Muhammad Salim, Penerjemah Lontara yang Menerima Penghargaan Satyalancana Kebudayaan | Attoriolong

Muhammad Salim, Penerjemah Lontara yang Menerima Penghargaan Satyalancana Kebudayaan

Penulis: -
Muhammad Salim, Penerjemah Lontara yang Menerima Penghargaan Satyalancana Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan anugerah budaya dan penghargaan Maestro Seni Tradisi sebagai program apresiasi dalam rangka penguatan karakter bangsa.

Diungkapkan oleh Direktur Kebudayaan Kemendikbud, Nadjamuddin Ramly, anugerah ini sebagai arti penting dari apresiasi yang mana kali ini dalam bentuk anugerah budaya.

Sebanyak 59 orang dari 8 kategori menerima anugerah budaya pada malam penganugerahkan 10 Oktober 2019 dalam gelaran Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 di Istora Senayan.

Kegiatan penganugerahkan Kebudayaan ini masih menjadi satu rangkaian dari Kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional 2019 yang dimulai mulai dari tanggal 7 hingga 13 Oktober 2019.

Baca juga: Karaeng Pattingalloang Menerima Anugerah Penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyampaikan nama-nama tokoh para penerima Gelar Layanan dan Tanda Kehormatan, untuk kelas Bintang, yaitu Bintang Mahaputera, Bintang Budaya Parama Dharma, dan kelas Satyalancana Kebudayaan.

Di antar 59 nama-nama yang menerima penghargaan itu, muncul dua nama tokoh dari Sulawesi Selatan, yaitu Karaeng Pattingalloang, yang menerima penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma, dan Muhammad Salim, yang menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan.
Muhammad Salim. Foto: baruga2004.blogspot.com
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan mungkin tidak asing lagi dengan nama Karaeng Pattingalloang. Namun tidak banyak masyarakat Sulawesi Selatan yang tahu dengan sosok Muhammad Salim.

Muhammad Salim, pria kelahiran Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, 4 Mei 1936 ini adalah bukti bahwa penghargaan datang bukan karena gelar dan jabatan, tetapi karena karya berkelanjutan.

Hampir sepanjang hidupnya ia menekuni lontara, naskah kuno beraksara Bugis-Makassar. Dia menghidupkan dan memaknainya kendati ini kerja sunyi tanpa banyak imbalan.

Salim bekerja di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan (YBSS). Dengan tempatnya mengabdi itu, ia bersedia mengawal pendokumentasian lontara dari seluruh penjuru Sulsel.

Baca juga: Lontara' Sebagai Sumber dalam Penulisan Sejarah di Sulawesi Selatan

Lontara adalah kehidupan Salim. Aktivitas menyalin lontara ke huruf Latin (transliterasi) lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia (translasi) ibarat menu hariannya. Dalam sehari ia menghabiskan dua hingga tiga jam untuk menyalin lontara.

Lontara yang disalin dan diterjemahkan Salim ke bahasa Indonesia antara lain Sure Galigo, Lontara Sidenreng, Lontara Soppeng/Luwu, Budhistihara yang berisi nasihat keagamaan, Pappaseng, dan Lontara Enrekang.

Meski demikian, yang membuat nama Salim diperhitungkan hingga mancanegara tentulah Sure Galigo. Dia terpilih dalam Proyek Transliterasi dan Terjemahan Sure Galigo yang digagas Universitas Leiden, Belanda, tahun 1987.
Muhammad Salim dengan sebuah lontara di hadapannya. Foto: indonesiaproud.wordpress.com
Salim mulai bekerja tahun 1988 dan membutuhkan waktu 5 tahun 2 bulan untuk menerjemahkan hikayat penciptaan peradaban manusia di Sulawesi Selatan itu. Seperti telah digariskan, hidup Salim tak pernah jauh dari lontara.

Di saat ia baru lulus Sekolah Guru Bawah (SGB), ia mengajar pelajaran bahasa Bugis di satu-satunya sekolah menengah pertama di Pangkajene selama delapan tahun. Berselang setahun, ia menempuh pendidikan guru sekolah lanjutan jurusan Bahasa Bugis di Makassar.

Baca juga: Pentingnya Melestarikan Situs Sejarah dan Cagar Budaya

Salim lalu ditarik ke kampung halaman, menjadi Kepala Dinas Kebudayaan Sidenreng Rappang pada 1971. Tahun 1980, saat menjadi staf Dinas Permuseuman, Sejarah, dan Kepurbakalaan Sulawesi Selatan, ia berkesempatan menyelami naskah kuno.

Ia lalu menggagas proyek pengumpulan lontara. Ia menjelajahi seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan hingga Kabupaten Selayar untuk berburu lontara. Proyek ini bertujuan mendokumentasikan lontara di Sulawesi Selatan dan menerjemahkannya.

Dari perburuan itu, Salim mengumpulkan lebih dari 100 lontara. Semua tersimpan rapi di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Muhammad Salim, berpulang untuk selamanya pada tanggal 27 Maret 2011, dalam usia 75 tahun.