11 Fakta Tentang Haji Agus Salim, Tokoh Islam asal Minangkabau | Attoriolong

11 Fakta Tentang Haji Agus Salim, Tokoh Islam asal Minangkabau

Penulis: -
11 Fakta Tentang Haji Agus Salim, Tokoh Islam asal Minangkabau
Hampir keseluruhan para pendiri bangsa yang berasal dari ranah Minang, memang memiliki sikap yang eksentrik. Sebut saja misalnya Tan Malaka, yang gila berkelana demi kemerdekaan Indonesia sampai lupa menikah. Hatta yang selalu tepat waktu, tak mau terlambat barang semenit-pun, namun bisa dibilang ia terlambat menikah (menikah pada usia 43 tahun).

Mohammad Yamin, seorang ahli mitos yang gemar mendalami budaya-budaya kuno. Atau Buya Hamka yang keranjingan menulis, hingga melahirkan puluhan buku agama, filsafat, sejarah, dan cerita fiksi. Satu lagi tokoh Minang yang eksentrik adalah Haji Agus Salim. Ia adalah tokoh pejuang kemerdekaan sekaligus politisi yang dijuluki The Grand Old Man atau Orang Tua Besar. Berikut ini merupakan sebelas fakta tentang Haji Agus Salim.

1. Memiliki nama lahir Masyhudul Haq.
Haji Agus Salim lahir dengan nama Masyhudul Haq yang berarti "pembela kebenaran." Ia lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, pada tanggak 8 Oktober 1884. Nama Agus Salim adalah nama sohornya di perantauan. Agus Salim lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.

Baca juga: Membuka Kembali Sejarah Perang Padri

2. Menguasai 7 bahasa asing.
Di usianya yang sangat muda, Mahir dalam tujuh bahasa asing, di antaranya adalah bahasa Belanda, Jerman, Prancis, Inggris, Turki, Arab, Jepang. Karena kemahirannya menguasai banyak bahasa, ia pernah memegang jabatan penting, mulai dari penerjemah hingga dipercaya untuk menjalankan berbagai misi diplomatik dengan tujuan memperkenalkan negara baru Republik Indonesia ke dunia luar, serta bagian dari diplomasi dalam mempertahankan kemerdekaan.

3. Menjadi lulusan terbaik Hoogere Burgerschool (HBS).
Haji Agus Salim berhasil menjadi lulusan terbaik di sekolah Hoogere Burgerschool (HBS) se-Hindia Belanda. Pendidikan dasarnya ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia.
Ir. Soekarnao (kiri) duduk bersama H. Agus Salim (kanan). Foto: beritagar.id
4. Ditawari beasiswa oleh RA Kartini.
Kecerdasan Agus Salim muda memukau RA Kartini, hingga Kartini pernah mengalihkan beasiswa ke Belanda yang didapatnya dari pemerintah kepada Agus Salim, namun beliau menolak. Agus Salim dan Raden Ajeng Kartini cuma terpaut terpaut lima tahun.

Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879 sementara Agus Salim di Kotagadang, 8 Oktober 1884. Kedua tokoh ini sama-sama suka membaca, menulis, dan berfikir kritis. Kartini dan Salim meski tidak saling kenal, punya cita-cita tinggi. Keduanya ingin melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda yang dinilainya sangat maju. Tapi dengan sebab yang berbeda, harapan itu kandas.

Kartini yang kala itu mendapatkan beasiswa ke Belanda akhirnya batal berangkat karena harus menikah. Agar tak sia-sia, dia ingin beasiswa itu dialihkan ke orang lain yang diketahui punya kemampuan dan kecerdasan luar biasa, yakni Agus Salim. Agus Salim menolak pengalihan beasiswa tersebut. Dia sungkan karena merasa beasiswa tersebut bukan lantaran penghargaan atas kecerdasan dan jerih payahnya, melainkan karena usul orang lain.

Baca juga: Kennedy Dibunuh, Soekarno Lengser, Freeport pun Deal

5. Menjadi anggota Jong Islamiten Bond (JIB).
Agus Salim pernah menjadi anggota organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) atau artinya perhimpunan pemuda Islam. Sejak pendiriannya di Jakarta pada tanggal 1 Januari 1925. JIB beruntung memiliki Haji Agus Salim yang sejak berdiri menjadi penasehat, ia seorang yang mahir bahasa Belanda dan ahli dalam agama Islam. Kursus-kursus yang diberikan Haji Agus Salim itu ditujukan untuk menghilangkan kesalahpahaman tentang Islam.

6. Menjadi pimpinan Sarekat Islam (SI).
Selain berkecimpung pada JIB, Agus Salim juga pernah menjabat sebagai pimpinan di Sarekat Islam (SI). Pada awalnya Agus Salim bertugas di dinas intelijen Belanda, Algemene Recherche Dienst (ARD) atau Dinas Penyelidikan Umum. Ia ditugaskan untuk menyelidiki SI, mula-mula ia mempelajari seluk beluk Sarekat Islam baik mengenai asas, tujuan, anggaran dasar, anggaran rumah tangga sampai sikap para pemimpinnya.

Kesimpulan penyelidikannya, tuduhan kecurigaan-kecurigaan Belanda terhadap pemimoin SI dan pimpinannya Tjokroaminoto tidak terbukti sama sekali. Agus salim bahkan melihat sosok Tjokroaminoto merupakan seorang pemimpin yang sejati.

Agus Salim justru terpikat dengan sosok Tjokroaminoto sehingga memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai agen intelijen dan pegawai Pemerintah Hindia Belanda. Ia masuk ke dalam organisasi Sarekat Islam dan menjadi salah satu pimpinannya.

Baca juga: Sistem Pendidikan Islam di Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang

7. Pernah berprofesi sebagai penerjemah.
Karena Agus Salim menguasai tujuh bahasa asing, tidak heran bila ia banyak mendapat pekerjaan sebagai penerjemah. Di antaranya ia pernah menjadi penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri.

Pernah pula menjadi penerjemah di konsulat Belanda di Arab Saudi, sembari berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam besar Masjidil Haram-guru Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Hasyim Asyari (pendiri NU).
Agus Salim disaat masih muda. Foto: faisalbasri.com
8. Lebih memilih Homeschooling untuk mendidik anak.
Agus Salim lebih memilih "Homeschooling" untuk Pendidikan Anak-anaknya. Tokoh bangsa itu memiliki perspektif berbeda dengan para pemimpin bangsa lain yang hidup sezaman. Pada awal abad ke-20, hampir semua tokoh bangsa Indonesia menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang paling tinggi, meskipun itu harus di sekolah kolonial yang dikendalikan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Bahkan tak sedikit yang menyekolahkan anak-anaknya hingga ke luar negeri. Namun bagi Agus Salim, sekolah kolonial tidak membuat anak mandiri. Dilansir dari forum Sahabat Keluarga Kemendikbud, Agus Salim kemudian menjadikan rumah sebagai sekolah bagi anak-anaknya. Ia dan istrinya bergantian berperan sebagai guru.

9. Seorang wartawan.
Haji Agus Salim adalah seorang wartawan pergerakan. Dengan bekal kemampuan bahasa asing, Agus salim bergabung di Harian Neratja sebagai Redaktur II pada tahun 1915. Karirnya tersebut membawa Agus salim menduduki posisi Ketua Redaksi.

Agus salim mendirikan dan menjadi pemimpin redaksi surat kabar Hindia Baroe yang diterbitkan di Jakarta, dan Fadjar Asia yang diterbitkan di Yogyakarta, didirikan bulan November 1927 bersama HOS Tjokroaminoto. Sayangnya, Fadjar Asia hanya mampu bertahan hidup selama 4 tahun. Edisi terakhir no.181 yang terbit pada Bulan Agustus 1930.

Baca juga: Belanda Tidak Rela Indonesia Merdeka

10. Menjadi juru runding dan diplomasi di awal kemerdekaan Indonesia.
Agus Salim memainkan peran sebagai juru runding ketika Republik Indonesia baru merdeka. Beliau dijuluki diplomat ulung. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dinyatakan Soekarno-Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945, bukan berarti perjuangan telah berakhir, justru pada masa inilah perjuangan rakyat Indonesia memasuki masa-masa yang berat.

Sebagai negara yang baru merdeka, Indonesia membutuhkan pengakuan dari negara-negara lain di dunia. Ketika para pejuang lainnya bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya Belanda, Agus Salim justru beringsut keluar mencari terang, mengambil jalan perjuangan yang tidak semua orang bisa melakukannya.

Dengan tekad membara, kendati dengan kondisi finansial yang pas-pasan, bahwa kemerdekaan Indonesia harus dipertahankan dan diketahui dunia, Agus Salim dan rombongannya giat berkampanye ke dunia luar demi mendapat pengakuan atas kemerdekaan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain dengan perjuangan lewat jalur diplomasi.

11. Memegang jabatan penting di pemerintahan.
Agus Salim memegang jabatan penting di pemerintahan Indonesia. Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain: Anggota Volksraad (1921-1924), anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945, Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947, pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947, Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947, dan Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949.