Kenangan Masa Kecil B.J. Habibie di Barru | Attoriolong

Kenangan Masa Kecil B.J. Habibie di Barru

Penulis: -
Kenangan Masa Kecil B.J. Habibie di Barru
Siapa yang tidak mengenal Bacharuddin Jusuf Habibi, anak bangsa berprestasi di kancah internasional. Sosok B.J. Habibie sangat dihormati oleh ilmuan dunia khususnya di bidang penerbangan.

Selain dikenal sebagai orang paling cerdas diantara ahli penerbangan, beliau juga merupakan mantan Presiden Republik Indonesia ke-3. Oleh karena itu, ada banyak kisah yang bisa kita ikuti darinya, termasuk kisah masa kecilnya.

Habibie dilahirkan di Kota Parepare dan banyak menghabiskan masa kecilnya di kota itu. Habibie ternyata di masa kecilnya juga sering berkunjung ke daerah Barru yang berbatasan langsung dengan Parepare. Itu karena ayahnya Alwi Abdul Jalil Habibie adalah seorang ahli pertanian yang ditugaskan di Parepare dan sering masuk wilayah Barru untuk melakukan penyuluhan.

Ayah Habibie sebetulnya berasal dari Gorontalo, merupakan ahli pertanian lulusan dari Nederlandsch Indische Veeartsenschool di Buitenzorg (Bogor) atau yang sekarang dikenal sebagai Institut Pertanian Bogor. Ia kemudian menikah dengan perempuan Yogyakarta, R.A. Tuti Marini Poespowardojo saat masih kuliah di Bogor.

Baca juga: Orang Barru yang Terseret ke Dalam Perang Dunia II di Eropa

Setelah menyelesaikan studinya, tidak lama kemudian, Alwi Abdul Jalil diangkat sebagai Adjunt Landbouw Consulen atau Ahli Pertanian dan ditugaskan di Afdeling Parepare yang sekarang telah menjadi beberapa kabupaten/kota, diantaranya, Barru, Sidenreng Rappang, Pinrang, serta Kota Parepare. Salah satu tugas Alwi Abdul Jalil Habibie adalah membimbing dan membina Mantri Pertanian pada wilayah tersebut.

Dari pernikahannya, lahir delapan orang anak. Dari kedelapan anak-anaknya, ada dua diantaranya yang sangat menonjol baik dalam prestasi maupun tingkah lakunya, yaitu Rudy yang merupakam panggilan akrab B.J. Habibie di masa kecil dan adiknya Fanny yang merupakan panggilan akrab dari Junus Effendi Habibie.

Meski memiliki sifat yang bertolak belakang, kedua anak tersebut memiliki potensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan saudara-saudara dan teman-temannya.
B.J. Habibie (kedua dari kanan) bersama saudara-saudaranya saat masih tinggal di Parepare. Foto presiden.perpusnas.go.id
Pada suatu hari Habibie menderita sakit yang cukup parah, karena tenaga dokter di daerah tersebut belum ada, maka orang tuanya membawa Habibie kepada seseorang yang dianggap pintar mengobati di Barru, yaitu Raja Andi Djondjo Kalimullah Karaeng Lembang Parang Arung Berru. Lewat bantuan raja tersebut yang memberinya air jampi-jampi, kondisi Habibie berangsur-angsur pulih kembali.

Ada kejadian menarik yang selalu dikenang Tuti Marini tentang putranya Habibia, karena wajah Habibie sangat mirip dengan wajah ayahnya, maka menurut kepercayaan orang Bugis, Habibie harus dijual. Jika hal ini tidak dilakukan maka akan terjadi suatu musibah, yakni salah satu dari mereka akan meninggal dunia atau terpisah secara berjauhan. Oleh karena itu dalam sebuah upacara adat, Habibie dibeli secara simbolis oleh Raja Barru Andi Djondjo dengan sebilah keris.

Pada tahun 1942, tersiar kabar bala tentara Jepang akan memasuki wilayah Parepare sehingga keluarga Habibie bersama warga lainnya terpaksa meninggalkan rumah serta sebagian kekayaannya untuk mengungsi ke Desa Teteaji di Sidenreng Rappang. Setelah Belanda menyerah kepada tentara Jepang, keluarga Habibie kembali ke Parepare, tetapi tidak lama kemudian sekutu datang menyerang.

Baca juga: Peranan Letkol M. Saleh Lahade pada Pemberontakan Permesta

Ketika peperangan antara sekutu melawan Jepang semakin sengit, Habibie bersama keluarganya terpaksa mengungsi kembali dengan dibantu oleh Andi La Calo Arung Mallusetasi, mereka menyingkir ke kampung Landrae di Desa Nepo, tidak jauh dari Palanro yang terletak di jalan besar tepi pantai antara Makassar dan Parepare.

Ayah Habibie sempat membangun sebuah masjid di Landrae yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Nur Habibie Pattanrongnge, Desa Nepo. Selama di Landrae, Habibie sering mandi-mandi. Selain di Landrae, Habibie juga sering berkunjung dan mandi di permandian alam Bujung Makkatoangnge di Desa Manuba. Mereka baru kembali ke Parepare setelah Jepang kalah dan menyerah kepada sekutu tahun 1945.

Pada tahun 1947, ayah Habibie dipromosikan menjadi Kepala Pertanian untuk wilayah Indonesia Timur yang berkedudukan di Makassar, sehingga Habibie dan keluarganya pindah ke Makassar. Pada tanggal 3 September 1950, ayah Habibie meninggal setelah mengalami serangan jantung.

Ibu Habibie, Tuti Marini kemudian mengajak anak-anaknya pindah ke Bandung dan disekolahkan di sana hingga Habibie kuliah di Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) dengan bidang pesawat terbang. Setelah itu Habibie melanjutkan sutudinya di Jerman.