalah sebuah film drama perjuangan Indonesia yang diproduksi pada tahun 1979. Film yang disutradarai oleh Alam Rengga Surawidjaja ini dibintangi antara lain oleh Kaharuddin Syah, Deddy Sutomo dan Sutopo H.S.
Gambar sampul film Janur Kuning pada VCD. Foto: hariansejarah.id
Film ini menceritakan tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam meraih kembali kemerdekaannya yang direbut kembali oleh pasukan sekutu. Latar belakang yang diambil adalah di sekitar peristiwa Enam Jam di Yogya.

Tokoh-tokoh nyata yang ditampilkan di sini di antaranya adalah Soeharto, Jenderal Sudirman, dan Amir Murtono. Janur kuning adalah lambang yang dikenakan para pejuang di lengan sebagai tanda perjuangan kemerdekaan tersebut.

4. Soerabaia 45/Merdeka Atau Mati (1990)
Soerabaia 45 adalah Film perjuangan Indonesia yang dirilis pada tahun 1990. Film yang disutradari oleh Imam Tantowi ini dibintangi antara lain oleh Nyoman Swadayani, Leo Kristi dan Usman Effendy.

Kisah perang yang kemudian terkenal dengan sebutan peristiwa 10 November di Surabaya. Antara lain tokoh pembakar semangat, Bung Tomo, perobekan bendera Belanda, tertembaknya jendral Inggris dan lain lain. Film ini seolah direkonstruksi ulang sebagai sebuah visual ulang kisah heroik itu dari kacamata rakyat biasa.

Soerabaia 45 menceritakan kemarahan rakyat Surabaya yang meledak begitu mengetahui bahwa pasukan Sekutu membawa misi mengembalikan Indonesia kepada Belanda. Perlawanan bersenjata pun dikobarkan hingga terbunuhnya pimpinan tentara Inggris di Jawa Timur yaitu Brigadir Jenderal Mallaby.

5. Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi (1982)
Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi adalah film Indonesia yang diproduksi pada tahun 1982 yang disutradarai oleh Frank Rorimpandey dan Achiel Nasrun serta dibintangi antara lain oleh Roy Marten dan Tari Sutiono.

Kisah salah seorang pahlawan kemerdekaan di Sulawesi Utara. Wolter Monginsidi (Roy Marten) dilukiskan sebagai pemuda yang flamboyan, berani terkadang nekat, agak emosional. Ia dan pasukannya selalu mengganggu Belanda, dan diburu-buru, sampai akhirnya tertangkap. Ayahnya meminta ia menandatangani permohonan grasi, padahal itu salah satu tipu muslihat Belanda. Ia mati dihukum tembak.

6. Kereta Api Terakhir (1981)
Kereta Api Terakhir adalah film Indonesia tahun 1981 dengan disutradarai oleh Mochtar Soemodimedjo dan dibintangi oleh Deddy Sutomo dan Gito Rollies.

Sebuah kisah dengan latar belakang gagalnya Perjanjian Linggarjati, yang tentu didekati dengan sikap romantik, baik terhadap kepahlawanan, maupun kisah cinta dibaliknya. Markas Besar tentara di Yogya memutuskan untuk menarik semua kereta api yang ada ke Yogya. Alat angkut ini penting untuk transportasi.

Untuk itu ditugaskan Letnan Sudadi (Rizawan Gayo), Letnan Firman (Pupung Harris) dan sersan Tobing (Gito Rollies) untuk mengawal semua kereta yang akan diberangkatkan dari Stasiun Purwokerto, dengan kerjasama Kol. Gatot Subroto (Sundjoto Adibroto). Sudadi mengawal kereta yang pertama, firman dan tobing mengawal kereta terakhir.

Perjalanan kereta terakhir yang penuh hambatan ini yang jadi pokok cerita. Pengungsi yang memadati kereta serta serangan-serangan Belanda. Diutarakan juga kepahlawanan para pegawai kereta api, terutama kondektur Bronto (Deddy Sutomo). Dan diselipkan kisah cinta antara Firman dan dua Retno yang ternyata merupakan gadis kembar.

7. Serangan Fajar (1982)
Serangan Fajar adalah film dokumenter drama perang Indonesia pada tahun 1982 dengan disutradarai oleh Arifin C. Noer. Film ini dibintangi antara lain oleh Amoroso Katamsi.

Mengisahkan tentang 3 bagian drama sejarah yang menetukan nasib bangsa Indonesia pada tahun 1945, di mana perang telah berakhir dan Indonesia berusaha meraih kemerdekaannya.

Kisah ini mengambil tokoh seorang paman dan keponakannya (Temon), di mana kisah ini menceritakan tentang sang paman yang berusaha untuk mendapatkan cinta dari gadis pujaannya sedangkan keponakannya sendiri lebih dalam usahanya dalam menunggu ayahnya yang berprofesi sebagai tentara kembali dari medan peperangan.

8. Komando Samber Nyawa (1985)
Komando Samber Nyawa adalah film Indonesia tahun 1985 dengan disutradarai oleh Eddy G. Bakker, dibintangi oleh Barry Prima dan Advent Bangun.

Peleton Serma Hasyim dari Kompi Letnan Widodo adalah pasukan yang terdiri dari orang-orang pemberani. Untuk menggantikan anak buah Sersan Hasyim yang gugur, maka didatangkan Kopral Abimanyu. Abimanyu suka berpakaian perlente, tidak banyak bicara dan tidak disukai Serma Hasyim.

Hasyim mengira, Abimanyu cuma pandai bersolek dan tidak pandai bertempur. Kenyataannya lain, Abimanyu punya perhitungan matang dan kewaspadaan tinggi. Hal ini ia buktikan ketika ia berhasil menyelamatkan pasukan dari ancaman ranjau darat. Juga andil dalam membebaskan desa Marga Sari dari serbuan Belanda.

Dalam penyerbuan markas Belanda di Gunung Kapur, Serma Hasyim mengerahkan semua anak buahnya termasuk Gardini, kekasihnya. Tanpa setahu teman-temannya, Abimanyu memasang dinamit di sekitar Gunung Kapur. Gunung Kapur itu dapat diledakan dan hancur. Kembali Abimanyu yang dianggap bodoh, menunjukan hebatnya sebagai prajurit.

9. Bandung Lautan Api (1974)
Bandung Lautan Api adalah sebuah film perjuangan Indonesia yang disutradarai oleh Alam Rengga Surawidjaja ini dibintangi antara lain oleh Christine Hakim, dan Dicky Zulkarnaen.

Film ini bercerita tentang peristiwa pertempuran Bandung Lautan Api yang terjadi di kota andung pada tanggal 23 Maret 1946.

10. Perawan di Sektor Selatan (1971)
Perawan di Sektor Selatan adalah film Indonesia tahun 1971 dengan disutradarai oleh Alam Surawidjaja, dibintangi oleh Farida Oetoyo, Dicky Zulkarnaen, dan Kusno Sudjarwadi.

Karena sakit hati akan perlakuan gerilyawan republik hingga ibunya meninggal, Laura memihak Belanda dan diselundupkan sebagai mata-mata ke pasukan Kapten Wira (Kusno Sudjarwadi) di Sektor Selatan, suatu daerah pedalaman terpencil. Laskar rakyat ini selalu merepotkan Belanda.

Laura menyamar sebagai Fatimah dan mengaku kakak anggota Laskar yang ditawan Belanda. Ia berhasil membuat diperebutkan beberapa anggota Laskar, sementara antara Wira dan Kobar (Lahardo), juga terjadi pertentangan karena sikap Kobar yang main babat, senang perempuan dan berjudi.

Konflik ini memuncak dengan pengepungan Kobar atas markas Wira. Melihat situasi ini, lewat penghubungnya Laura mengundang pesawat Belanda menyerbu dan membebaskan ahli perang urat saraf yang ditawan Wira.

Merasa diketahui penyamarannya, Laura lari dan akhirnya tewas di pelukan Rengga (Dicky Zulkarnaen), anggota Laskar yang dicintainya. Laura yang jadi titik sentral cerita, paling lengkap informasinya, yang disampaikan dengan cara sorot balik pada adegan-adegan penting.

11. Darah dan Doa/The Long March (1950)
Darah dan Doa ialah sebuah film Indonesia karya Usmar Ismail yang diproduksi pada tahun 1950 dan dibintangi oleh Faridah.

Film ini merupakan film Indonesia pertama yang secara resmi diproduksi oleh Indonesia sebagai sebuah negara (setelah berakhirnya Perang Kemerdekaan Indonesia). Film ini ialah produksi pertama Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), dan tanggal syuting pertama film ini (30 Maret 1950) kemudian dirayakan sebagai Hari Film Nasional.

Film ini mengisahkan perjalanan panjang prajurit divisi Siliwangi RI, yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula, dari Yogyakarta ke Jawa Barat setelah Yogyakarta diserang dan diduduki pasukan Kerajaan Belanda lewat Aksi Polisionil. Rombongan hijrah prajurit dan keluarga itu dipimpin Kepten Sudarto (Del Juzar). Perjalanan ini diakhiri pada tahun 1950 dengan diakuinya kedaulatan Republik Indonesia secara penuh.

12. Enam Djam di Jogja (1951)
Enam Djam di Jogja adalah film drama Indonesia yang dirilis pada tahun 1951 yang disutradarai Usmar Ismail. Film hitam-putih ini dibintangi antara lain oleh Del Juzar, R. Sutjipto dan Aedy Moward. Film ini adalah flm kedua yang diproduksi oleh PERFINI.

Setelah Yogyakarta diduduki Belanda, pasukan Republik Indonesia melakukan perang gerilya. Pada suatu ketika Yogya diserbu dan bisa diduduki, walau cuma selama enam jam. Serangan Umum pada 1 Maret 1949 itu sekadar menunjukkan kepada dunia internasional, bahwa RI masih punya kekuatan, dan tidak hancur seperti dipropagandakan Belanda.

13. Penjeberangan (1963)
Penjeberangan adalah sebuah film perjuangan Indonesia yang diproduksi pada tahun 1963. Film yang disutradarai oleh Gatut Kusumo ini dibintangi antara lain oleh Ismed M Noor, Wahab Abdi, Rima Melati, Usbanda, Sri Redjeki, Sari Narulita, Satyagraha Hoerip, Keiko Takeuchi, Pantjoro, Fritz G Schadt, Boedi SR, Gusti Putu Arya, dan Tina Taurina.

Di awal 1949 sepasukan Tentara Republik Indonesia Pelajar Jawa Timur mendapatkan tugas bersama Tentara Republik Indonesia untuk membawa meriam "Banteng Blorok" dari Trenggalek. Penyeberangan melintasi kali Brantas itu mengalami berbagai hambatan. Intaian mata-mata musuh, serangan pasukan Belanda dan lain-lain.

Setelah menyebabkan jatuhnya beberapa korban, akhirnya "Banteng Blorok" itu berhasil diseberangkan. Untuk selanjutnya dibawa ke tempat di mana meriam tersebut dimanfaatkan untuk menggempur musuh di kota Malang.

14. Naga Bonar (1987)
Naga Bonar adalah film komedi Indonesia tahun 1987 yang mengambil latar peristiwa perang kemerdekaan Indonesia ketika sedang melawan kedatangan pasukan Kerajaan Belanda pasca kemerdekaan Indonesia di daerah Sumatra Utara. Film ini disutradarai oleh M.T. Risyaf. Dibintangi oleh Nurul Arifin, Deddy Mizwar, Wawan Wanisar, Roldiah Matulessy, dan Piet Pagau.

Naga Bonar (Deddy Mizwar) adalah seorang pencopet di Medan yang sering keluar-masuk penjara Jepang, ia bersahabat dengan seorang pemuda bernama Bujang (Afrizal Anoda).

Sepulang dari penjara, Bang Pohan (Piet Pagau) mengatakan tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan di Jakarta, dan di Medan yang belum sempat dimerdekakan harus memperangi Belanda yang sudah memasuki wilayah Indonesia dengan maksud untuk berkuasa lagi. Naga Bonarpun menjadi tentara garis depan dalam perlawanan terhadap Belanda.

Itulah beberapa film lawas Indonesia yang bertema Perang Kemerdekaan. Jadi, kamu sudah pernah menonton yang mana saja?