Nasib Jalur Kereta Api Pertama di Sulawesi | Attoriolong

Nasib Jalur Kereta Api Pertama di Sulawesi

Penulis: -
Nasib Jalur Kereta Api Pertama di Sulawesi
Baru-baru ini pemerintah memulai pembangunan rel kereta api di Sulawesi. Pada tahap awal, direncanakan jaringan rel kereta api itu akan menghubungkan Kota Makassar dan Parepare. Pembangunan rel kereta api di Sulawesi ini dimulai di Kabupaten Barru.

Diharapkan nantinya dengan rampungnya pembangunan kereta api di Sulawesi bisa meningkatkan mobilitas dan perekonomian masyarakat di Sulawesi. Namun, ternyata pembangunan kereta api di Sulawesi ini bukanlah yang pertama kalinya. Jauh sebelum Indonesia merdeka ternyata Sulawesi sudah pernah memiliki jalur kereta api di masa kolonial.

Jalur kereta api pertama di Sulawesi melayani rute Makassar-Takalar. Meskipun pada perkembangan selanjutnya, jaringan kereta api di Sulawesi ini ditutup karena mengalami kerugian dan pengembangannya tidak dilanjutkan.

Baca juga: Tellumpoccoe: Persekutuan Antara Tiga Kerajaan Bugis di Sulawesi

Gagasan untuk membangun kereta api di Sulawesi pertama kali muncul setelah dilakukannya sebuah ekspedisi di Sulawesi pada akhir abad ke-19. Dari hasil ekspedisi tersebut, diketahui jika Sulawesi sangat baik untuk ditanami beberapa tanaman komoditas ekspor seperti kopi, beras, dan kelapa.
Jalur kereta api di kawasan Pelabuhan Makassar tahun 1924. Foto: KITLV
Guna memperlancar pengangkutan hasil panen tanaman-tanaman tersebut, perlu dibangun sarana dan prasarana pendukung seperti jalan, jembatan, dan juga jaringan kereta api. Hal itu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengembangkan Sulawesi dan memancing para investor untuk datang memanamkan modalnya.

Dalam Nederlandsch Indische Staatsspoor en Tramwegen (1921), dijelaskan bahwa penyelidikan awal pembangunan jaringan kereta api di Sulawesi ternyata sudah dilakukan pada tahun 1915. Namun hasilnya kurang maksimal, sehingga penyelidikan dan pengkajian pembangunan rel kereta api kembali dilanjutkan pada tahun 1917.

Baca juga: Kisah Tiga 'Jusuf' Dari Sulawesi Selatan

Hasil dari penyelidikan tersebut adalah pembangunan jaringan kereta api dari Makassar ke Maros, kemudian diperpanjang melalui Tanete-Barru dan Marioriwawo untuk kemudian menuju ke Sengkang. Rancangan awal jalur Makassar-Maros selesai dibuat pada tahun 1918. Satu tahun kemudian giliran rancangan awal jalur Maros-Tanete yang selesai.
Stasiun Kereta Api Pasar Butung 1922. Foto: KITLV
Pemerintah Hindia Belanda menyetujui rancangan awal tersebut. Penyelidikan awal juga dilakukan untuk pembangunan jalur kereta api di wilayah Noordoost pada 1920. Staats Spoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda lalu membentuk Staatstramwegen op Celebes (STC) sebagai wakilnya untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan kereta api di Sulawesi.

Pembangunan kereta api di Sulawesi mulai dilakukan pada tahun 1921, 57 tahun setelah pencangkulan pertama pembangunan jalur kereta api Kemijen-Tanggung. STC terlebihdahulu membangun jalur sepanjang 47 km, yang menghubungkan Makassar-Takalar. Jalur pertama di Sulawesi ini selesai dibangun pada pertengahan tahun 1922.

Baca juga: Perang Makassar dan Kerugian Besar Kesultanan Makassar

Namun, jalur tersebut tidak langsung dapat dipergunakan dan dibuka untuk umum. Jalur ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1923. Setelah lima tahun beroperasi, pada 1928 tersiar kabar yang menyatakan jika jalur sepanjang 47 km ini akan ditutup oleh SS. Namun, penutupan urung dilakukan karena SS masih mengucurkan bantuan dana kepada STC.
Peta tahun 1925 yang menunjukan jalur kereta api Makasar-Takalar dan beberapa masterplan pembangunan jalur kereta api lainnya di pulau Kalimantan dan Sulawesi, tetapi semua jalur ditutup dan dibatalkan pembangunannya karena krisis ekonomi pada tahun 1933. Foto: KITLV
Para pekerja jalan di sekitar jalur kereta api di Sulawesi Selatan, 1937. Foto: KITLV
Dua tahun kemudian tepatnya pada tahun 1930, proposal untuk menghentikan kegiatan STC di Sulawesi benar-benar muncul. SS berpandangan jika jalur ini terus diaktifkan malah akan menimbulkan kerugian yang lebih banyak lagi. Akhirnya, pada pertengahan tahun 1930 jalur kereta api Makasar-Takalar resmi ditutup.

Dalam Sejarah Perkerataapian Indonesia Jilid I dijelaskan beberapa hal yang membuat jalur ini tidak bertahan lama, salah satunya adalah karena kecilnya pendapatan yang di dapat dan diperparah dengan resesi ekonomi dunia tahun 1930. Mahalnya harga tiket juga membuat angkutan ini tidak populer di kalangan masyarakat.

Masyarakat lebih memilih angkutan darat seperti truk untuk mengangkut hasil bumi karena lebih murah. Selain itu, jadwal keberangkatan dengan menggunakan truk lebih jelas daripada jadwal kereta api. Ditutupnya jalur Makassar-Takalar ini secara otomatis juga menutup rencana pembangunan jalur kereta api Makassar-Maros.