15 Fakta Sejarah Saat Awal Kemerdekaan Indonesia yang Jarang Diketahui | Attoriolong

15 Fakta Sejarah Saat Awal Kemerdekaan Indonesia yang Jarang Diketahui

Penulis: -
15 Fakta Sejarah Saat Awal Kemerdekaan Indonesia yang Jarang Diketahui
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah peristiwa revolusioner. Pertama, Proklamasi itu menyudahi kolonialisasi yang membelenggu negeri ini selama ratusan tahun. Kedua, kemerdekaan itu adalah hasil perjuangan, bukan pemberian atau hadiah dari penjajah atau pihak lain.

Berikut ini adalah 15 fakta sejarah saat awal kemerdekaan Indonesia yang jarang diketahui umum:

1. Bung Karno sakit saat membacakan proklamasi.
Saat malam proklamasi 17 agustus 1945 dulu sebenarnya Bung Karno dan para sahabat nya bergadang di rumah Laksamana Maeda untuk menyusun proklamasi. Hal ini yg menyebabkan Bung Karno sakit keesok harinya saat membacakan proklamasi, yang hampir tertunda karena sakitnya Bung Karno.

2. Hanya Bung Karno dan M. Hatta yang menandatangani naskah proklamasi.
Saat penandatanganan proklamsi dulu hanya ada dua tandatangan, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta saja. Padahal pada saat itu Bung Hatta menawarkan semua sahabat yg terlibat merumuskan proklamasi ikut menandatangani tapi ditolak oleh mereka, dan tercatat juga Bung Hatta sempet mengatakan "diajak menjadi sejarah malah tidak mau."

Baca juga: Sukarno Bertanya Kepada Josip Broz Tito Tentang Nasib Bangsa

3. Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung tanpa protokol.
Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tidak ada korps musik, tidak ada konduktor dan tidak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara

4. Kain bendera pusaka yang dijahit Ibu Fatmawati merupakan pemberian seorang Perwira Jepang.
Bendera pusaka Indonesia sering kali di klaim berasal dari tenda kain warung soto dan sprei yang bersumber dari pengakuan Kustaryo. Tapi itu tidak benar, karena menurut ibu Fatmawati yang menjahit bendera pusaka, kain bendera pusaka Indonesia berasal dari perwira Jepang yang membawa kain dua blok.

Yang satu blok berwarna merah sedangkan yang lain berwarna putih. Kain ini kemungkinan diambil dari kantor Jawa Hokokai. Hal ini terkait dengan janji Perdana Menteri Jepang Koiso pada 7 September 1944 bahwa Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia suatu hari kelak.

Baca juga: Sistem Pendidikan di Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang

5. Naskah Proklamasi tulisan tangan Sukarno ditemukan di tong sampah.
Naskah Proklamasi Asli sebenarnya ditemukan di tong sampah, dan dipelihara oleh wartawan BM Diah, seorang putera asal Aceh yang juga tokoh pers, dan pejuang kemerdekaan.

Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

6. Sukarno menulis naskah proklamasi, sementara Muh. Hatta mendiktekannya.
Naskah proklamasi aslinya di tulis tangan oleh Bung Karno dan didiktekan oleh Bung Hatta. Tapi versi yg umum dikenal adalah versi yang diketik oleh Sajuti Melik.
Sukarno membacakan teks proklamasi. Foto: perpusnas.go.id
7. Indonesia hampir tidak memiliki foto dokumentasi proklamasi.
Dokumentasi Proklamasi selamat karena kebohongan Frans Moendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi. saat digeledah tentara Jepang untuk menghancurkan semua bukti proklamasi, Frans Moendoer mengatakan negatif film ini diserahkan kepada barisan pejuang, padahal aslinya negatif film ini di sembunyikan dan dikubur di bawah sebuah pohon di halaman kantor Harian Asia Raya.

8. Tanggal 17 Agustus merupakan tanggal proklamasi Indonesia, namun juga tanggal kematian W. R. Soepratman dan Herman Neubronner.
Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman meninggal (17 agustus 1937), dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk meninggal pada tanggal yg sama juga (17 agustus 1894).

9. Tidaka ada nama jalan Soekarno-Hatta di Jakarta.
Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai tahun 1985. Nama mereka baru diabadikan menjadi nama bandar udara (Bandara Sukarno-Hatta) 40 tahun setelah Indonesia merdeka.

Baca juga: Sistem Pendidikan Islam di Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang

Lebih parahnya lagi, pemerintah baru secara resmi menyematkan gelar “proklamator” kepada mereka pada tahun 1986, atau 16 tahun setelah Soekarno wafat. Dan baru di tahun 2012 atau 67 tahun sesudah indonesia merdeka mereka baru mendapatkan gelar resmi sebagai pahlawan national.

10. Indonesia pernah berpindah Ibu kota negara tiga kali hanya dalam empat tahun.
Ibukota negara Indonesia pernah pindah tiga kali hanya dalam empat tahun, belum ada negara di dunia yang memindahkan ibu kota negaranya sampai tiga kali dalam kurun waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai 3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949).

11. Jenderal Soedirman tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI.
Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun.

Baca juga: 11 Fakta Tentang Haji Agus Salim, Tokoh Islam asal Minangkabau

12. Perintah pertama dari residen Pertama Indonesia adalah sate ayam.
Perintah pertama dari presiden pertama indonesia (Bung Karno) adalah “Sate ayam lima puluh tusuk,” itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden indonesia.

Kebetulan di jalan pulang beliau merasa lapar dan kebetulan bertemu seorang tukang sate, beliau langsung berniat membeli sate untuk mengganjal rasa laparnya, beliau berkata kepada tukang sate itu minta di bikinkan sate ayam 50 tusuk, beliau memakan satenya di pinggir jalan dekat sebuah selokan yang kotor. Mungkin inilah perintah pertama dan makan siang pertama presiden pertama republik ini.

13. Pembacaan teks proklamasi untuk peryama kalinya tidak pernah direkam.
Proklamasi yang sering kita dengar (suara nya mirip suara radio kuno yg ada kresek-kreseknya) itu bukan suara asli yg di rekam pas proklamasi. Proklamasi yang sebenarnya, dimulai sekitar jam sepuluh pagi dan tidak direkam. Kemudian karena inisiatif untuk menyebarkan proklamasi lewat radio bung karno diminta untuk mengulangi pembacaan proklamasi.

Baca juga: Belanda Tidak Rela Indonesia Merdeka

Bung Karno awalnya menolak tegas dengan alasan proklamasi cuma dilakukan sekali, tapi akhirnya setuju setelah menimbang-nimbang berbagai alasan (mungkin biar seluruh rakyat Indonesia tau dan percaya) kemudian beliau membacakan kembali teks proklamasi. Itulah dokumentasi berupa suara yang bisa kita dengar sampai sekarang.

14. Tiang bendera dari bambu.
Upacara ini memang identik dengan pengibaran bendera Merah Putih oleh Paskibraka. Tiang bendera haruslah kokoh dan kuat agar bendera dapat berkibar dengan gagah. Sehingga seringkali tiang bendera terbuat dari besi yang kokoh.

Namun tahukah kamu, ternyata tiang bendera yang digunakan saat upacara pertama kali setelah Indonesia merdeka hanyalah menggunakan tiang yang terbuat dari bambu. Pengibaran bendera dilakukan oleh Paskibraka yang dipimpin oleh Kapten Latief Hendraningrat. Walaupun hanya menggunakan tiang bambu, namun suasana upacara sangat khidmat sembari menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan lantang.

15. Proklamasi Kemerdekaan awalnya direncakan akan dilakukan di Lapangan Ikada Jakarta.
Penunjukan tempat ini sesuai dengan keinginan dan rencana yang sudah disusun oleh kelompok pemuda. Tetapi Sukarno menolak rencana itu. Ia berpendapat, Proklamasi Kemerdekaan yang dilakukan di lapangan umum dan berbentuk Rapat Umum bisa menimbulkan salah paham dan bentrokan antara rakyat dengan penguasa militer Jepang. Sukarno sendiri menginginkan agar Proklamasi Kemerdekaan di lakukan di halaman rumahnya di Pegangsaan Timur 56. Usul Sukarno tersebut disetujui.