Rumitnya Perang Buton-Belanda (1637-1638) | Attoriolong

Rumitnya Perang Buton-Belanda (1637-1638)

Penulis: -
Rumitnya Perang Buton-Belanda (1637-1638)
Kesultana Buton merupakan kesultanan yang terletak di Kepulauan Pulau Buton (Kepulauan Sulawesi Tenggara) Provinsi Sulawesi tenggara, di bagian tenggara Pulau Sulawesi. Pada awal abad ke-17, Kesultanan Buton telah banyak melakukan hubungan diplomatik dengan beberapa kerajaan di sekitarnya.

Hubungan diplomatik yang dibangun oleh Buton bukan hanya dengan kerajaan lokal di sekitarnya, tetapi juga dengan bangsa-bangsa Eropa, seperti hubungan diplomatik antara Buton dengan Belanda (VOC) yang telah dilakukan sejak masa pemerintahan Sultan La Elangi dan Gubernur Jenderal Belanda, Pieter Both.

Baca juga: 2 Tokoh yang Mengabdi Pada VOC, Namun Mati di Tangan VOC

Hubungan diplomatik yang di sepakati antara Belanda dengan Kesultanan Buton sejak sultan ke-4, Sultan La Elangi dengan di ikrarkannya “Persekutuan Abadi” oleh Apollonius Scotte dibawah Gubernur Jendral Pieter Both tahun 1613 lambat laun semakin retak, ini disebabkan karena kebanyakan dari anggota garnisium Belanda selalu menipu dan berbuat sesuatu yang arogan terhadap rakyat Buton.

Keadaan ini memicu ketidakpercayaan di dalam petinggi kesultanan untuk melanjutkan perjanjian tersebut, hingga terjadi penyerangan kapal Velzen milik VOC yang didukung Sapati Kesultanan yang menentang perjanjian.

Penyerangan kapal dagang VOC yang terdampar di salah satu wilayah Kadie (wilayah kecil kesultanan dibawah perintah kesultanan Buton) di pulau Wawoni menimbulakan kesalahpahaman dan perpecahan yang berakhir dengan peperangan. Catatan Schoorl sangat jelas menggambarkan hubungan Kesultanan Buton dan VOC yang pasang surut dan berakhir dengan perang yang sangat dahsyat.

Baca juga: Perang Makassar dan Kerugian Besar Kesultanan Makassar

Sultan ke-5, Sultan La Balawo (1617-1632) juga merasakan ancaman invasi dari kerajaan Makassar (Gowa) yang telah menaklukan Selayar, sehingga Sultan berinisiatif untuk meminta bantuan kepada Belanda yang berada di Batavia jikalau nantinya kerajaan Gowa menyerang Buton, mengingat Makassar adalah salah satu kerajaan yang kuat pada masa itu, namun surat tersebut ternyata tidak dihiraukan.
Benteng Keraton Wolio Buton di Kota Baubau. Foto: ekonomi.bisnis.com
Keadaan ini membuat konflik internal dalam Kesultanan Buton muncul, akibat hilangnya kepercayaan petinggi Kesultanan Buton (Sapati) terhadap Belanda, namun sebagian lagi golongan masih mengharapkan bantuan dari Kerajaan Belanda sebagaimana keyakinan mereka terhadap perjanjian persekutuan abadi yang telah di ikrarkan oleh Sultan terdahulu.

Schloor juga menjelaskan bagaimana Penyerangan di bawah pimpinan Sapati yang mendukung penyerangan menghancurkan kapal-kapal VOC yang terkandas di pulau Wawonii dan melakukan pembantaian awak sebuah Fluyt VOC, Velzen, serta pembunuhan, penawanan dan penyiksaan terhadap kaki tangan sebuah kapal dagang peribadi Belanda yang singgah di Bau-Bau.

Baca juga: Bermaksud Mempertahankan Diri, 2 Kerajaan Ini Malah Dicap Sebagai Pengkhianat

Meskipun Sultan menempatkan isteri nakhoda kapal partikulir Belanda yang ikut ditahan, Elsje Janszoon, itu di rumah isterinya sendiri dengan diberi layanan dengan baik, di mana ia menginap sebagai tamu dan selalu diperlakukan dengan baik, namun tidak menyurutkan keinginan Belanda untuk membumi hanguskan Kesultanan Buton, untuk memberi pelajaran atas kekejian yang menurut mereka dilakukan atas perintah Sultan Buton.

Penyerangan pertama Belanda dilakukan pada akhir tahun 1637 di lanjutkan penyerangan kedua tahun 1638 dengan jumlah armada dan persenjataan yang lebih besar. Serangan armada VOC terjadi pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-6 Sultan La Buke (1632-1645).

Pertempuran tersebut sangat dahsyat dan menimbulkan banyak korban dari kedua belah pihak. Meskipun banyaknya korban yang berjatuhan dari pihak Buton, sampai pertempuran berakhir, armada Belanda tidak berhasil menjatuhkan dan merebut benteng keraton Wolio dimana merupakan pusat Kasultanan Buton.