Peranan La Bandu Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Tanete-Barru | Attoriolong

Peranan La Bandu Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Tanete-Barru

Penulis: -
Peranan La Bandu Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Tanete-Barru
Siang itu, cuaca di Kota Ralla sangat panas. Panas terik matahari seakan-akan membakar kulit. Kota kecil yang menjadi Ibu Kota Kecamatan Tanete Riaja di Kabupaten Barru itu memang tidak terlalu ramai. Hanya sesekali kendaraan lalulalang di jalan poros Pekkae-Soppeng yang melintas di sisi barat sebuah lapangan sepak bola.

Di sisi barat lapangan itu terdapat papan nama yang bertuliskan Lapangan Sepak Bola La Bandu. Sementara di sebelah selatan lapangan melintas sebuah jalan yang juga bernama Jalan La Bandu. Bagi masyarakat Tanete Riaja, mungkin nama La Bandu tidak asing lagi. Namun tidak banyak masyarakat yang tahu siapa sebenarnya sosok La Bandu ini.

La Bandu sebenarnya merupakan nama salah seorang pejuang di wilayah itu. La Bandu memiliki nama lengkap atau gelar La Bandu Arung Maruala. Pada masa awal kemerdekaan, ia pernah berjuang melawan pasukan Belanda/KNIL, ia direkrut menjadi anggota badan perjuangan Laskar Gerakan Pemuda Tanete (Laskar GPT) yang berdiri pada tahun 1945 hingha 1947 di bawah pimpinan Abdul Karim. Selain itu, La Bandu juga menjadi anggota dari Komine Nasional Indonesia-Tanete (KNI Tanete) di bawah pimpinan Andi Abdul Muis.

Baca juga: Riwayat Perjuangan Laskar Gerakan Pemuda Tanete

Dalam buku yang berjudul Andi Abdul Muis Tenridolong: Patriot yang Konsekuen Hingga Tetes Darah Terakhir, yang ditulis oleh Muhammad Amir, La Bandu sempat menghadiri rapat anggota Laskar GPT pada tanggal 12 November 1945 di Sekolah Rakyat Bottoe yang dipimpin oleh Andi Abdul Muis.

Dalam rapat itu, Daeng Majjanggo dan La Bandu tampil mewakili peserta rapat yang lain dan mengemukakan sikap serta prinsip perjuangan bahwa:

"Naiya idi To Tanetewe ri posipa ritu, narekka naposiri'i ajjoaretta, mateni idi' jowae, assu memengno iko bata-batae, aja' muonro." Artinya, bahwa kita orang Tanete mempunyai sifat, kalau raja atau pemimpin kita sudah merasakan sesuatu yang memalukan, maka rakyat pengikutnya sudah harus bersedia mati, keluarlah sekarang yang ragu-ragu, jangan tinggal.
Papan nama lapangan sepak bola La Bandu di Ralla, Kec. Tanete Riaja. Foto: Erik Hariansah.
Dalam buku yang ditulis Muhammad Amir itu menjelaskan bahwa La Bandu sering ikut melakukan perjuangan bersama Laskar GPT, melakukan peperangan dan penghadangan terhadap pasukan Belanda. Di antaranya pernah menyergap patroli Belanda di Butung pada tanggal 30 November 1945, berperang di sepanjang jalan dari Pekkae hingga Pekka Pao pada tanggal 7 Desember 1945, dan terakhir berperang bersama pimpinannya di Bottoe pada tanggal 22 April 1946.

Pada pertempuran di Bottoe, pemimpin Laskar GPT, Abdul Karim, gugur sehingga pasukan Laskar GPT tercerai-berai. Untuk menghindari pengejaran dari Belanda, Laskar GPT dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil.

Baca juga: Perjuangan Abdul Karim di Barru Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Kelompok di Ere Pattappa dipimpin oleh Baco Pararang. Kelompok di Bululangi dipimpin oleh La Gante. Kelompok di Bunne dipimpin oleh La Mannuseng dan La Sunra. Kelompok di Mandalle dipimpin oleh Muhammad Nawing. Sementara La Bandu Arung Maruala dipercayakan untuk memimpin kelompok di Ammaro.

Pada perkembangan selanjutnya, Belanda yang ingin menghabisi seluruh pejuang kemerdekaan di Sulawesi mengutus Kapten Westerling untuk melakukan pembantaian di Sulawesi Selatan, tercatat ada sekitar 40 ribu korbannya.

Di Barru westerling banyak mengeksekusi pejuang. Di Pasar Baru mengeksekusi sebanyak 48 orang pejuang, itulah sebabnya didirikan monumen dipasar baru, pada monumen itu dituliskan nama 48 korban gugur. Di Salomoni, Westerling mengeksekusi sebanyak 45 orang, itulah sebabnya nama jalan di Salomoni diberi nama JL. Korban 45. Terakhir Westerling mengeksekusi 30 orang pejuang di Sumpangbinangae, Barru.

Baca juga: Koleksi Foto Pembantaian Westerling di Barru

Karena anggota Laskar GPT semakin menyusut akibat banya yang terbunuh dan tertangkap, maka laskar ini dilebur ke dalam Laskar Harimau Indonesia (HI) yang bermarkas di Mandalle.

Dari gambaran singkat mengenai perjuangan La Bandu dan perkembangannya tersebut, tampak bahwa La Bandu cukup berperan dalam perjuangan membela dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, khususnya di Tanete-Barru. Sedangkan perkembangan selanjutnya tidak dapat dikemukakan lebih lanjut, sebab data-data atau sumber yang menceritakan riwayat La Bandu sangat terbatas.

Karena jasa-jasanya La Bandu berjuang mempertahankan kemerdekaan, namanya kini diabadikan menjadi nama Lapangan La Bandu dan Jalan La Bandu di Ralla, Kecamatan Tanete Riaja, Barru.