Biografi dan Pemikiran Andi Djuanna Daeng Maliungan Sullewatang Barru

Penulis: -
Biografi dan Pemikiran Andi Djuanna Daeng Maliungan Sullewatang Barru
Membaca sebuah biografi seorang tokoh memang sangat perlu, terlebih lagi apa bila tokoh tersebut memiliki pemikiran-pemikiran yang baik untuk kita jadilan pelajaran hidup. Sangat banyak sekali biografi tokoh yang bisa kita ikuti, yang berkecimpung di berbagai bidang, baik itu tokoh yang dikenal secara nasional maupun tokoh yang hanya dikenal di daerah.

Sementara itu, untuk di daerah Barru sendiri ada banyak tokoh yang bisa kita ikuti kisah hidupnya, salah satunya yaitu Andi Djuanna Daeng Maliungan yang merupakan bangsawan sekaligus pejabat pemerintah di Kerajaan Berru.

Andi Djuanna Daeng Maliungan Petta Sulewatang Barru terlahir dari pasangan Andi Mattanio Arung Tuwung dan Andi Mamieng. Beliau memiliki saudara kandung perempuan yang bernama Andi Kumi. Ia merupakan salah seorang bangsawan di Kerajaan Berru dan memegang jabatan sebagai Sullewatang Barru (yang menggantikan raja memerintah ketika raja sedang keluar).

Baca juga: Tanete-Barru Pada Masa Pemerintahan Andi Baso Paddippung

Tidak seperti Ayahandanya Arung Tuwung yang selalu melawan Belanda bersama saudaranya La Koro Petta Bau yang bergelar Gajang Ritappi’na Sombaya Gowa hingga mereka berdua diasingkan selama beberapa tahun di Bengkulu.
Andi Djuanna bersama isteri
Andi Djuanna bersama isteri. Foto: Kel. Besar Andi Djuanna Daeng Maliungan (Facebook).
Melihat dari silisilah Lontara Pangurisseng, Andi Djuanna adalah keturunan dari Datu Tanete La Patau Baso Cempa melalui anaknya La Tumanggung Petta Addiangeng Arung Mong Petta Sulewatang Mario ri Wawo Petta LaoE ri Bakahulu dan dari garis keturunan leluhurnya yaitu Raja-raja Luwu, Bone, dan sedikit Gowa.

Sosok Andi Djuanna dikenal sebagai seorang pemimpin yang sangat bersahaja dan mencintai rakyatnya. Hubungan sosial yang begitu merakyat ditunjukkan oleh beliau manakala ada rakyatnya yang ingin meminta sesuatu maka segera beliau akan mengusahakannya.

Baca juga: Swapraja Tanete-Barru Pada Masa Pemerintahan Andi Iskandar Unru

Pernah suatu waktu diceritakan bahwa ada seseorang yang memuji arlojinya dan langsung beliau memberikan kepada orang tersebut tanpa berpikir panjang. Cerita ini hanyalah sebagian dari banyak cerita yang memuji kebaikan beliau.

Pada masa pemerintahan Jepang masuk di Sulawesi pada tahun 1941, beliau pernah ditahan oleh Jepang. Hal ini dikarenakan kecurigaan Jepang kepada beliau. Hubungan dekatnya dengan Belanda atau Tuan Petor membuatnya dicurigai sebagai mata-mata Belanda sehingga beliau ditahan dan dipenjarakan di Pangkajene kemudian dipindahkan ke penjara Makassar namun akhirnya dibebaskan.
Masjid Andi Djuanna
Masjid Andi Djuanna. Foto: nurislah.com
Pada zaman itu tidak banyak Raja ataupun bangsawan yang memiliki pikiran jauh kedepan dan mementingkan pendidikan anak-anaknya. Andi Djuanna berpendapat bahwa sudah bukan waktunya kita berperang melawan Belanda dengan mengangkat senjata karena sudah tentu kita akan kalah.

Terutama Belanda menggunakan senjata-senjata modern seperti pistol atau senapan manakala tentara kita hanya menggunakan tombak, keris, dan kelewang saja. Jalan pikirannya adalah, jika kita tidak mau dijajah maka kita harus cerdas dan memiliki otak seperti Belanda agar kita bisa seperti mereka.

Baca juga: Andi Azis dan Pemberontakan Tanpa Korban Jiwa

Tekadnya menyekolahkan sebagian besar anak-anaknya keluar negeri ternyata bukan hayalan semata. Hasil usaha beliau tidak sia-sia dan terbukti sebagian besar anak-anaknya berhasil dalam kehidupannya masing-masing dan sedikit besar turut membangun kampung halamannya di Barru sesuai amanah dari beliau.

Salah satu putranya yang disekolahkan ke luar negeri yaitu Andi Abdul Azis Djuanna atau lebih di kenal sebagai Capt. Andi Azis yang disekolahkan di Belanda. Namun saat bertugas di Indonesia, ia terlibat kasus pemberontakan di Makassar pada tanggal 5 April 1950, yang dikenal sebagai Peristiwa Pemberontakan Andi Azis.

Andi Djuanna Daeng Maliungan Petta Sullewatang Barru wafat pada hari Jumat, 19 April 1985. Beliau dimakamkan di pekuburan keluarga di Desa Tuwung, Kabupaten Barru.

Tulisan ini dibuat berdasarkan catatan Andi M. Irvan Zulfikar.
Sumber: facebook.com/notes/kel-besar-andi-djuanna-daeng-maliungan/biography-andi-djuanna-daeng-maliungan/299837603459