Kebudayaan Megalitikum di Kabupaten Barru | Attoriolong

Kebudayaan Megalitikum di Kabupaten Barru

Penulis: -
Kebudayaan Megalitikum di Kabupaten Barru
Pernah kah kita memperhatikan peralatan dapur di rumah kita masing-masing? Mungkin kita pernah menjumpai alat masak terbuat dari batu yang biasa digunakan untuk menghaluskan bahan makanan atau obat-obatan. Benda ini ada yang berukuran kecil dan ada pula yang besar, yang kecil biasanya disebut cobek, sementara yang besar biasanya disebut lesung.

Ternyata cobek atau lesung itu masih merupakan peninggalan kebudayaan megalitikum. Kebudayaan megalitikum atau juga dikenal sebagai tradisi megalitik adalah bentuk-bentuk praktik kebudayaan yang dicirikan oleh pelibatan monumen atau struktur yang tersusun dari batu-batu besar sebagai penciri utamanya.

Megalitikum berasal dari bahasa Yunani, mega artinya besar dan lithos artinya batu. Jadi megalitikum berarti zaman batu besar. Kebudayaan Megalithikum diperkirakan berkembang sejak zaman batu muda sampai zaman logam. Ciri utama pada zaman megalitikum adalah manusia yang hidup pada zaman itu sudah mampu membuat peralatan dan bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu.

Baca juga: Bangunan dan Benda Peninggalan Kebudayaan Megalitikum di Indonesia

Banyak terdapat bangunan-bangunan besar terbuat dari batu yang ditemukan berkaitan dengan sistem kepercayaan, khususnya kepercayaan terhadap roh leluhur atau animisme dan kepercayaan terhadap benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan supranatural atau dinamisme.

Terkhusus di Kabupaten Barru, ada beberapa benda kebudayaan megalitikum yang biasa ditemukan, bahkan beberapa masih digunakan sampai sekarang. Adapun beberapa peninggalan kebudayaan Megalitikum di Kabupaten Barru diantaranya sebagai berikut:

1. Menhir
Menhir adalah batu berukuran besar dan panjang yang ditancapkan di atas tanah sehingga berdiri tegak. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik, kata men yang berarti batu dan hir yang berarti panjang. Jadi, menhir memiliki makna sebagai batu Panjang. Menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar di atas tanah, namun pada beberapa tradisi juga ada yang diletakkan terlentang di tanah.

Baca juga: Daftar Situs Sejarah dan Cagar Budaya di Kabupaten Barru

Pembuatan menhir telah dikenal sejak periode Neolitikum atau zaman batu muda mulai sekitar 6000 tahun Sebelum Masehi. Beberapa menhir memiliki pahatan pada permukaannya sehingga membentuk figur tertentu atau menampilkan pola-pola hiasan. Menhir semacam ini dikenal sebagai menhir arca atau statue menhir. Menhir biasanya berfungsi sebagai monumen masa praaksara sebelum masehi, ada pula yang digunakan untuk menambatkan hewan kurban, serta ada yang difungsikan sebagai nisan.

Di wilayah Kabupaten Barru, kebanyakan menhir yang ditemukan difungsikan sebagai batu nisan, ketinggian menhir nisan di Barru juga berbeda-beda, semakin tinggi sebuah menhir pada makam, maka semakin tinggi pula status sosial orang yang dimakamkan pada makam tersebut. Biasanya menhir di Barru banyak ditemukan pada pemakaman-pemakaman tua, salah satunya yang cukup terkenal yaitu situs Kompleks Makam Megalitik Sumpang Ralla, Tanete Riaja.
Menhir yang difungsikan sebagai tempat menambatkan bendera Kerajaan Tanete di Kompleks Makam Petta Pallase-lase'e di Bungi, Tanete Rilau. Foto: Erik Hariansah.
Menhir yang difungsikan sebagai nisan pada situs Makam Megalitik Sumpang Ralla, Tanete Riaja. Foto: Erik Hariansah.
Menhir berukir berfungsi sebagai nisan di Kompleks Makam Raja-raja Nepo, Mallusetasi. Foto: Erik Hariansah.
2. Dolmen
Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Biasanya dolmen terdapat di tempat-tempat yang dikeramatkan seperti sungai, di bawah pohon, mulut gua, dan sebagainya.
Dolmen yang ditemukan di Pange, Kec. Pujananting. Foto: Erik Hariansah.
Dolmen di Pange, Pujananting. Foto: Erik Hariansah.
3. Lumpang batu
Lumpang batu merupakan batu yang memiliki lubang. Lumpang batu berfungsi sebagai alat untuk menumbuk padi, kopi, ramuan, ataupun bahan olahan lainnya. Alu adalah alat penumbuknya yang terbuat dari kayu atau batu dengan bentuk yang agak panjang dan lonjong. Lalu, apa perbedaan lumpang batu dengan lesung atau cobek?

Bedanya adalah, lumpang batu merupakan bentuk dasar dari lesung yang belum disempurnakan, lubangnya masih dibuat pada batu biasa, bahkan ada yang dibuat pada batu besar yang tidak mungkin dipindahkan. Sementara lesung atau cobek bentuknya sudah diperhalus dan mudah dibawa kemana saja, jadi cobek atau lesung ini biasanya kita jumpai di dapur, juga di sentra pembuatannya di Tampungcinae, Tanete Riaja.
Lumpang batu. Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id
Dagangan cobek dan lesung di Tampung Cinae, Tanete Riaja. Foto: barru.org
Lesung yang ditemukan di Kiru-kiru, Kec. Soppeng Riaja. Foto: Erik Hariansah.
Lesung di Kiru-kiru, Soppeng Riaja. Foto: Erik Hariansah.
4. Batu dakon
Batu dakon merupakan peninggalan kebudayaan megalitikum berupa batu yang memiliki banyak lubang-lubang kecil yang berjejer di atasnya, ada yang lubang-lubangnya berjejer tidak beraturan, ada pula yang lubangnya tersusun rapi umumnya memiliki 49 lubang yang disusun membentuk persegi dengan pola lubang 7X7.

Ada beberapa pendapat mengenai fungsi batu dakon ini, ada yang berfungsi sebagai alat permainan, ada pula yang difungsikan sebagai alat penanggalan tradisional. Di Kabupaten Barru, sebuah batu dakon ditemukan di persawahan masyarakat di Parenring, Desa Mattirowalie, Tanete Riaja. Batu dakon ini dipahatkan di atas batu besar dengan memiliki 49 lubang yang disusun membentuk persegi dengan pola lubang 7X7.
Batu dakon di Parenring, Tanete Riaja. Foto: Erik Hariansah.
Baca juga: Situs Batu Dakon Mattirowalie, Tanete Riaja, Kab. Barru

5. Batu gores
Batu gores merupakan peninggalan kebudayaan megalitikum berupa batu yang di permukaannya terdapat bekas goresan yang cukup dalam. Goresan yang ada pada permukaan batu gores tercipta karena masyarakat pada masa itu menggunakan batu ini sebagai alat untuk mengasah peralatan mereka secara terus menerus sehingga terbentuk bekas goresan.

Di Kabupaten Barru, batu gores ditemukan di persawahan masyarakat Parenring, Desa Mattirowalie, Tanete Riaja. Masyarakat setempat menyebut batu itu dengan nama Batu Telapak Tangan (Batela Jarinna) La Tanre, karena goresannya dianggap menyerupai telapak tangan raksasa.
Batu gores yang ditemukan di Parenring, Tanete Riaja. Foto: Erik Hariansah.
Batu gores di Parenring, Tanete Riaja. Foto: Erik Hariansah.
Baca juga: Situs Batu Gores Tanete Riaja Barru

6. Kubur batu
Kubur batu merupakan kuburan yang dibuat menggunakan batu yang besar, ada pula kuburan yang dubuat dengan menumpuk bebatuan. Pada umumnya pemakaman tua di Barru pasti selalu terdapat kuburan batu. Kuburan batu yang sangat terkenal di Barru adalah situs Kompeks Makam Megalitik Sumpang Ralla, Tanete Riaja.
Kubur batu yang berada pada situs Kompleks Makam Megalitik Sumpang Ralla, Tanete Riaja. Foto: Erik Hariansah.