Black Death: Wabah Pes yang Hampir Memusnahkan Eropa

Penulis: -
Black Death: Wabah Pes yang Hampir Memusnahkan Eropa
Selama ribuan tahun, tidak ada penyakit epidemi. Namun, ketika orang-orang mulai tinggal di kota, bermunculanlah penyakit epidemi yang infeksinya bisa menyebar dengan lebih mudah. Ketika pedagang dan tentara melakukan perjalanan dari kota ke kota, mereka membawa bakteri dan virus bersama mereka dan menyebarkan infeksi ke populasi baru.

Pada abad pertengahan, salah satu wabah yang paling mematikan dan menyebar luas di dunia, terutama di Eropa adalah wabah Pes. Pes atau sampar adalah penyakit menular pada manusia yang disebabkan oleh enterobakteria Yersinia pestis. Penyakit pes disebarkan oleh hewan pengerat terutama tikus.

Wabah penyakit ini banyak terjadi dalam sejarah, dan telah menimbulkan korban jiwa yang besar. Kasus yang paling dramatis adalah Maut Hitam. Maut Hitam, disebut juga Wabah Hitam atau Black Death, adalah suatu pandemi hebat yang disebabkan oleh wabah Pes, pertama kali melanda Eropa pada abad pertengahan hingga akhir abad ke-14 dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa.

Nama Maut Hitam atau Black Death umumnya dianggap berasal dari gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini, di mana kulit penderita menjadi menghitam karena pendarahan subdermal. Catatan sejarah telah membuat sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa Black Death disebabkan oleh wabah bakteri Yersinia pestis, disebarkan melalui lalat dan kutu dengan bantuan hewan seperti tikus rumah.

Baca juga: Heeren Zeventien, Pemilik Kekuasaan Tertinggi Dalam VOC

Terdapat beberapa teori mengenai asal dari wabah ini. Salah satu teori yang paling tua adalah bahwa Black Death berasal dari dataran stepa di Asia tengah. Dari daerah ini, menyebar menuju Eropa melalui Jalur Sutra dibawa oleh tentara dan pedagang Mongol.

Wabah ini menyebar di Asia dan merebak di Provinsi Hubei, Cina pada tahun 1334. Black Death di Eropa pertama kali dilaporkan berada di Kota Caffa yang berada di Krimea, Eropa Timur, pada tahun 1347.

Antara tahun 1346 dan 1350 lebih dari sepertiga penduduk Eropa tewas oleh wabah Black Death. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi pula epidemi pada sebagian besar Asia dan Timur Tengah, yang menunjukkan bahwa peristiwa di Eropa sebenarnya merupakan bagian dari pandemi multiregional. Jika termasuk Timur Tengah, India, dan Tiongkok, Black Death telah merenggut sedikitnya 75 juta nyawa.
Lukisan mayat akibat wabah Pes di Napoli pada tahun 1656
Lukisan yang dibuat oleh Micco Spadaro, menggambarkan masyarakat yang mengumpulkan mayat akibat wabah Pes di Napoli pada tahun 1656. Foto: commons.wikimedia.org
Penyakit ini terus menyebar di Eropa hingga dasawarsa 1700-an. Beberapa wabah yang muncul kemudian antara lain Wabah Italia (1629-1631), Wabah Besar London (1665-1666), Wabah Besar Wina (1679), Wabah Besar Marseille (1720-1722), serta wabah pada tahun 1771 di Moskwa. Penyakit ini berhasil dimusnahkan di Eropa pada awal abad ke-19, tetapi masih berlanjut di Afrika Tengah, Madagaskar, Asia, dan beberapa bagian di Amerika Selatan.

Black Death menimbulkan penurunan drastis terhadap populasi serta mengubah struktur sosial Eropa. Karena para dokter pada abad ke-14 belum memiliki pengetahuan untuk menjelaskan mengenai penyebabnya, maka masyarakat Eropa mulai menghubung-hubungkan peristiwa penyebaran wabah ini dengan berbagai macam mitos yang tidak ada hubungannya dengan ilmu kedokteran.

Baca juga: Siapa Orang Pertama yang Berhasil Mengelilingi Dunia?

Pemerintah di Eropa tidak dapat menyelesaikan masalah karena mereka tidak tahu mengenai penyebab dan cara menghentikan penyebarannya. Mekanisme penyebaran wabah pada abad ke-14 tidak dimengerti oleh orang pada saat itu. Banyak orang kemudian menyalahkan bahwa ini adalah kemarahan Tuhan.

Bahkan beberapa orang Eropa beranggapan bahwa munculnya wabah Black Death meruakan pertanda kesialan atau kutukan yang dibawa oleh kelompok tertentu seperti orang Yahudi, biarawan, orang asing, pengemis, pendatang dan peziarah.
Masker burung yang digunakan oleh dokter untuk mengatasi wabah pada abad pertengahan di Eropa
Masker burung yang digunakan oleh dokter untuk mengatasi wabah pada abad pertengahan di Eropa. Kok terlihat serem ya... Foto: News.okezone.com
Mereka mengira dengan menyerang atau menganiaya kelompok itu akan membantu mengatasi masalah wabah. Sementara orang-orang yang memiliki kelainan kulit seperti pengidap penyakit kusta atau yang memiliki jerawat yang parah biasanya akan dikucilkan.

Wabah ini juga menyebabkan masyarakat kehilangan sikap kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya. Masing-masing warga menghindari warga yang lain, hampir tidak ada tetangga yang mau saling membantu, bahkan orang yang bersaudara tidak pernah menghubungi atau mengunjungi saudaranya satu sama lain.

Baca juga: Gempa Bumi Paling Mematikan yang Pernah Tercatat

Wabah penyakit ini lebih buruk dan luar biasa hingga menyebabkan ayah dan ibu menolak untuk menjenguk anak-anak mereka yang terjangkit wabah. Banyak orang yang terjangkit dibiarkan tanpa perawatan apapun. Meskipun banyak yang mencoba membayar dengan bayaran tinggi, tetapi tidak ada orang yang berani menerima tawaran itu.

Nasib yang sangat menyedihkan menimpa kalangan kelas bawah dan sebagian besar kelas menengah. Ribuan orang jatuh sakit, kebanyakan dari mereka tetap tinggal di rumah, hidup dengan kemiskinan dan berharap bisa selamat. Mereka tidak mendapatkan perawatan dan perhatian, hampir semua penderita wabah penyakit meninggal.

Banyak yang meninggal di dalam rumah-rumah mereka dan baru diketahui setelah tetangganya mencium bau mayat membusuk. Mereka yang lebih peduli tergerak untuk menyingkirkan mayat-mayat yang membusuk. Mereka membawa mayat yang terkena wabah penyakit keluar dari rumah dan meletakkannya di depan pintu.

Angka kematian begitu tinggi, sehingga dibuatkan upacara penguburan. Juru panggil akan berjalan di jalanan sambil membunyikan lonceng sebagai tanda bagi penduduk untuk mengeluarkan orang-orang mati supaya dapat dikuburkan.