Andi Azis dan Pemberontakan Tanpa Korban Jiwa

Penulis: -
Andi Azis dan Pemberontakan Tanpa Korban Jiwa
Andi Abdoel Azis, ia terlahir dari pasangan Andi Djuanna Daeng Maliungan dan Becce Pesse 19 September 1924 di Sumpangbinangae, Barru. Anak tertua dari 11 bersaudara. Ia menyandang gelar pemberontak akibat perjuangannya untuk mempertahankan existensi Negara Indonesia Timur (NIT).

Andi Azis mengambil alih kekuasaan militer di Makassar pada 5 April 1950 ketika umurnya baru 24 tahun. Ia adalah korban politik divide et impera (adu domba) Belanda, di pengadilan militer ia mengakui menyesal bahwa ia buta politik.

Sejak umur 10 tahun, Andi Azis sudah dikirim oleh orang tuanya ke negeri Belanda untuk sekolah dan menyelesaikan sekolah lanjutannya di sana. Nmun pada tahun 1939-1940 pecah Perang Dunia ke 2. Belanda kena getahnya akibat serangan oleh Jerman.

Baca juga: Orang Barru yang Terseret ke Dalam Perang Dunia II di Eropa

Andi Azis bersama dengan rekan rekan sekolahnya turut ikut berjuang bergerak di bawah tanah melawan Jerman. Pada saat itu kedudukan Andi Aizis cukup terdesak sehingga ia memutuskan untuk lari ke Inggris. Karena Inggris adalah sekutu Belanda maka hal ini sangat mempermudah ruang geraknya.

Di sana ia di didik oleh Inggris di akademi militer. Ia adalah kawan sebangku Jendral Moshe Dayan mantan Menteri Pertahanan Israel dan juga Raja Hussein dari Yordania. Ia tamat pendidikan para-militer payung pada tahun 1943 dengan pangkat Letnan muda dan bertugas di Inggris.
Andi Azis
Andi Azis. Foto: Kel. Besar Andi Djuanna Daeng Maliungan (Facebook).
Pada akhir tahun 1943 ia meminta kepada Inggris untuk diterjunkan di Belanda dan membantu melawan Jerman. Niat sebetulnya adalah untuk mengunjungi Ayah angkatnya yang berada Belanda waktu itu, yang mana adalah juga seorang pejabat tinggi Belanda di Parepare, Sulawesi Selatan.

Pada tahun 1944 ia kembali ke Inggris setelah sempat membantu Belanda melawan Jerman. Sebagai tentara Inggris ia di kirim ke Calcutta, India yang mana adalah salah satu Negara jajahan Inggris. Di sana ia mengikuti latihan perang di dalam hutan, setelah 3 bulan mengikuti latihan perang gerilya ia kemudian dikirim oleh Inggris ke Singapura pada tahun 1945 untuk melawan Jepang.

Baca juga: Sistem Pendidikan di Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang

Belum sempat melawan Jepang ternyata Negara matahari terbit itu sudah bertekuk lutut pada 15 Agustus 1945. Selama di Singapura itulah ia mendengar nama Soekarno dan Hatta yang mana keduanya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Nama Indonesia belum pernah di dengar oleh Andi Azis sebelumnya. Sejak saat itulah timbul rasa kerinduannya untuk kembali ke tanah air Sulawesi Selatan.

Kepada komandannya di Singapura ia mengajukan permohonan pengunduran dirinya dari dinas militer Inggris. Tetapi keinginannya tersebut ditolak oleh komandannya dan ia diharuskan untuk menghadap langsung kepada petinggi petinggi angkatan perang Inggris di London mengenai pengunduran dirinya.

Di Singapura ia sempat dipertemukan dengan Panglima Belanda oleh sahabat sahabatnya tentara Belanda. Kerinduan akan kampung halamannya membuat ia berdusta dan mengaku kepada Panglima Belanda di Singapura bahwa ia telah keluar dari angkatan perang Inggris.

Ia mengajukan keinginannya untuk bergabung di militer Belanda, maklumlah karena sistem kemiliteran pada waktu itu masih kurang ketat terlebih karena keadaan perang maka Belanda tidak mengecek ke absahan pengakuannya dan ia diterima kembali aktif di angkatan perang Belanda atau KNIL.
Andi Azis dan Pemberontakan Tanpa Korban Jiwa
Andi Azis sedang memeriksa pasukannya sewaktu mengganti tanda pengenal dan pangkat KNIL menjadi tanda pengenal dan pangkat APRIS. Foto: Kel. Besar Andi Djuanna Daeng Maliungan (Facebook).
Tetapi setelah Andi Azis di terjunkan di Plaju, Sumatera Selatan ia melarikan diri dan masuk kembali ke Singapura secara diam-diam untuk menumpang kapal laut menuju ke Makassar. Pada tahun 1946 ia tiba di Makassar dan menyamar sebagai terntara Inggris.

Sebetulnya tentara Inggris (NICA) sedang mencari-cari keberadaan Andi Aziz yang desersi tersebut untuk diadili di pengadilan militer. Tetapi kembali mengingat keadaan yang simpang siur dan kacau maka NICA tidak berhasil membawa Andi Aziz untuk diadili.

Baca juga: Perjuangan Abdul Karim di Barru Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Pada tahun yang sama Andi Azis diterima bekerja di kepolisian atas dasar pendidikan militer dan pengalaman perang gerilyanya yang bagus. Ketika Negara Indonesia Timur di bentuk ia di angkat sebagai adjudan Presiden Sukawati dan pangkatnya di kembalikan menjadi Letnan Dua KNIL.

Pada tahun 1947 ia dikirim ke Bandung untuk menjadi instruktur pendidikan militer disana dan kembali ke Makassar pada tahun 1948. Sekembalinya di Makassar ia di angkat menjadi Komandan Divisi 7 Desember, anak buahnya adalah asli orang Belanda.

Menjelang penyerahan kedaulatan pada tahun 1949 ia dipercayai untuk membentuk satu kompi pasukan KNIL dan memilih langsung anak buahnya yang mana berasal dari Toraja, Sunda dan Ambon. Kompi inilah yang kemudian di resmikan oleh Panglima Teritorial Indonesia Timur, Letnan Kolonel Akhmad Junus Mokoginta dan dilebur menjadi bagian dari APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat).
Andi Azis dan Pemberontakan Tanpa Korban Jiwa
Andi Azis bersama Sukowati mempersiapkan peleburan dari KNIL ke APRIS. Foto: Kel. Besar Andi Djuanna Daeng Maliungan (Facebook).
Pada tanggal 5 April 1950 kompi ini jugalah yang diandalkan Andi Azis untuk melakukan pemberontakan. Sebetulnya pemberontakan Kapten Andi Azis adalah dikarenakan hasutan Dr. Soumokil, Menteri Kehakiman Indonesia Timur. Tokoh ini jugalah yang memprakarsai adanya pemberontakan Republik Maluku Selatan.

Kapten Andi Azis mempunyai pertimbangan lain. Ia khawatir akan tindakan membabi buta dari Dr. Soumokil yang dapat mengakibatkan pertumpahan darah di antara saudara sebangsa. Atas dasar pertimbangan untuk menghindari pertumpahan darah tersebutlah ia bersedia memimpin pemberontakan.

Baca juga: Kapal Induk Angkatan Laut Amerika yang Diberi Nama 'Selat Makassar'

Andi Azis merasa sanggup memimpin anak buahnya tanpa harus merenggut korban jiwa. Ternyata memang pemberontakan yang di pimpin olehnya berjalan sesuai dengan lancar dan tanpa merenggut korban jiwa. Hanya dalam waktu kurang lebih 30 menit semua perwira Tentara Nasional Indonesia dapat ia tahan dan Makassar dikuasainya.

Atas tindakannya tersebut Presiden Soekarno memberikan ultimatum kepada Andi Azis untuk menyerahkan diri dalam tempo 24 jam, kemudian diperpanjang lagi menjadi 3 x 24 jam. Panggilan tersebut tidak dipenuhinya karena waktu itu Andi Azis menganggap keadaan atau situasi di kota Makassar masih belum stabil sebap masih ada pergerakan di sana-sini di dalam kota Makassar.

Setelah ia merasa Makassar telah aman maka semua tawanannya termasuk Letnan Kolonel Akhmad Junus Mokoginta dilepaskannya. Pada akhir tahun 1950 ia di undang kembali oleh Presiden Soekarno untuk datang menghadap di Jakarta. Ia ditemani oleh pamannya yaitu Andi Patoppoi, lalu seorang Menteri Dalam Negeri Negara Indonesia Timur yaitu Anak Agung Gde Agung serta seorang wakil dari Komisi Tiga Negara.
Andi Azis dan Pemberontakan Tanpa Korban Jiwa
Andi Azis yang dikawal saat akan mengikuti persidangan. Foto: Kel. Besar Andi Djuanna Daeng Maliungan (Facebook).
Ternyata undangan tersebut hanyalah jebakan Presiden Soekarno, sesampainya di bandar udara kemayoran ia langsung ditangkap oleh Polisi Militer untuk di bawa ke pengadilan. Ia kemudian di tahan dan di adili di pengadilan Wirogunan Yogyakarta. Oleh pengadilan ia dijatuhi hukuman penjara 14 tahun, tetapi hanya delapan tahun saja yang ia jalani.

Baca juga: Peranan Letkol M. Saleh Lahade pada Pemberontakan Permesta

Tahun 1958 ia di bebaskan tetapi tidak pernah kembali ke Sulawesi Selatan sampai masa orde baru. Sekitar tahun 1970-an ia kembali ke Sulawesi Selatan sebanyak 4 kali dan terakhir pada tahun 1983. Andi Azis pernah beberapa kali diminta aktif kembali ke dinas militer TNI oleh Presiden Soekarno dan diminta untuk membentuk pasukan pengaman Presiden yaitu Cakrabirawa.

Tetapi atas nasehat orang tua dan juga saudara-saudaranya maka ia menolak ajakan Presiden Soekarno tersebut. Pihak keluarga merasa bahwa Andi Azis adalah seoarang buta politik yang sudah cukup merasakan akibatnya. Pihak keluarga tidak menginginkan hal tersebut terjadi untuk kedua kalinya.
Persidangan Andi Azis
Jaksa Mayor Imam S.H menjatuhkan hukuman 16 tahun penjara kepada Andi Azis. Foto: Kel. Besar Andi Djuanna Daeng Maliungan (Facebook).
Beryuskur karena Andi Azis menolak ajakan tersebut, ternyata pasukan Cakrabirawa ini jugalah yang di kemudian harinya terlibat membantu pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia. Semenjak keluar dari tahanan ia terjun ke dunia bisnis dan bergabung bersama Soedarpo Sastrosatomo di perusahaan pelayaran Samudra Indonesia hingga akhir khayatnya.

Andi Abdoel Azis meninggal pada 30 Januari 1984 di Rumah Sakit Husada Jakarta akibat serangan jantung pada umur 61 tahun. Ia meninggalkan seorang Istri dan tidak ada anak kandung. Jenasahnya diterbangkan dan dimakamkan di pemakaman keluarga Andi Djuanna Daeng Maliungan di desa Tuwung kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Baca juga: Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi dan Konferensi Paccekke

Turut hadir sewaktu melayat di rumah duka yaitu mantan Presiden RI, BJ. Habibie beserta Istri, Mantan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno dan perwira perwira TNI lainnya.
Pengadilan Andi Azis
Andi Azis membacakan pleidooinya. Foto: Kel. Besar Andi Djuanna Daeng Maliungan (Facebook).
Kapten Andi Aziz adalah seorang pemberontak yang tidak pernah membunuh dan menyakiti orang. Ia adalah korban kambing hitamnya Belanda karena kebutaannya mengenai dunia politik. Ia adalah seorang militer sejati yang mencoba untuk mempertahankan Negara Indonesia Timur yang menurutnya adalah telah melalui kesepakatan dengan Republik Indonesia Serikat.

Dalam kesehariannya Andi Aziz cukup dipandang oleh masyarakat suku Bugis Makassar yang bermukim di Tanjung Priok, Jakarta dimana ia dulu menetap. Disana ia diakui sebagai salah satu sesepuh suku Bugis dan Makassar yang mana selalui dimintai nasehat-nasehat, dan pikiran-pikirannya untuk kelangsungan kerukunan suku Bugis dan Makassar.

Penulis: Andi M. Irvan Z. Berdasarkan ringkasan tulisan Fahmy Myala pada harian surat kabar KOMPAS, halaman pertama, hari Kamis, tanggal 2 Februari 1984.
Sumber: facebook.com/notes/501890918459/