Ajatappareng: Konfederasi Antara Lima Kerajaan di Sulawesi Selatan | Attoriolong

Ajatappareng: Konfederasi Antara Lima Kerajaan di Sulawesi Selatan

Penulis: -
Ajatappareng: Konfederasi Antara Lima Kerajaan di Sulawesi Selatan
Konfederasi adalah bentuk perserikatan/persekutuan antara negara atau kerajaan merdeka berdasarkan perjanjian atau undang-undang misalnya yang menyangkut berbagai kebijakan bersama.

Bentuk konfederasi tidak diakui sebagai negara berdaulat tersendiri, karena masing-masing negara atau kerajaan yang membentuk konfederasi tetap memiliki kedudukan sebagai wilayah berdaulat. Di Sulawesi sendiri terdapat beberapa konfederasi yang pernah terjalin antara beberapa kerajaan lokal.

Salah satu contohnya adalah Konfederasi Tellumpoccoe antara tiga kerajaan Bugis, yaitu Bone, Soppeng, dan Wajo. Selain itu ada pula konfederasi yang menarik dibahas di mana anggotanya terdiri dari lima kerajaan kecil-kecil. Konfederasi itu adalah Konfederasi Limae Ajatappareng.

Ajatappareng adalah sebuah kawasan di bagian barat Sulawesi Selatan yang meliputi bekas wilayah historis dari persekutuan lima kerajaan kecil, yaitu Sidenreng, Suppa, Rappang, Sawitto, dan Alitta. Ajatappareng menjadi kekuatan yang berpengaruh di Sulawesi Selatan hingga kemundurannya pada abad ke-17.

Baca juga: Tellumpoccoe: Persekutuan Antara Tiga Kerajaan Bugis di Sulawesi

Bekas konfederasi ini kini menjadi bagian dari beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Jangkauan geografis wilayah Ajatappareng di masa modern sekarang meliputi empat kabupaten dan satu kotamadya.

Adapun wilayah-wilayah itu diantaranya, Sawitto, Suppa dan Alitta kini menjadi bagian dari Kabupaten Pinrang. Sidenreng dan Rappang membentuk Kabupaten Sidenreng Rappang atau Sidrap. Kecamatan Maiwa di Kabupaten Enrekang. Kota Parepare, serta Kecamatan Mallusetasi di Kabupaten Barru.

Makna Ajatappareng berasal dari Bahasa Bugis, yaitu kata aja atau riaja yang berarti barat, dan kata tappareng yang berarti danau, jadi Ajatappareng memiliki arti sebagai negeri yang berada di sebelah barat danau. Danau yang dimaksud adalah Danau Tempe dan Danau Sidenreng di bagian tengah Sulawesi Selatan.

Ajatappareng memiliki bentang alam yang beragam, mulai dari perbukitan di utara hingga dataran hijau yang subur di bagian tengah dan selatan. Wilayah ini juga dialiri oleh berbagai sungai yang memberikan air untuk irigasi pertanian padi lahan basah. Keadaan alam yang menguntungkan ini menjadikan Ajatappareng salah satu penghasil beras utama di Sulawesi Selatan.

Baca juga: Asal Usul Nama serta Sejarah Kemunculan Kerajaan Sidenreng dan Rappang

Seorang penjelajah Portugis yang mengunjungi Sidenreng pada tahun 1540-an menyebutkan bahwa negeri tersebut kaya akan beras dan hasil tani lainnya. Sejak abad ke-13, masyarakat Sulawesi Selatan mulai mengelompok menjadi wanua atau negeri-negeri kecil yang berbasiskan pertanian intensif, termasuk di wilayah Ajatappareng.

Menurut catatan berupa kronik yang disebut lontara, negeri Sidenreng dan Rappang didirikan tidak lama setelah Kerajaan Bone berdiri pada sekitar tahun 1300-an. Kedua kerajaan ini pada dasarnya merupakan negara agraris yang berbasis pada pertanian padi.

Sementara itu, Suppa yang berada di wilayah pesisir menggantungkan ekonominya pada perdagangan. Pertumbuhan awal kerajaan ini dibuktikan dengan temuan arkeologis berupa temuan pecahan keramik, yang sebagian besarnya diperkirakan berasal dari dinasti Ming pada abad ke-15 dan ke-16.

Penaklukan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511 menyebabkan beralihnya sebagian besar pedagang, terutama pedagang Muslim, ke bandar-bandar baru yang bebas dari pengaruh Eropa. Termasuk di antaranya bandar-bandar di bagian barat jazirah Sulawesi Selatan, seperti Siang, Tallo, Somba Opu, dan Suppa.
Peta kuno yang memperlihatkan wilayah Ajatappareng yang berada di dekat Danau Tempe dan Danau Sidenreng. Foto: nederlandsekrijgsmacht.nl
Sebagai pusat niaga, Suppa merupakan salah satu pemain kunci di Ajatappareng, dan mungkin juga merupakan pemrakarsa persekutuan antarkerajaan di wilayah tersebut. Persekutuan lima kerajaan ini diperkirakan dibentuk pada abad ke-16 sebagai respons terhadap meningkatnya pengaruh Kerajaan Gowa-Tallo di selatan dan Persekutuan Tellumpoccoe di timur antara Kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng.

Baca juga: Tumanurung Bainea dan Berdirinya Kerajaan Gowa

Menurut sumber lisan, konfederasi ini dipelopori oleh datu Suppa ketujuh, La Pancaitana, yang sekaligus merupakan penguasa Sawitto dan Rappang. Namun sumber lain menyebut bahwa penguasa Suppa yang menjadi pelopor persekutuan adalah datu keempat La Makkarawi, versi lain menyebutkan La Makaraie, bersama-sama dengan La Paleteang dari Sawitto, La Patteddungi dari Sidenreng, serta La Pakallongi dari Rappang yang merangkap sebagai wakil Alitta.

Konfederasi ini didirikan pada saat yang sama dengan pembentukan persekutuan Tellumpoccoe, beberapa sumber menyebut tahun 1523, 1540, hingga 1582 sebagai tahun pembentukan konfederasi. Konfederasi ini dikenal dengan nama Limae Ajatappareng (Lima Ajatappareng, atau lima negeri yang berada di sebelah barat danau), dicirikan dalam ikrar pembentukan sebagai "satu rumah lima kamarnya," yang ditafsirkan sebagai satu bangsa dengan lima anggota konfederasi.

Ajatappareng berkembang menjadi kekuatan politik yang berpengaruh besar di Sulawesi, menggunakan kekuatan maritimnya untuk menyokong Suppa sebagai bandar niaga utama. Sumber-sumber lontara menyebutkan bahwa Suppa dan Sawitto pernah menundukkan, atau setidaknya menyerang, wilayah Leworeng, Lemo-Lemo, Bulu Kapa, Bonto-Bonto, Bantaeng, Segeri, Passokreng, Baroko, Toraja, Mamuju, Kaili, Kali dan Toli-Toli.

Kebangkitan Gowa pada pertengahan abad ke-16 menggoyahkan pengaruh Suppa dan Sawitto di pesisir barat Sulawesi. Kronik Gowa mencatat bahwa penguasa Gowa Tunipalangga Ulaweng (memerintah 1546-1565) pernah menyerbu Suppa, Sawitto, dan Alitta serta menawan para bangsawannya.

Baca juga: Rumpa'na Agangnionjo: Perang Antara Kerajaan Tanete dan Sawitto

Sejarawan Stephen C. Druce menyebut bahwa penyerbuan ini mengakhiri persaingan kekuasaan di pesisir barat Sulawesi Selatan, serta mengukuhkan posisi Gowa sebagai kekuatan utama di kawasan tersebut.

Walaupun Sidenreng dan Rappang sempat bersekutu dengan Gowa demi mempertahankan kedaulatan mereka, pengaruh keduanya semakin memudar, dan pada tahun 1609, seluruh wilayah Ajatappareng telah ditaklukkan oleh Gowa.

Pengaruh bandar-bandar di wilayah Ajatappareng semakin melemah setelah jatuhnya Makassar ke tangan VOC, diikuti dengan penerapan monopoli dagang seiring berlakunya Perjanjian Bungaya.

Suppa dan Sawitto, yang pada saat itu telah menjadi vasal dari Gowa-Tallo, terpaksa mengikuti perjanjian dan mengalihkan segala bentuk perdagangan ke bandar Makassar yang dikuasai VOC. Bukti-bukti arkeologis juga menunjukkan berkurangnya jumlah keramik di wilayah Ajatappareng sejak akhir abad ke-17.