Kisah Tiga 'Jusuf' Dari Sulawesi Selatan | Attoriolong

Kisah Tiga 'Jusuf' Dari Sulawesi Selatan

Penulis: -
Kisah Tiga 'Jusuf' Dari Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Pesatnya pertumbuhan ekonomi ini ditunjang oleh keberadaan sumber daya alam serta kualitas sumber daya manusianya.

Selain itu Sulawesi Selatan juga merupakan tempat dimana lahirnya beberapa tokoh-tokoh nasional yang dianggap berjasa dalam membangun Indonesia, diantaranya Jenderal Muh. Jusuf, Bacharuddin Jusuf Habibie, dan Jusuf Kalla. Berikut ini merupakan biografi singkat dari ketiga tokoh tersebut.

M. Jusuf

Lahir dengan nama Andi Muhammad Jusuf Amir pada 23 Juni 1928 di Kajuara, Bone, Sulawesi Selatan. Jenderal M. Jusuf adalah salah satu tokoh militer Indonesia yang sangat berpengaruh dalam sejarah kemiliteran Indonesia.

Ia juga merupakan salah satu keturunan bangsawan dari suku Bugis, hal ini dapat dilihat dengan gelar Andi pada namanya. Akan tetapi Jusuf melepaskan gelar kebangsawanannya itu pada tahun 1957 dan tidak pernah menggunakannya lagi.

Baca juga: Inilah Asal Usul Gelar Andi di Sulawesi Selatan

Dalam posisi pemerintahan ia pernah menjabat sebagai Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan pada periode 1978-1983. Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian pada periode 1964-1974 dan juga Ketua Badan Pemeriksa Keuangan periode 1983-1993.

Selama menjadi panglima TNI, ia sering meninjau langsung asrama prajurit, menanyakan kepada istri para prajurit apakah kebutuhan mereka tercukupi, dan melihat kondisi rumah prajurit. Selain itu, beliau juga ramah kepada para prajurit dengan menanyakan apakah gaji yang mereka terima cukup atau tidak.
Jenderal M. Jusuf. Foto: id.wikipedia.org
Hebatnya lagi, semua ini dicatat oleh ajudan Jenderal M. Jusuf dan beberapa bulan kemudian semua yang dikeluhkan dapat diperbaiki dan apa yang kurang dapat ditambah.

Hal ini tidak lepas dari pertemanan yang dijalin erat oleh Jenderal M. Jusuf dengan Menteri Ekonomi pada saat itu, Prof. Widjojo Nitisastro. Normalnya, tambahan dana yang diajukan itu akan disetujui ketika memasuki anggaran tahun depan atau kalau kurang beruntung entah kapan. Tetapi dengan modal kejujuran, Jenderal M. Jusuf dapat menerima dana ini lebih cepat.

Selain itu, hal yang sama juga dilakukan Jenderal M. Jusuf terhadap matra lain terutama Angkatan Udara. Dalam hal ini, Jenderal M. Jusuf sangat menginginkan AU semakin bagus dan disegani, sehingga beliau membeli tambahan beberapa unit pesawat angkut Hercules dan beberapa pesawat tempur dari AS.

Baca juga: Tempo Gurilla: Masa Pemberontakan DI/TII di Wilayah Barru

Itulah beberapa alasan mengapa zaman ini disebut dengan zaman keemasan ABRI, yang ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan prajurit dan keluarganya serta pembelian alutsista baru dan modernisasi terhadap alutsista yang ada.

Pada akhir masa kepemimpinan beliau, pasukan berdiri rapi dengan seragam yang lebih bagus dan AU memiliki banyak pesawat-pesawat baru yang lebih modern. Selain itu telah berdiri pula asrama prajurit yang telah direnovasi atas perintahnya. Jusuf meninggal di Makassar, pada 8 September 2004.

B.J. Habibie

Presiden ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang biasa dipanggil B.J. Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Parepare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda ini, harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung.

Baca juga: Kenangan Masa Kecil B.J. Habibie di Barru

Tak lama setelah bapaknya meninggal, Habibie pindah ke Bandung untuk menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.

Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk Universitas Indonesia di Bandung (Sekarang ITB). Beliau mendapat gelar Diploma dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 yang kemudian mendapatkan gekar Doktor dari tempat yang sama tahun 1965. Habibie menikah tahun 1962, dan dikaruniai dua orang anak. Tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.
B.J. Habibie. Foto: id.wikipedia.org
Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari Jerman, beliau selalu menjadi berita.

Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945.

Baca juga: Peranan Letkol M. Saleh Lahade pada Pemberontakan Permesta

Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.

Ketika era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, ia kembali aktif sebagai penasihat presiden untuk mengawal proses demokratisasi di Indonesia lewat organisasi yang didirikannya Habibie Center dan akhirnya menetap dan berdomisili di Indonesia.

Kontribusi besar Habibie bagi bangsa ini pun tetap tercurahkan ketika masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Habibie aktif memberikan masukan dan gagasan pembangunan bagi pengembangan sumber daya manusia di Indonesia.

Kesibukan lain dari B. J. Habibie adalah mengurusi industri pesawat terbang yang sedang dikembangkannya di Batam. Habibie menjabat sebagai Komisaris Utama dari PT. Regio Aviasi Industri, sebuah perusahaan perancang pesawat terbang R-80 dan kemudian menyerahkan pucuk pimpinan perusahaan tersebut kepada anaknya, Ilham Habibie.

Baca juga: Orang Barru yang Terseret ke Dalam Perang Dunia II di Eropa

Habibie meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto pada tanggal 11 September 2019 karena penyakit yang dideritanya (gagal jantung) dan faktor usia. Sebelumnya, Habibie telah menjalani perawatan intensif sejak 1 September 2019.

Ia kemudian dimakamkan di samping istrinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada tanggal 12 September 2019 pukul 14.00 WIB. Upacara pemakaman dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Jusuf Kalla

Ia merupakan anak kedua dari 17 bersaudara dari Haji Kalla dan Athirah yang lahir di Watampone, Sulawesi Selatan. Ia melanjutkan pendidikan di Universitas Hassanudin Makasar pada tahun 1967 dan melanjutkan studinya di The European Institude of Bussines Administration Fountainebleu Prancis pada tahun 1977. Jusuf Kalla menikah dengan Hj. Mufidah Jusuf dan dikaruniai lima orang anak yang diterima perempuan, serta sembilan orang cucu.

Saat muda, beliau dikenal banyak berpartisipasi atau aktif dalam beberapa organisasi kepemudaan, beberapa organisasi tersebut antara lain Pelajar Islam Indonesia (PII), Ketua HMI, Ketua Presidensium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah, Ketua Ikatan Keluarga Alumni di Univesitas Hassanudin.

Baca juga: 5 Bangsawan Makassar yang Menolak Menyerah Pada Perang Makassar

Nama Kalla sendiri baru terkenal saat dia disetujui sebagai CEO di perusahaan NV Hadji Kalla. Beiau dikenal berhasil mengembangkan usahanya yang hanya mau diekspor penting menjadi perusahaan yang mampu menghasilkan kelapa sawit sendiri.

Hingga sekarang telah meluas ke sektor perindustrian seperti perhotelan, perkapalan, konstruksi, real estat, peternakan udang, hingga ke telekomunikasi. Karir dia begitu melangit dengan segudang penghargaan yang didapatnya.
Jusuf Kalla. Foto: id.wikipedia.org
Adapun beberapa penghargaan itu adalah Doktor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin Makassar, Doktor HC dibidang perdamaian dari Universitas Syah Kuala Aceh pada 12 September 2011, Doktor HC dibidang diskusi ekonomi dan bisnis dari Universitas Brawijaya Malang pada 8 Oktober 2011, Doktor HC dibidang kepemimpinan dari Universitas Indonesia pada 9 Februari 2013, Penghargaan BudAi (Budaya Akademik Islami) dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Penghargaan Tokoh Perdamaian dalam Forum Pemuda Dunia untuk Perdamaian di Maluku juga Ambon tahun 2011, Penghargaan Dwidjosowojo Award dari Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera.

Awal mula karier dia di bidang politik saat ini pada tahun 1965. Kalla terpilih menjadi ketua pemuda sekber golkar Sulawesi Selatan, Jusuf kalla berhasil menyelesaikan tugas dan terpilih menjadi anggota DPRD Sulawesi Selatan pada tahun 1965 hingga 1968.

Karir Jusuf Kalla maju menjadi anggota MPR pada tahun 1982 hingga 1987. Setelah itu terpilih lagi menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada tahun 1999 hingga 2000 (Selama dalam pemerintahan Presiden Abdulrrahman Wahid) selama 6 bulan.

Baca juga: Lika-liku Hidup Legenda Sepak Bola, Ramang

Namun diberhentikan dengan alasan melakukan KKN. Setelah karirnya yang melejit itu Jusuf Kalla terpilih menjadi menteri Kesejahteraan Rakyat Indonesia (Menko Kesra) pada pergantian presiden RI yang ke-5 oleh Megawati Soekarnoputri.

Setelah sekian lama disetujui menjadi menteri akhirnya dia membulatkan diri untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mundur dari susunan Menko Kesra saat itu. Ternyata niatan Jusuf Kalla memang tidak salah. Pada pemilihan presiden ke-6 dia terpilih menjadi wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. Dipilih dari hasil pemilihan umum bersama pada tahun 2004.

Setelah tidak berkomitmen untuk koalisi dengan Partai Demokrat, ia ditetapkan dalam Rapat Pimpinan Nasional Khusus Partai Partai Golkar sebagai Calon Presiden dalam Pemilihan Presiden 2009.

Dalam perkembangan terakhir, Jusuf Kalla memutuskan menggandeng Ketua Umum Partai Hanura Wiranto sebagai cawapresnya. Namun Jusuf Kalla dinyatakan kalah dalam quick count (hitung cepat) yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei maupun hasil tabulasi Komisi Pemilihan Umum.

Baca juga: 11 Fakta Tentang Haji Agus Salim, Tokoh Islam asal Minangkabau

Setelah putaran presiden ke-6, jabatan Jusuf Kalla bergeser dan dia memilih menjadi ketua Palang Merah Indonesia (PMI), sekaligus disetujui menjadi pengurus dewan pusat masjid Indonesia tahun 2013 hingga 2017.

Jusuf Kalla digandeng calon presiden Joko Widodo dalam ajang Pemilihan Presiden 2014. Pasangan ini kemudian dalam pengundian mendapat nomor urut dua. Oleh Komisi Pemilihan Umum, tanggal 22 Juli 2014 atau enam hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 1435 H, Jokowi-JK memenangkan pilpres namun ditolak oleh kubu Prabowo-Hatta yang kemudian menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Serangkaian sidang di MK ternyata menolak permohonan kubu Prabowo-Hatta dan secara hukum menguatkan legitimasi Jokowi-JK selaku presiden dan wapres terpilih periode 2014-2019. Jusuf Kalla dilantik sebagai wapres pada 20 Oktober 2014.

Seiring dengan pelantikannya tersebut, ia adalah wakil presiden pertama yang terpilih untuk dua kali masa jabatan melalui pemilihan umum. Masa jabatan pertama dilaluinya bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2004-2009.